Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Daerah Langganan Banjir di Semarang dan Tips Hidup di Sana

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
10 Januari 2023
A A
Daerah Langganan Banjir di Semarang dan Tips Hidup di Sana Terminal Mojok

Daerah Langganan Banjir di Semarang dan Tips Hidup di Sana (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Meskipun Semarang merupakan salah satu kota yang cenderung damai dan jauh dari isu huru-hara, sejak akhir tahun lalu, Kota Lumpia ini digaduhkan dengan adanya musibah banjir yang cukup parah. Benar adanya bahwa banjir bukanlah sesuatu yang baru di ibu kota Jawa Tengah ini. Saking kerapnya bencana tersebut menghampiri, sampai-sampai ada langgam Jawa termasyhur berjudul “Jangkrik Genggong” yang menyematkan peristiwa rutin tersebut di Semarang.

Memiliki topografi yang unik, membuat tidak semua daerah di Semarang mengalami hal yang sama. Ketidakmerataan struktur tanah menjadikan beberapa area tertentu lebih sering mendapati debit air berlebih di tempat mereka dibandingkan daerah lainnya. Biasanya, masyarakat setempat menyebut kawasan itu dengan Semarang bawah yang mendekati pusat kota hingga sekitar pelabuhan Tanjung Mas. Namun, musibah banjir terakhir nyatanya juga terjadi di Kecamatan Tembalang yang juga dikenal sebagai salah satu daerah di Semarang atas.

Titik rawan pertama yang menjadi langganan banjir Semarang adalah sejumlah daerah yang terletak di Kecamatan Semarang Utara. Walau hujan tak lebat pun air mudah menggenang di kawasan tersebut. Wajar saja, karena terletak di dataran rendah, daerah Semarang Utara sudah lama diteror dengan permasalahan rob yang tak kunjung usai. Banjir rob, atau yang dikenal sebagai banjir pasang (tidal flood), adalah banjir yang biasa terjadi di tempat-tempat yang berdekatan dengan pantai.

Bisa dibilang, tidal flood ini sudah menjadi agenda tahunan di kota yang tersohor dengan Lawang Sewunya tersebut. Sering kali keberadaan banjir rob dikaitkan dengan tata kelola wilayah yang kurang baik. Namun di sisi lain, ada penelitian yang mengatakan bahwa banjir jenis tersebut dipengaruhi faktor alam yang sukar diprediksi, misalnya penurunan muka tanah serta kenaikan suhu akibat pemanasan global.

Sementara itu, lokasi terparah akibat banjir di awal tahun ini menerjang kawasan Perumahan Dinar Meteseh, Kecamatan Tembalang. Dilansir dari jatengnews.id, banjir bandang tersebut bahkan telah mencapai ketinggian 2,5 meter. Tak ayal, rumah penduduk terendam oleh air hingga hampir menutup atap rumah. Bahkan, satu orang dinyatakan meninggal dunia dalam kejadian tersebut lantaran terseret derasnya arus air dan tenggelam. Air bah tersebut timbul karena jebolnya tanggul sepanjang 20 meter di dekat perumahan.

Selain dua kecamatan tersebut, masih ada sederet lokasi lain yang menjadi titik rawan banjir Semarang. Misalnya saja di Kecamatan Tugu, Gayamsari, Genuk, Semarang Barat, Semarang Tengah, dan Semarang Timur. Diduga, banyaknya area yang tertutup banjir disebabkan tidak adanya daerah resapan yang mencukupi curah hujan yang cukup tinggi, terutama di musim hujan seperti saat ini. Di samping itu, tidak sedikit pula selokan yang tertutup trotoar demi alasan estetik. Akibatnya, air menggenang di jalan raya dan tidak bisa mengalir sepenuhnya ke selokan.

Sejatinya, problem banjir di Semarang merupakan permasalahan yang cukup kompleks untuk ditangani dan memerlukan waktu cukup panjang guna menuntaskan hingga ke akarnya. Saran pindah rumah pun bukan nasihat yang solutif karena hanya akan memindahkan masalah. Hal ini terbukti dari masifnya pemotongan bukit di lokasi Semarang atas guna dijadikan permukiman. Otomatis, area penghijauan semakin berkurang. Peluang ancaman tanah longsor makin tinggi karena tidak adanya akar tumbuhan yang menahan tanah.

Namun, tidak berarti usaha pencegahan tidak dapat dilakukan, lho. Sekecil apa pun langkah apabila dijalankan oleh banyak orang, akan memperkecil risiko banjir seperti yang sudah terjadi.

Baca Juga:

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Hal pertama yang bisa dilakukan tentu saja adalah dengan memperbaiki sistem drainase untuk membebaskan suatu area dari genangan air. Drainase buatan tidak diwujudkan tanpa alasan. Oleh sebab itu, hendaknya ada larangan tertulis dan sanksi tegas bagi siapa pun yang nekat menutup selokan. Biasanya hal ini terjadi di muka bangunan yang dijadikan sebagai tempat usaha. Menggalakkan kembali kerja bakti di level RT juga perlu diterapkan, misalnya kegiatan membersihkan saluran pembuangan yang tersumbat.

Sementara itu, untuk menanggulangi banjir rob yang diakibatkan oleh abrasi yang intens, peran pemerintah setempat sangat diperlukan. Alih-alih mendukung pembangunan tiada henti di daerah Semarang bawah yang menyebabkan pembebanan bertambah sehingga permukaan tanah semakin turun, pencegahan abrasi lebih penting untuk dicermati. Penanaman pohon bakau atau hutan mangrove, pengisian pasir di pesisir pantai, pemeliharaan terumbu karang, pelarangan penambangan pasir berlebih, serta penyediaan pemecah ombak menjadi hal-hal yang patut dipertimbangkan pemerintah.

Di sisi lain, masyarakat sipil pun perlu menguasai beberapa tips untuk mencegah maupun menghadapi risiko banjir yang mungkin tidak akan hilang dalam hitungan belasan tahun. Menanam pepohonan di halaman rumah, menyediakan lubang biopori dan sumur resapan, atau menggunakan paving block ketimbang memplester jalanan di sekitar rumah merupakan sejumput kecil aktivitas yang bisa dilakukan secara bergotong royong bersama warga sekitar.

Sementara untuk level individual, pemahaman prosedur penyelamatan diri serta harta benda wajib disadari. Misalnya saja dengan menyediakan pelampung, perahu karet, dan tas siaga bencana di masing-masing rumah. Memiliki kemampuan berenang adalah nilai tambah bagi mereka yang akrab dengan banjir.

Selanjutnya, sebisa mungkin, masyarakat yang hidup berdampingan dengan banjir juga mempunyai asuransi mobil yang polisnya dilengkapi dengan proteksi banjir agar terhindar dari kerugian yang lebih besar. Mengupayakan stopkontak dengan posisi yang cukup tinggi juga perlu dipertimbangkan saat membangun rumah. Yah, walau kurang estetik, langkah ini sangat penting dilakukan supaya terhindar dari risiko tersengat listrik saat air mulai membanjiri pemukiman. Jangan lupa pula untuk senantiasa mencabut kabel barang-barang elektronik dari stopkontak ketika sudah tidak dipakai lagi.

Tidak ketinggalan, simpanlah pula harta dan dokumen berharga di lantai atas jika memungkinkan. Kalau ada anggaran berlebih, bisa pula menyewa safe deposit box di bank yang keamanannya lebih terjaga.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Banjir di Semarang: Begitu Sendu, Begitu Pilu.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Januari 2023 oleh

Tags: banjirbanjir robjawa tengahSemarang
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

Mahasiswa doktoral UNDIP jurusan Manajemen Pemasaran asal Semarang.

ArtikelTerkait

Jadi Tempat Pameran Seni, Jalan Gatot Subroto Solo Nggak Kalah sama Jalan Malioboro Jogja, bahkan Lebih Bagus!

Jadi Tempat Pameran Seni, Jalan Gatot Subroto Solo Nggak Kalah sama Jalan Malioboro Jogja, bahkan Lebih Bagus!

5 Juli 2024
Bus Jepara-Semarang: Dulu Jumawa, Sekarang Berduka (Pixabay.com)

Bus Jepara-Semarang: Dulu Jumawa, Sekarang Berduka

2 September 2023
Saran untuk Warga Jawa Tengah yang Daerahnya Mulai Diserbu Pabrik

Saran untuk Warga Jawa Tengah yang Daerahnya Mulai Diserbu Pabrik

28 Juni 2022
Di Magelang, Jangan Keluar Rumah Lebih dari Jam 9 Malam, Pokoknya Jangan!

Di Magelang, Jangan Keluar Rumah Lebih dari Jam 9 Malam, Pokoknya Jangan!

13 November 2023
Simpang Lima Semarang, Saksi Bisu Lika-liku Prostitusi di Kota Lumpia

Simpang Lima Semarang, Saksi Bisu Lika-liku Prostitusi di Kota Lumpia

20 Juli 2023
Kota Banjar Jawa Barat Memang Banyak Kekurangan, tapi Jadi "Penyelamat" bagi Warga Majenang Jawa Tengah dan sekitarnya Mojok.co

Kota Banjar Jawa Barat Memang Banyak Kekurangan, tapi Jadi Penyelamat Warga Majenang Jawa Tengah dan sekitarnya

25 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

14 Mei 2026
Checklist Mahasiswa Semester Akhir: Siapkan Semua Berkas Ini Kalau Mau Lulus

5 Sifat Mahasiswa Semester Akhir yang Menjengkelkan, Segera Intropeksi Diri Jika Tidak Ingin Dijauhi Teman

12 Mei 2026
Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas

18 Mei 2026
Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.