Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Penderitaan Kuliah di Semarang dan Surabaya, Kota Mana yang Paling Menyiksa Mahasiswa?

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
13 Oktober 2025
A A
Penderitaan Kuliah di Semarang dan Surabaya, Kota Mana yang Paling Menyiksa Mahasiswa?

Penderitaan Kuliah di Semarang dan Surabaya, Kota Mana yang Paling Menyiksa Mahasiswa? (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Semarang dan Surabaya adalah dua kota yang berada di pesisir Pulau Jawa dan sama-sama berstatus sebagai ibu kota provinsi. Statusnya ini membuat keduanya menjadi episentrum untuk berbagai aktivitas masyarakat, terutama yang berkaitan dengan pendidikan. Ya, deretan kampus besar ada di kedua kota tersebut. Setidaknya kampus top 20 di Indonesia seperti UNDIP, UNNES, dan UIN Walisongo ada di Semarang, sementara Unair, ITS, dan Unesa ada di Surabaya.

Selain kampus-kampus tersebut, ada kampus lain yang juga membuat Semarang dan Surabaya menjadi pilihan utama anak muda untuk berkuliah. Akibatnya, kedua kota jadi padat dengan para pendatang, terlebih di kawasan area kampus.

Tapi begini, sebagai orang yang merasakan hidup di kedua kota tersebut dengan status mahasiswa (S1 di Semarang dan S2 di Surabaya), Semarang dan Surabaya punya sisi keras yang memberikan “penderitaan” bagi para perantau, khususnya mahasiswa.

Sebelum membahas satu per satu penderitaan yang dihadapi, saya ingin menegaskan bahwa penderitaan mahasiswa di Semarang dan Surabaya bukan soal yang mana yang paling parah, melainkan bagaimana beban itu menekan dari pagi sampai malam, dari cuaca yang menempel di kulit, cara kota memaksa kita bergerak, sampai kebocoran kecil di dompet yang diam-diam menumpuk. Karena itu, saya akan mengurai pengalaman kuliah S1 di Semarang dan kuliah S2 di Surabaya ke 5 sisi yang paling terasa bagi mahasiswa.

Cuaca Surabaya lebih menyiksa mahasiswa dibanding Semarang

Di Semarang, cuaca panas di musim kemarau begitu menyiksa. Keluar siang hari melewati Jalan Pandanaran yang berada di tengah kota terasa begitu menyiksa. Apalagi melewati kawasan Kalibanteng atau Krapyak yang jadi langganan truk. Sekujur tubuh rasanya seperti berada dekat tungku yang sedang memasak air.

Mahasiswa yang ada di kampus macam UIN Walisongo, Udinus, atau Unimus pasti merasakan betul penderitaan ini. Meski begitu, penderitaan seperti itu tidak selalu dialami terutama bagi mahasiswa yang berada di kawasan atas, misalnya Gunung Pati (UNNES) atau Tembalang (UNDIP).

Akan tetapi lain cerita bagi mahasiswa yang kuliahnya di area Semarang bawah macam Unissula. Mereka harus menghadapi penderitaan lain selain panas, yaitu banjir saat musim hujan. Bahkan Unissula sudah langganan banjir sehingga perkuliahannya sering libur atau online saat musim hujan karena kampusnya kebanjiran.

Kondisi yang lebih menderita saya rasa terjadi di Surabaya. Sebab, saya merasa tingkat kepanasannya lebih ekstrem daripada Semarang. Panasnya seperti menusuk kulit, saat mengenakan jaket pun, rasanya nggak betah. Kalau di Semarang, hawa panas bisa sedikit berkurang saat berkendara karena ada angin. Nah, di Surabaya ini nggak ada angin bertiup.

Baca Juga:

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

Kalau di Semarang panasnya kayak berada dekat tungku, di Surabaya hawa panasnya seperti berada dekat api unggun di siang hari. Kulit perih, kepala berat, haus terus. Jalan-jalan lebar memantulkan panas. Jalan kaki 5 menit di ruang terbuka sudah bikin lelah. Malam mereda, tetapi kamar tanpa AC berubah jadi oven yang mendidihkan sabar.

Terlebih, di Surabaya itu datarannya relatif sama, nggak ada area tinggi yang banyak pohon rimbun sehingga bisa membawa oksigen segar biar panas sedikit berkurang. Di sisi lain, ketika musim hujan, berbagai kawasan mengalami banjir. Apalagi daerah macam Gubeng atau Sukolilo yang padat penduduk. Kondisi itu tentu membuat mahasiswa merasakan penderitaan yang sama. Nggak peduli ketika musim hujan atau kemarau.

Makanya dari segi cuaca, saya rasa Surabaya lebih menyiksa ketimbang Semarang.

Geografis Fisik

Dari sisi geografis fisik, mahasiswa di Semarang, terutama yang berkuliah di kampus seperti UNDIP, UIN Walisongo, UNNES, atau Unisbank, atau kampus lain yang secara geografis banyak menanjak, tentu menderita. Apalagi kalau mahasiswa ini jalan kaki ke kampus.

Lha, bayangkan saja kalau mereka ke kampus, terus harus berjalan kaki melalui jalur tanjakan di tengah cuaca panas yang terik. Kondisi seperti itu benar-benar menguji kesabaran mahasiswa. Punggung membawa ransel berat, berjalan di tengah hari di rute yang menanjak. Ditambah haus lagi. Aduh, kulit terasa panas, kaki pun ikutan pegal.

Berbeda dengan Surabaya yang secara geografis relatif lebih rata. Area tanjakan, terutama di kawasan kampus hampir nggak ada. Jadi penderitaan mahasiswa ya cuma hawa panas seperti yang saya jelaskan sebelumnya.

Kesimpulannya, dari segi geografis, Semarang lebih menyiksa mahasiswa daripada Surabaya.

Biaya hidup Semarang dan Surabaya tidak jauh berbeda

Dari sisi biaya hidup, kedua kota ini sama-sama sepakat soal harga yang harus dikeluarkan. Sebab, meski punya UMK yang berbeda, nyatanya pengeluaran mahasiswa di sini hampir sama saja, kok. Soalnya harga kebutuhan pokok antara satu daerah dan daerah lain nggak jauh berbeda.

Dari sisi ini, saya bisa menyimpulkan kalau mahasiswa di Semarang lebih menderita ketimbang Surabaya. Dengan uang saku atau gaji (kerja sampingan) yang sedikit, mahasiswa harus mengeluarkan biaya hidup yang nggak berbeda jauh dengan Surabaya yang UMK-nya lebih tinggi.

Saya bilang begini karena item pengeluaran penting seperti harga makanan di warung itu nggak jauh beda. Yah, kisaran 10 sampai 15 ribuan untuk menu dengan lauk yang standar (telur, tahu, atau ayam). Jadi dari sisi biaya hidup, mahasiswa Semarang sedikit lebih menderita daripada Surabaya.

Transportasi umum Semarang lebih unggul daripada Surabaya yang semrawut

Dari sisi mobilitas, transportasi umum di Semarang sudah terintegrasi dengan baik. Mahasiswa tanpa motor yang ingin bepergian ke area pusat kota atau area kampus lainnya dimudahkan. Tetapi bukan berarti tanpa penderitaan, ya. Mahasiswa yang hanya mengandalkan transportasi umum seperti BRT harus menghadapi rasanya berdesak-desakan dan waktu tunggu lama.

Meski begitu, penderitaan mahasiswa di Semarang ini masih bisa ditoleransi. Soalnya yang dialami mahasiswa Surabaya lebih parah. Transportasi umum di Surabaya bisa disebut amburadul!

Armadanya sedikit, jangkauan koridor belum ada, headway jam non-puncak lebih jarang, hingga sejumlah halte nggak berada di titik keramaian mahasiswa. Belum lagi jangkauan bus dalam kota nggak menjangkau seluruh area Surabaya. Jadi, mau nggak mau mahasiswa yang nggak punya kendaraan pribadi sering naik ojol. Akhirnya ya menguras dompet.

Keamanan di malam hari

Kedua kota sama-sama nyeremin di beberapa titik. Meski sebelumnya seorang kawan bilang malam harinya Surabaya relatif lebih aman daripada Semarang, kenyataannya nggak demikian. Beberapa kasus kejahatan terjadi di Surabaya akhir-akhir ini. Misalnya di bawah Jembatan Suramadu, Jalan Kenjeran, TPU Rangkah, Jalan Kapas Madya, Jalan Ir. Soekarno, dan Jalan Ngaglik.

Tentu ini membahayakan mahasiswa ketika harus pulang tengah malam. Kalau di Semarang sendiri kejahatan bisa terjadi di mana saja, tetapi daerah yang paling rawan biasanya di Semarang bagian timur dan barat.

Dari kelima poin di atas, kita bisa menilai penderitaan yang dihadapi mahasiswa Semarang dan Surabaya hanya berbeda dari sisi jenis dan mekanismenya. Tetapi tekanannya setara. Semarang menguji mahasiswa lewat tanjakan dan kontur kota, sementara Surabaya mengantam lewat terik dan ritme lalu lintas. Pada akhirnya hasilnya sama saja. Waktu habis, tenaga terkuras, dan dompet mahasiswa menipis.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Surabaya memang Cocok Jadi Kota Tujuan Belajar, tapi Pikir-pikir Dulu kalau Mau Kuliah di Sini!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2025 oleh

Tags: kampus semarangkampus surabayaMahasiswamahasiswa perantauanmahasiswa semarangmahasiswa surabayaSemarangSurabaya
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Bendungan Semantok Nganjuk, Bendungan yang Mengangkat Derajat Warga Nganjuk Mojok.co kabupaten nganjuk, surabaya

Nganjuk di Mata Orang Surabaya: Warganya Begitu Ramah, tapi Kotanya Tak Bergairah

29 Februari 2024
Lamongan (Unsplash.com)

Lamongan Tak Butuh Diromantisasi, Apalagi Dibandingin Sama Jogja

23 Juni 2022
Bukan Jogja, Bukan Surabaya, apalagi Jember, Sebenar-benarnya Kota Pelajar Adalah Malang!

Bukan Jogja, Bukan Surabaya, apalagi Jember, Sebenar-benarnya Kota Pelajar Adalah Malang!

6 Maret 2024
Kepala Manyung Bu Fat, Kuliner Pedas Semarang yang Wajib Dicoba

Maaf-maaf Saja, bagi Saya, Semarang Lebih Superior ketimbang Jogja dan Bandung

24 Juni 2023
Jurusan Pertanian Bukan untuk Mahasiswa “Sultan” yang Alergi Kotor-kotoran Mojok.co

Jurusan Pertanian Bukan untuk Mahasiswa “Sultan” yang Alergi Kotor-kotoran 

1 Juni 2024
Curhat Mahasiswa yang Nyambi Jadi Driver Ojol di Kota Malang (Unsplash)

Curhat Mahasiswa yang Nyambi Jadi Driver Ojol di Kota Malang

23 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri

Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

27 April 2026
Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026
Bantul Nggak Punya Bioskop, tapi Warlok Nggak Kekurangan Tontonan Menghibur karena Ada Jathilan hingga Lomba Voli Mojok.co

Hidup di Bantul Tanpa Bioskop akan Baik-baik Saja Selama Ada Jathilan hingga Tanding Voli

23 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Alifa Moslem Babypreneur Daycare Jadi Penyelamat Orang Tua yang Harus Kerja dan Jogja yang Minim Ruang Bermain Anak
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.