Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

4 Alasan Surabaya Nggak Bisa Diromantisasi Layaknya Jogja

Tiara Uci oleh Tiara Uci
19 Mei 2022
A A
4 Alasan Surabaya Nggak Bisa Diromantisasi Layaknya Jogja Terminal Mojok.co

4 Alasan Surabaya Nggak Bisa Diromantisasi Layaknya Jogja (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Berbicara tentang romantisme kota, kebanyakan orang pasti akan menyebut Jogja. Selain Jogja, beberapa mungkin akan mengatakan Bandung, Bali, ataupun Malang. Hampir tidak ada orang yang meromantisasi Kota Surabaya. Padahal, kota kami berusaha keras untuk menjadi kota yang syahdu dan romantis, lho. Buktinya, satu tahun yang lalu, wali kota Surabaya baru saja meresmikan Tunjungan Romansa. Konsepnya memang mirip-mirip Malioboro atau Braga? Mboh talah, pokoknya di sini kalian bisa menikmati makanan sambil melihat beberapa musisi lokal bernyanyi di pinggir jalan.

Tujuan dibuatnya Tunjungan Romansa sebenarnya bagus. Pertama, pemerintah ingin meningkatkan geliat UMKM Surabaya. Kedua, mereka ingin masyarakat Surabaya mengerti sejarah kotanya dan memiliki memori kolektif tentang Kota Surabaya yang penuh cerita kepahlawanan. Seperti yang kita tahu, di jalan Tunjungan ada banyak gedung peninggalan Belanda. Kawasan ini juga memiliki banyak cerita mengharukan di masa lalu. Saking terkenalnya Jalan Tunjungan, ia sampai dibuatkan lagu, “Rek, ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan.”

Sayangnya, usaha Pak wali kota untuk meromantisasi Kota Surabaya bisa dikatakan kurang berhasil. Banyak orang mengeluh kalau Jalan Tunjungan makin macet di malam hari karena adanya Tunjungan Romansa. Alih-alih bisa romantis-romantisan dengan ayang sambil gandengan tangan, mengunjungi Tunjungan Romansa justru membuat sepasang kekasih ribut soal parkiran dan orang-orang pada misuh karena kemacetan. Gatot romantis, deh.

Tugu Jogja (Unsplash.com)

Nggak hanya itu, wali kota sebelumnya, Ibu Risma, juga rajin sekali membuat taman di tengah kota. Selain untuk ruang terbuka hijau, taman kota diharapkan bisa membuat Kota Pahlawan terasa sejuk dan rindang. Taman kota juga dibangun agar warga Surabaya bisa liburan gratis. Saya sering membayangkan taman-taman tersebut didatangi suami yang mengajak anak istrinya jalan-jalan sambil pegangan tangan. Kalau capek, mereka bisa duduk di bawah pohon sambil membuka bontotan dan makan bersama. Duh, betapa romantisnya.

Sayangnya, semua hal tersebut nggak pernah terjadi di kehidupan nyata. Taman-taman di Surabaya terlihat lengang dan jarang dikunjungi orang. Kecuali Taman Bungkul, itu pun masih harus ternodai dengan berita buruk karena ada muda-mudi kedapatan mesum di sana. Hadeeh, yak opo seh, Rek.

Surabaya bukannya nggak mau menjadi kota yang diingat banyak orang dengan kenangan indah, lantas dibuatkan puisi dan lagu. Tapi, mau gimana lagi? Sekeras apa pun kota kami berusaha meromantisasi diri, kok sepertinya nggak berhasil, ya?

Setelah saya intropeksi diri dan merenung di kamar yang panas karena PLN Kebonsari beberapa bulan ini sering padam. Saya menyimpulkan, kalau sekeras apa pun Kota Pahlawan ingin tampil jelita dan menggoda, agar orang yang berkunjung merasakan hal-hal yang romantis, bakal susah bisa terlaksana. Pasalnya, Surabaya memang nggak cocok untuk diromantisasi. Berikut alasan di balik susahnya meromantisasi Surabaya.

#1 Bukan kota wisata

Kota yang banyak diromantisasi orang umumnya punya label sebagai kota wisata. Jogja, Malang, Bali, dan Bandung pun terkenal dengan sebutan tersebut. Banyak orang berkunjung ke kota-kota tersebut untuk berwisata atau staycation. Namanya sedang berwisata, mayoritas orang tentu melakukannya dengan perasaan riang gembira dan menciptakan momen bahagia. Entah itu bersama kekasih, teman, ataupun keluarga.

Baca Juga:

Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

Momentum kebahagiaan tersebut kemudian terekam di ingatan. Ia menjadi kenangan yang tak terlupakan, dan kota-kota  wisata tersebut melekat di hati pengunjungnya.

Sederhananya gini. Ketika sepasang kekasih pernah berwisata bersama di Jogja, kemudian mereka putus, setiap sudut kota Jogja tetap penuh kenangan indah bagi mereka berdua. Tak jarang, manusia patah hati ini kemudian menciptakan puisi, lagu, ataupun cerpen tentang Jogja dan kisah cinta yang dilaluinya.

Bebeda dengan Surabaya. Kota ini lebih identik sebagai kota industri. Mayoritas orang datang ke Surabaya untuk bekerja. Jarang sekali ada orang berkunjung ke kota ini untuk berwisata. Berapa banyak, sih, orang yang mengajak kekasihnya untuk berwisata ke Surabaya? Lantas, meromantisasi kota kami dengan kenangan indah? Saya kira itu jarang sekali. Kebanyakan orang akan lebih memilih Bali, Bandung, atau Malang untuk menciptakan momen romantis bersama pasangan.

#2 Panas dan macet

Percayalah, sangat susah meromantisasi kota yang udaranya panas dan kemacetan lalu lintas di mana-mana. Bisa bertahan di jalanan Kota Pahlawan saat terik matahari tanpa misuh saja sudah syukur. Apalagi, Surabaya nggak punya transportasi umum yang bisa digunakan untuk membangun kenangan indah bersama kekasih atau crush incaran. Padahal, fungsi bus umum ini sangat penting guna membangun chemistry dan keuwuan. Coba lihat drakor, opa dan euni sering sekali mulai jatuh cinta saat bertemu di bus umum, kan?

Surabaya dan kemacetannya (Unsplash.com)

Jika ditelaah lebih jauh lagi, mayoritas kota yang banyak diromantisasi orang juga memiliki udara yang sejuk. Malang dan Batu terkenal karena adem, Bandung juga demikian. Jogja, meskipun nggak sesejuk Batu, tapi suhunya nggak sepanas Surabaya. Faktanya, udara sejuk sangat mendukung seseorang untuk meromantisasi keadaan. Makanya, mayoritas pasangan kalau ingin liburan memilih pergi ke tempat-tempat yang hawanya adem dan dingin. Cuaca adem memang mempengaruhi kualitas kita untuk bersikap romantis. Kalau udaranya panas, susah sekali beromantis ria. Penginnya, sih, malah marah melulu.

#3 Nggak banyak “seniman” romantis di Surabaya

Jogja punya Joko Pinurbo, Bandung punya Fiersa Besari dan Pidi Baiq yang banyak mengeksplorasi sudut kotanya untuk dibikin puisi dan kisah cinta romantis yang kemudian dipopulerkan ke seluruh negeri. Siapa sih, yang nggak pernah nonton cerita cinta Dilan dan Milea yang berlatar Kota Bandung? Anak senja mana yang nggak pernah mengutip kata-kata syahdu Fiersa Besari? Atau, siapa yang nggak pernah membaca penggalan sajak Joko Pinurno di sudut jalan Yogya? Mayoritas dari kita familier atau setidaknya tahu tentang mereka bertiga, kan?

Banyak sudut Jogja yang dianggap romantis (Unsplash.com)

Di Surabaya belum ada yang seperti itu. Kota ini belum punya penyair yang meromantisasi kota ini untuk di sebarkan ke seluruh negeri. Mungkin kalian akan menyebut Silampukau. Namun, coba simak dan dalami lagi lirik-lirik lagunya? Bukannya meninggalkan kesan romantis soal Surabaya, mereka justru memberikan banyak kritik soal kota ini. Dengarkan saja beberapa lagunya semacam “Sang Pelanggan”, “Sang Juragan”, ataupun “Bola Raya”.

#4 Biaya hidup yang mahal

Sajak apa yang akan lahir dari harga tanah yang mahal, biaya hidup yang tinggi, ongkos membangun rumah yang menjulang, sementara UMR kotanya pas-pasan? Percayalah, nggak bakalan lahir sajak romantis nan syahdu dari kondisi yang sepeti itu. Sebaliknya, yang ada justru sajak perlawanan dan perjuangan hidup. Alih-alih meromantisasi kota dengan cerita syahdu, penuh dengan rindu dan cinta yang menggebu-gebu. Yak, Surabaya memang lebih banyak menginspirasi cerita tentang kegigihan melawan kerasnya dunia.

Itulah hal-hal yang menurut saya membuat Surabaya susah untuk diromantisasi. Mungkin arek-arek Suroboyo punya pandangan yang berbeda dan alasan-alasan lainnya, silakan tambahkan di kolom komentar, Rek. Ndek sini bebas, silakan menulis apa saja. Sing penting ojok jotos-jotosan ae.

Penulis: Tiara Uci
Editor: Audian Laili

BACA JUGA Nggak Cuma di Jogja: Malioboro Juga Punya Cabang di Beberapa Kota

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Mei 2022 oleh

Tags: JogjaSurabaya
Tiara Uci

Tiara Uci

Alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. Project Manager perusahaan konstruksi di Surabaya. Suka membaca dan minum kopi.

ArtikelTerkait

Nggak Semua Jalan di Jogja Bisa Diromantisasi, 4 Jalan Ini Sebaiknya Dihindari karena Menguji Nyali dan Kesabaran Pengendara

Nggak Semua Jalan di Jogja Bisa Diromantisasi, 4 Jalan Ini Sebaiknya Dihindari karena Menguji Nyali dan Kesabaran Pengendara

6 Mei 2024
Kiat-Kiat Mengobati Patah Hati di Kota Jogja

Kiat-Kiat Mengobati Patah Hati di Kota Jogja

7 Januari 2020
Benarkah Pertalite Harga Baru Lebih Boros? Mari Kita Buktikan

Benarkah Pertalite Harga Baru Lebih Boros? Mari Kita Buktikan

26 September 2022
Jogja Itu Indah asalkan Kamu Nggak Keluar Rumah

Jogja Itu Indah asalkan Kamu Nggak Keluar Rumah

9 Agustus 2025
5 Cara Mahasiswa Berhemat di Jogja, Kota Pelajar yang Katanya Serba Terjangkau, padahal Tidak Mojok.co

5 Cara Mahasiswa Berhemat di Jogja, Kota Pelajar yang Katanya Serba Terjangkau, padahal Tidak

20 Juni 2024
Kuliah di Jogja Adalah Perjalanan Hidup yang Paling Saya Syukuri surabaya

Jogja (Mungkin) Masih Kota Pelajar, Surabaya Nanti Dulu

8 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026
Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

Outfit Kabupaten, Hinaan Orang Kota pada Pemuda Kabupaten yang Nggak Adil, Mereka Juga Berhak Berekspresi!

25 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026
Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”
  • Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan
  • Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta
  • Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri
  • Usulan Menteri PPPA Pindah Gerbong Perempuan di KRL Solusi Instan: Laki-laki Merasa Jadi Tumbal, Tak Sentuh Akar Persoalan
  • Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.