In this economy, berbagai upaya menghasilkan lebih banyak cuan patut dicoba. Salah satu yang paling menggiurkan adalah lowongan kerja (loker) isi survei. Bagaimana tidak menggiurkan kalau ditawarkan dengan narasi “kerja cerdas menghasilkan uang dari rumah”.
Di kepala ini langsung terbayang rebahan sambil isi kuisioner atau nonton video beberapa detik saja, lalu saldo digital terus bertambah. Sebagai seseorang yang sedang berjuang mandiri dan ogah terus menerus bergantung ke orang tua, loker isi survei benar-benar menggiurkan.
Saya sudah terbayang bayar kos sendiri dan mentraktir teman-teman kopi tanpa khawatir sisa saldo. Kenyataan jauh dari panggang api. Jangankan bayar kosan, loker isi survei lewat suatu aplikasi ini bikin saya makin miskin secara mental dan kuota.
Merasa tertipu sudah loker isi survei
Penderitaan pertama dimulai dari aplikasi survei online. Di iklannya, isi satu survei dihargai ratusan poin yang kalau dikonversikan bisa jadi puluhan ribu rupiah.
Praktiknya tidak seindah itu, kawan. Setelah saya dengan khusyuk mengisi data diri, menjawab pertanyaan pancingan selama sepuluh menit sampai dahi mengerut, tiba-tiba muncul notifikasi jahanam, “Maaf, profil Anda tidak sesuai dengan kriteria survei ini.”
Profil saya ditolak mentah-mentah hanya karena saya bukan manajer perusahaan multinasional yang hobi beli mobil sport setiap akhir pekan. Lha, kalau profil saya sekaya itu, buat apa saya bela-belain begadang demi survei recehan? Kenapa tidak diberitahukan sejak awal profil yang diharapkan, buang-buang waktu saja.
Pekerjaan “mudah” lain juga sama
Belum kapok dengan isi survei abal-abal, saya mencoba ke loker lain yang tampak mudah. Saya hanya perlu menonton iklan dan memain game untuk mendapatkan uang. Di sini harga diri saya benar-benar diuji.
Demi mengumpulkan recehan poin yang nilainya cuma Rp50 per iklan, saya dipaksa menonton video iklan judi slot atau aplikasi pinjol yang sama berulang-ulang. Otak saya sampai mati rasa. HP saya yang RAM-nya pas-pasan mendadak panas seperti setrikaan, dan baterainya bocor seketika.
Setelah berjuang selama satu minggu penuh sampai jempol keriting dan kuota internet habis dua giga (yang harganya Rp40.000), dengan penuh harap membuka menu penarikan saldo.
Tebak berapa nominal yang berhasil saya kumpulkan? Rp12.500. Ya, kalian tidak salah baca. Pengorbanan harga diri, waktu tidur, dan kuota puluhan ribu hanya diganti dengan uang yang bahkan tidak cukup untuk membeli sebungkus rokok dan kopi hitam di angkringan.
Jangan mudah percaya
Mencari uang dengan cara mudah seperti isi survei dan menonton iklan memang ada, tapi jujur saja, ini bukan cara terbaik untuk kalian yang ingin hidup mandiri. Alih-alih mendapat cuan, kita cuma jadi sapi perah untuk mendulang klik.
Akhirnya, saya menyadari satu hal, satu-satunya pihak yang kaya raya dan dapat cuan dari aplikasi tersebut adalah pemilik aplikasinya sendiri, bukan kita yang matanya sampai jereng memelototi layar.
Penulis: Novida Aristiyani
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












