Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
27 Juli 2026
A A
Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang banjir di semarang

Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Akar permasalahan banjir di Semarang itu sebenarnya amat rumit, tapi tak bisa dimungkiri, kalau banjir ini juga gara-gara ulah warganya sendiri

Begitu musim hujan datang, celoteh warga Semarang biasanya langsung mendadak kompak. Mengomel soal cuaca ekstrem, mengumpat perkara got mampet, atau menyindir pemerintah kota habis-habisan karena nggak cekatan menanggulangi masalah klise. Padahal, jauh sebelum air bah itu tumpah ke jalanan dan sukses bikin motor mogok massal, ada masalah lebih ruwet yang jadi biang keladinya.

ADVERTISEMENT

Sebagai orang yang tumbuh besar dan menghabiskan sebagian besar hidup di Kota Atlas, saya tahu betul kalau banjir langganan itu cuma puncak gunung es. Banjir di Semarang hanyalah efek samping paling kasat mata dari akumulasi kebijakan yang ngawur, dikawinkan pula dengan tabiat warganya yang sembrono. Sialnya, duo kombo maut ini sudah terlanjur mendarah daging. Pun, dibiarkan beranak-pinak dan dipelihara menahun begitu saja.

#1 Solusi jenius warga, sibuk tinggikan rumah sendiri tapi cuek menutup lubang drainase

Inilah trik paling egois tapi paling laris di Semarang. Yakni, gotong royong meninggikan lantai dan halaman rumah. Aksi renovasi semacam ini gampang banget ditemui di berbagai sudut kota dari dulu. Bukan cuma di kawasan pesisir yang notabene langganan rob. Hasilnya? Ya, rumah sendiri memang selamat dari kepungan air. Banjir di Semarang terlihat tak ada efeknya ke mereka.

Tapi sialnya, proses peninggian itu sering dibarengi aksi individualis lainnya. Apalagi kalau bukan menutup lubang drainase depan rumah. Alasannya usang, tapi bikin darah tinggi. Mulai demi memperluas lahan parkir, malas membersihkan selokan, sampai alasan estetika biar tampak depan rumah terlihat rapi.

Praktis, saluran air yang dipaksa tutup rapat itu malah jadi bumerang yang bikin genangan makin parah dan aspal jalanan di depannya cepat hancur lebur. Bisa dibilang, solusi instan yang terkesan inovatif ini sebenarnya nggak lebih dari aksi egoisme berjamaah. Merasa aman sendiri, tapi bikin masalah makin runyam seisi kampung.

#2 Brutalnya alih fungsi lahan di Semarang Atas

Kalau mau berpikiran terbuka mencari biang keladi mengapa Semarang Bawah kerap jadi kolam renang gratisan setiap musim hujan, coba alihkan pandangan ke atas. Di Semarang Atas, alih fungsi lahan sudah terjadi secara ugal-ugalan, tanpa rem. Bukit-bukit hijau, daerah resapan air, sampai pepohonan yang harusnya jadi spons alami buat menyerap air hujan, sekarang bertransformasi jadi perumahan elite dan bangunan komersial. Ya wajar kalau banjir di Semarang nggak selesai.

Ironisnya, keserakahan tadi lambat laun bakal dirasakan juga akibatnya oleh para penghuni Semarang Atas sendiri. Buktinya nyata, jelas, dan sudah dirasakan. Wilayah atas sekarang makin gersang. Panasnya nggak ada beda dengan pusat kota dan sudah jauh dari kesan sejuk yang dulu jadi kebanggaan.

Baca Juga:

Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Belum lagi, risiko tanah longsor yang siap mengancam akibat maraknya penggalian liar dan pemotongan bukit. Paling menyedihkan, para pemangku kebijakan seolah pilih tutup mata dan telinga. Apa boleh buat, asalkan pundi-pundi cuan di rekening terus terisi lancar, realita seperti ini mungkin tampak gaib di mata mereka.

#3 Sungai yang diubah jadi tempat pembuangan sampah raksasa bikin banjir di Semarang makin gila

Satu lagi hal paling bikin saya kecewa pada kampung halaman tercinta. Meski warganya hobi banget koar-koar di medsos tiap kali banjir di Semarang terjadi, realitasnya kebiasaan buang sampah yang ngaco sudah meresap ke DNA mereka dan nyaris mustahil diobati.

Padahal, sistem pengelolaan sampah kota sendiri sudah megap-megap. Bahkan terkadang, tempat pembuangan akhir sampah malah bersarang persis di tengah permukiman. Petaka ini masih pula dibumbui tabiat sebagian warga yang sok ngide merombak sungai jadi tempat pembuangan akhir jumbo.

Mulai dari lautan kresek sampai sisa sampah rumah tangga bisa berenang bebas dengan santainya di sepanjang aliran sungai. Tapi, giliran hujan deras turun, air meluap, dan bawa kiriman sampah sampai masuk ke teras rumah, nggak sedikit yang mengkambing hitamkan alam. Padahal, tangan mereka sendiri yang dengan sadar menimbun kotanya pakai tumpukan sampah harian.

Jujur saja, saya sudah lama berhenti berharap banjir di Semarang bakal benar-benar tuntas. Sudah tahu penduduk Jawa Tengah, khususnya Semarang, lagi kompak-kompaknya aktivasi mode autopilot buat mengurus kota biar denyutnya tetap hidup, masih kudu ikhlas pula menanggung kelakuan sebagian warga yang ampun-ampunan absurdnya. Kalau begini terus, Semarang bukan cuma bakal jalan di tempat. Tapi, sungguh akan tenggelam. Toh, banjir itu sebetulnya cuma alarm pengingat yang berisik.

Harapan saya sebenarnya sederhana saja, tapi mungkin mahal harganya. Semarang butuh ketegasan hukum yang mutlak buat mengerem eksploitasi lahan di atas, evaluasi total sistem drainase kota, serta tumbuhnya kesadaran kolektif warga. Kalau reformasi kecil dari kesadaran diri sendiri ini nggak segera dimulai, jangan kaget kalau suatu hari nanti nggak ada lagi yang namanya Kota Lumpia.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Daerah Langganan Banjir di Semarang dan Tips Hidup di Sana

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Juli 2026 oleh

Tags: banjir di semarangbanjir robSemarangSemarang atassemarang bawah
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Hal-hal yang Bisa Kalian Temui di Simpang Lima Semarang, Ikon Indah Kota di Utara sambiroto UMK Semarang

Hidup Layak di Semarang dengan Gaji UMK itu Bukan Angan Belaka, Asalkan Mentalmu Sekuat Gatotkaca  

27 Juli 2024
Sulit Rasanya Membayangkan Semarang Tanpa UIN Walisongo (Unsplash)

Sulit Rasanya Membayangkan Semarang Tanpa UIN Walisongo

8 April 2025
Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Pindah dari Jogja ke Semarang: Udah Panas, Makanannya Nggak Seenak di Jogja

Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Pindah dari Jogja ke Semarang: Udah Panas, Makanannya Nggak Seenak di Jogja

6 Maret 2024
Mengandaikan Rupa Semarang Jika UNDIP Tidak Pernah Ada: Ambyar!

Mengandaikan Rupa Semarang Jika UNDIP Tidak Pernah Ada: Ambyar!

25 April 2025
5 Kuliner Semarang yang Rasanya Kurang Cocok di Lidah Wisatawan

5 Kuliner Semarang yang Rasanya Kurang Cocok di Lidah Wisatawan

29 November 2024
Orang Salatiga vs Kabupaten Semarang Siapa yang Suka Bohong (Unsplash)

Salatiga Memang Dicap Numpang wisata Daerah Kabupaten Semarang, tapi Warga Kabupaten Semarang Lebih Parah karena Ngaku-ngaku dari Salatiga

31 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan Mojok.co

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan

25 Juli 2026
Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang banjir di semarang

Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang

21 Juli 2026
Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo? (Wikimedia Commons)

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?

21 Juli 2026
5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak cuma di situ-situ aja mojok

5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak di situ-situ aja

27 Juli 2026
Liburan idaman orang dewasa itu sederhana, bisa rebahan tanpa diganggu notifikasi kerja Mojok.co

Liburan idaman orang dewasa itu sederhana, bisa rebahan tanpa diganggu notifikasi kerja

21 Juli 2026
4 taktik menaklukan Stasiun Manggarai saat jam padat, tempat paling kacau se-Jakarta Mojok

4 taktik menaklukan Stasiun Manggarai saat jam padat, tempat paling kacau se-Jakarta

24 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.