Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya

Iqbal AR oleh Iqbal AR
10 Juli 2026
A A
Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya Mojok.co

Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada masanya saya punya cap yang kurang baik terhadap orang-orang yang punya dua pekerjaan (double job). Saya pernah menganggap bahwa orang yang punya double job ini adalah orang-orang yang serakah, orang-orang yang menyembah uang, orang-orang yang nggak asyik. Pagi sampai sore kerja di kantor, eh, masih dilanjut jualan. Seakan hidup isinya cuma kerja tok, nggak ada yang lain.

Akan tetapi, kedewasaan mengubah itu semua. Tambah dewasa saya semakin paham kalau orang dengan double job itu bukan perkara serakah atau nggak. Maraknya orang-orang punya double job justru pertanda ada yang nggak beres di tempat kita tinggal. Ada yang nggak beres dengan cara tempat ini dikelola.

Itulah yang terjadi di situasi sekarang. Lapangan pekerjaan makin sulit, upah nggak naik-naik, tapi kebutuhan sehari-hari makin naik. Negara lagi diurus sama orang-orang busuk, orang-orang culas dan nggak kompeten. Masa depan negara jadi penuh tanda tanya. Di tengah situasi seperti ini, punya satu pekerjaan (apalagi gajinya pas UMR atau malah di bawahnya) rasanya masih belum cukup.

Makanya, ketika marak fenomena double job, kita nggak seharusnya menyalahkan mereka yang melakukannya. Orang-orang yang punya double job itu nggak salah. Mereka cuma berusaha bertahan hidup. Yang harus disalahkan adalah negara.

Kegagalan negara dalam menyejahterakan rakyatnya

Kalau melihat konteks situasi di Indonesia dan maraknya fenomena double job atau bahkan fenomena overwork, mudah sekali sebenarnya untuk mencari siapa yang salah dan layak disalahkan. Semua ini salah negara, salah pemerintah. Mengapa? Begini penjelasan mudah dan singkatnya.

Negara itu punya wewenang untuk membuat kebijakan soal aturan kerja hingga aturan pengupahan (gaji) yang berpihak kepada rakyat. Negara bahkan bertanggung jawab untuk membuka lapangan kerja. 

Apakah negara, dalam hal ini pemerintah Indonesia melakukannya? Sayangnya nggak. Kebijakan pemerintah Indonesia malah cenderung berpihak ke kapital, ke pemilik modal, ke pengusaha-pengusaha. Negara juga gagal membuka lapangan kerja.

Imbasnya, ya kacau balau. Jam kerja para pekerja banyak yang over, banyak eksploitasi jam kerja. Lalu gaji mereka juga stagnan, plus ada beberapa daerah yang UMP-nya masih rendah banget. Belum lagi soal lapangan kerja yang makin susah. Ini semua diperparah lagi dengan harga-harga kebutuhan yang makin mahal, makin susah terjangkau.

Baca Juga:

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

Maka nggak heran kalau ada orang-orang yang terpaksa punya dua pekerjaan (double job). Pagi ngantor, malam jualan atau narik ojol. Mengapa begitu, ya karena negara, dalam hal ini pemerintah Indonesia, gagal untuk menyejahterakan masyarakat. Negara gagal menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan manusiawi. Negara juga gagal dalam memberikan kebijakan pengupahan yang adil, pengupahan yang bisa mencukupi kehidupan warganya tanpa perlu cari tambahan pekerjaan.

Mereka yang punya double job itu cuma pengin bertahan hidup

Salah seorang teman kuliah saya menceritakan gimana rasanya punya double job. Setelah beres kuliah di Malang, teman saya ini pulang ke kampung halamannya di Samarinda, Kalimantan Timur. Di sana, dia kerja sebagai salah satu pengurus/staf di sebuah sekolah swasta dengan gaji di bawah UMR Samarinda, walaupun nggak sampai setengahnya.

ADVERTISEMENT

Dua tahun pertama, hidupnya masih aman-aman saja. Gajinya naik, tapi nggak banyak, dan masih di bawah UMR. Lalu di tahun ketiga, mulailah semuanya berubah. Kebutuhan makin banyak, makin mahal, ditambah ia mau menikah, jadi butuh uang banyak. Kalau hanya mengandalkan uang dari gaji sebagai staf sekolah swasta, kayaknya nggak bakal cukup untuk itu semua.

“Untungnya aku senang gambar, bisa desain-desain gitu. Jadinya aku coba cari tambahan dari sini. Aku ngomong ke temenku yang punya studio desain, kali aja ada pekerjaan. Eh, ternyata ada. Mereka emang butuh satu ilustrator. Pas banget, aku masuk, lah. Apalagi kerjaannya bisa aku kerjakan setelah beres dari sekolah. Ya sudah, aku sikat.” ujar teman saya.

Maka jadilah sejak saat itu, teman saya punya dua pekerjaan, double job. Pagi sampai sore di sekolah, sore sampai malam di studio desain. Lumayan, kata teman saya. Apalagi gajinya sebagai illustrator juga nggak kecil, meskipun masih di bawah UMR. Tapi dari dua pekerjaan itu, teman saya bisa mencukupi semua kebutuhan hidupnya, bahkan bisa nikah dari hasil dua pekerjaan itu.

Ketika saya tanya, apa nggak capek punya dua pekerjaan seperti itu. Dengan tarikan napas panjang, teman saya menjawab pelan. “Ya capek, berangkat pagi pulang malam tiap hari. Tapi nggak ada pilihan lain. Cuma ini caranya biar bisa bertahan hidup, biar bisa biayain rumah dan keluarga. Mana semua makin mahal, kan? Pokoknya selama aku masih kuat menjalani, dan selama dua kantor ini nggak keberatan, ya aku bakal tetap lanjut begini.” ujar teman saya.

Bukan serakah

Dari cerita teman saya, nggak adil rasanya kalau kita selalu mengatakan bahwa orang yang punya double job itu serakah. Nggak. Itu sama sekali bukan wujud keserakahan. Itu adalah wujud kerja keras mereka, wujud usaha mereka untuk bertahan di situasi, di negara yang makin kacau ini. Nggak ada yang salah dari punya double job. Toh, mereka cuma pengin bertahan hidup kok. Nggak lebih.

Makanya, kalau mau tunjuk hidung terkait maraknya fenomena double job, ya arahkan ke negara, ke pemerintah, bukan ke mereka yang punya double job. Sebab, sekali lagi saya katakan, maraknya fenomena double job ini adalah bukti kegagalan negara dalam menyejahterakan rakyatnya. Negara gagal menjamin kehidupan warganya.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Sakit gigi penyakit yang terdengar remeh, tapi aslinya sangat menyiksa.

ADVERTISEMENT

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2026 oleh

Tags: double jobfenomena double jobgajikesejahteraanpolyworkingsidejobupah
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Berdiskusi Ekspektasi Gaji di Media Sosial MOJOK.CO

Berdiskusi Ekspektasi Gaji di Media Sosial: Niat Memotivasi Malah Bikin Keki

29 Oktober 2019
uang tip terminal mojok

Tunjangan PNS Memang Gede, tapi Nggak Segede Itu

15 September 2021
Apa Salahnya Jika Honorer Resign dari Instansi Pemerintah? Saya Juga Butuh Makan, Status Sosial Nggak Bikin Perut Kenyang! (Pixabay.com)

Apa Salahnya Jika Honorer Resign dari Instansi Pemerintah? Saya Juga Butuh Makan, Status Sosial Nggak Bikin Perut Kenyang!

11 Desember 2023
fresh graduate

Tagar #LulusanUI dan Polemik Gaji Bagi Fresh Graduate

26 Juli 2019
7 Cara Mendapatkan Gaji Tambahan dari Shutterstock

7 Tips Mendapatkan Gaji Tambahan Tiap Bulan dari Shutterstock

2 Agustus 2023
Jangan Jadi Barista. Gajinya Kecil, Gengsinya Tinggi, Nggak ada Jenjang Karier pula! pendekar kopi

Jangan Jadi Barista. Gajinya Kecil, Gengsinya Tinggi, Nggak ada Jenjang Karier pula!

23 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan Mojok.co

7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan

21 Agustus 2026
5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini (Mojok.co)

5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini 

16 Agustus 2026
Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku Mojok.co

Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku

18 Agustus 2026
Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Ra srawung rabimu suwung adalah jokes tongkrongan yang sudah tidak relevan dan sebaiknya tidak usah disampaikan

16 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.