Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Benteng Engelenburg sudah lenyap, tapi perannya untuk hari jadi Klaten akan selalu diingat

Naufal Saad oleh Naufal Saad
28 Juli 2026
A A
Benteng Engelenburg sudah lenyap, tapi jasanya menandai hari jadi Klaten pada 28 Juli akan selalu diingat Mojok.co

Benteng Engelenburg sudah lenyap, tapi jasanya menandai hari jadi Klaten pada 28 Juli akan selalu diingat (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Hari ini, 28 Juli 2026, Kabupaten Klaten merayakan hari jadi ke-222. Banyak orang, termasuk warga lokal, mungkin belum tahu asal-usul tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Klaten. Termasuk peran penting Benteng Engelenburg dalam penentuan hari jadi ini. 

Di antara kalian mungkin kemdian bertanya-tanya, apa perannya? Di mana benteng itu sekarang? Dan bagaimana kondisinya? 

ADVERTISEMENT

Sayangnya, secara fisik benteng satu ini sudah lenyap. Itu mengapa, sebagai warlok saya merasa perlu kembali “membangun ulang” benteng tersebut.

Sejarah hari jadi Klaten

Klaten merupakan wilayah yang memiliki tinggalan sejarah dan budaya yang sangat beragam. Hal ini dibuktikan dengan adanya artefak berupa monumen atau bangunan yang masih dapat dijumpai hingga kini. Misalnya saja, bangunan candi, prasasti hingga bangunan kolonial seperti pabrik maupun gedung pemerintahan. 

Selayaknya daerah lain di Indonesia, setiap daerah ingin menggali sejarahnya masing-masing untuk dasar menetapkan hari jadi. Banyak daerah berlomba-lomba mencari bukti eksistensi dari zaman yang paling “tua” untuk menunjukkan kebanggaan atas kejayaan masa lalu sebagai identitasnya. 

Melihat kembali ke belakang, Pemerintah Daerah Klaten pernah merayakan hari jadi pada tanggal 28 Oktober. Hal ini didasari atas pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRDS) yang dilantik pada 28 Oktober 1950.

Saat itu, perayaannya disebut sebagai “Hari Ulang Tahun Pemerintah Daerah Klaten”. Akan tetapi, hal itu selalu menjadi kontroversi karena alasan Klaten sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka.

Oleh sebab itu, pada akhir 1990-an muncul usulan agar dilaksanakan penelitian tentang Hari Jadi Kabupaten Klaten yang sesungguhnya.

Baca Juga:

Alasan Desa Karanganom Layak Jadi Tempat Tinggal Paling Ideal di Klaten

Coffee Shop Skena di Klaten Part 2: Pemain Baru, tapi Kualitas Kopinya Boleh Diadu

Penelitian untuk menentukan hari jadi Klaten

Penelitian tentang Hari Jadi Kabupaten Klaten baru terlaksana pada tahun 2005. Para ahli sejarah dilibatkan untuk mencari bukti sejarah mengenai eksistensi Klaten sebagai sebuah wilayah.

Hasil dari penelitian tersebut mendapatkan bukti paling awal penyebutan nama Klaten pada zaman kolonial Belanda. Tepatnya pada 28 Juli 1804 dalam peristiwa peletakan batu pertama pembangunan sebuah benteng di desa Klaten.

Atas rekomendasi penelitian tersebut, maka pada tahun 2007, Hari Jadi Kabupaten Klaten ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 Tahun 2007. Dalam peraturan tersebut, tanggal 28 Juli 1804 dipilih sebagai titik awal Hari Jadi Kabupaten Klaten. 

Alasan utama ditetapkannya tanggal tersebut adalah pendirian benteng di sebuah desa bernama Klaten. Keberadaan benteng tersebut diyakini sebagai awal pembentukan wilayah yang lebih kompleks setingkat pemerintahan sebuah kota.

Mengenal Benteng Engelenburg Klaten 

Benteng yang dibangun di Klaten itu diberi nama Engelenburg. Nama tersebut diambil dari nama seorang Gubernur Pantai Timur Laut Jawa, Nicolaus Engelhard, untuk menghormati jasanya. 

Benteng Engelenburg dibangun untuk mengawasi wilayah perbatasan dua kerajaan besar yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Situasi saat itu, setelah perjanjian Giyanti (1755) yaitu peristiwa Palihan Nagarai di mana Mataram pecah menjadi 2 dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran (1757) masih banyak gesekan-gesekan yang terjadi. 

Gesekan terjadi disebabkan masih adanya tumpang-tindih wilayah antar kedua kerajaan tersebut, khususnya di daerah perbatasan yang masih belum jelas. Klaten dinilai strategis karena berada di tengah antara kedua kerajaan tersebut. 

Maka, atas perintah Nicolaus Engelhard benteng di Klaten segera dibuat. Tepat pada tanggal 28 Juli 1804 peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan benteng tersebut.

Keberadaan Benteng Engelenburg menjadi awal dari munculnya koloni Belanda di daerah ini. Setelah adanya bentang, Kolonial Belanda mulai membangun infrastruktur penunjang lain seperti kantor pemerintahan dan pusat perekonomian. 

Selain itu, benteng ini juga memiliki peran aktif dalam meredam perjuangan rakyat misalnya dalam Perang Diponegoro. Benteng ini dijadikan oleh Belanda sebagai titik awal untuk menumpas perjuangan Pangeran Diponegoro di Yogyakarta. Pada masa Kemerdekaan Indonesia, Benteng Engelenburg juga masih berfungsi. 

Benteng lenyap dibakar

Agresi Militer Belanda II pada 1948-1949 menjadi titik awal runtuhnya Benteng Engelenburg. Kekhawatiran rakyat akan kembalinya Belanda berkuasa, maka muncullah strategi bumi hangus. Strategi bumi hangus yang dilakukan bertujuan agar tempat-tempat strategis tidak lagi dikuasai oleh Belanda. Di Klaten, banyak bangunan yang akhirnya dibakar untuk melemahkan posisi Belanda sehingga tidak bisa menempatinya kembali, salah satunya yaitu Benteng Engelenburg.

Setelah peristiwa tersebut, benteng dibiarkan terbengkalai. Kondisi ini bertahan hingga akhir 1960-an. Lokasi bekas benteng menjadi kumuh karena kawasan tersebut berdekatan dengan pasar serta pada muka benteng dijadikan sebagai terminal angkutan kota. 

Hingga akhirnya, pada Awal tahun 1970-an bekas benteng tersebut dirobohkan sepenuhnya. Bekas lokasi benteng kini menjadi kompleks peribadahan yaitu Masjid Raya Klaten. Masjid ini dibangun mulai tahun 1970 dan akhirnya selesai tahun 1980.

Benteng Engelenburg mungkin tidak akan pernah kembali seperti semula. Walau demikian, sebagai warlok saya optimis benteng tersebut dapat kembali “dibangun” asalkan ada kemauan dari pemerintah dan warga masyarakatnya. 

Membangun kembali Benteng Engelenburg 

Untuk itu ada beberapa hal yang dapat saya usulkan untuk membangun kembali narasi tentang Benteng Engelenburg.

Pertama, membuat sebuah monumen peringatan. Mungkin ini adalah salah satu hal yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten agar masyarakat mengetahui keberadaan benteng tersebut. 

Monumen tidak harus megah dan mewah, cukup dengan tanda yang jelas menerangkan lokasi dan informasi tentang Benteng Engelenburg itu. Monumen tersebut bisa di tempatkan di depan Masjid Raya Klaten, sebagai lokasi asli dari Benteng Engelenburg.

Kedua, mencetak kembali buku penelitian hari jadi Klaten. Buku penelitian tentang hari jadi Kabupaten Klaten yang memuat narasi keberadaan Benteng Engelenburg yang pernah diterbitkan oleh pemerintah perlu untuk dicetak ulang dan disebarluaskan setidaknya ke sekolah-sekolah di Klaten. Dengan demikian, generasi muda dapat memperoleh informasi yang valid dan akurat tentang keberadaan benteng dan sejarah kabupatennya. 

Ketiga, membuat maket Benteng Engelenburg. Maket atau bentuk tiruan tiga dimensi dengan skala yang lebih kecil merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membangun kembali benteng tersebut. 

Pembuatan maket akan memudahkan masyarakat untuk mengetahui bentuk asli Benteng Engelenburg dengan skala yang lebih kecil. Maket dapat diletakkan di tempat-tempat umum yang bisa dikunjungi oleh masyarakat Klaten. Salah satu tempat yang cocok yaitu Museum Daerah Kabupaten Klaten.

Maka dengan demikian, keberadaan Benteng Engelenburg dapat kembali menjadi kebanggan masyarakat Klaten. Jika Jogja punya Vredeburg dan Solo punya Vastenburg, maka Klaten juga punya Engelenburg (meskipun hanya dalam bentuk maket) hehehe.

Penulis: Naufal Sa’ad
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 3 Fakta tentang Kiai Melati, Sosok Penting di Balik Sejarah Kelahiran Kabupaten Klaten.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2026 oleh

Tags: bentengBenteng EngelenburgBenteng Engelenburg KlatenBenteng Klatenklaten
Naufal Saad

Naufal Saad

Seorang mahasiswa sejarah asli Klaten.

ArtikelTerkait

Desa Melikan Klaten, Sentra Penghasil Gerabah Putaran Miring Pertama di Dunia  

Desa Melikan Klaten, Sentra Penghasil Gerabah Putaran Miring Pertama di Dunia

29 Juni 2024
Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Mungil Andalan Warlok Pelaju Solo-Jogja Mojok.co

Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Kecil yang Besar Jasanya bagi Warlok Pelaju Solo-Jogja

13 Juni 2026
Klaten Nggak Melulu Candi Prambanan dan Umbul Ponggok, Ada Desa Kemudo yang Tak Kalah Istimewa! klaten solo jogja

Klaten Nggak Melulu Candi Prambanan dan Umbul Ponggok, Ada Desa Kemudo yang Tak Kalah Istimewa!

11 Mei 2024
Klaten

Klaten, Kota Indah yang (Sialnya) Terjepit Jogja dan Solo

9 November 2021
Menerka Alasan Klaten Nggak Punya Bioskop

3 Lokasi Ziarah Fenomenal di Klaten

21 Juni 2023
Soto Garing Khas Klaten: Ketika Soto Memutuskan Jadi Anti-Mainstream

Soto Garing Khas Klaten: Ketika Soto Memutuskan Jadi Anti-Mainstream

10 Desember 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah Mojok

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah 

21 Juli 2026
Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian Mojok.co

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

25 Juli 2026
Kebodohan pembeli soto ayam yang bikin saya muak dan jijik (Wikimedia Commons)

Akulah pelanggan soto ayam yang marah itu gara-gara konsumen nggak punya hati yang bikin muak, mual, dan jijik

26 Juli 2026
Mustahil Hidup Tentram di Lingkungan Pecinta Sound Horeg Banyuwangi (Pexels) malang

Saya sudah hidup di Malang selama 2 tahun, dan tetap tidak bisa menerima sound horeg

25 Juli 2026
Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide (Unsplash)

Sebagai orang yang pernah tinggal di sana, saya harus jujur kalau Jogja kini menjelma jadi kota besar yang membosankan

23 Juli 2026
Setengah anggaran Perpusnas RI dipangkas, bukti pemerintah memang tidak ingin mencerdaskan rakyat Mojok.co

Setengah anggaran Perpusnas RI dipangkas, bukti pemerintah memang tidak ingin mencerdaskan rakyat

27 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.