Berita pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI menyita perhatian. Pada 2025, anggaran Perpusnas tercatat Rp721 miliar. Pada 2026, anggaran itu dipangkas jadi Rp377 miliar. Angka berkurang hampir setengahnya.
Fakta menyesakkan ini kembali mendapat sorotan setelah dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat Perpusnas dengan Komisi X DPR RI pada 16 Juli 2026 lalu.
Mengutip berbagai sumber, Kepala Perpusnas RI Aminudin Aziz mengatakan, pemangkasan mengakibatkan terhentinya pembagian buku ke desa-desa, taman bacaan masyarakat, hingga ke lembaga pemasyarakatan (lapas).
Pemangkasan anggaran Perpusnas RI, kondisi yang benar-benar keliru
Saya pernah hidup dari buku, bagian dari komunitas pembaca, dan bekerja paruh waktu melayani pemustaka di perpustakaan. Sebagai seseorang yang hidupnya kerap beririsan dengan dunia literasi, berita pemangkasan ini benar-benar menyayat hati.
Sebenarnya tidak perlu terlibat dengan dunia literasi pun kita seharusnya sadar kalau kondisi saat ini benar-benar keliru. Bagaimana tidak keliru, anggaran yang jelas-jelas menyangkut kepentingan orang banyak dialihkan untuk program-program tidak matang yang banyak mengundang pertanyaan.
Asal tahu saja ya, perpustakaan itu bukan sekadar gudang tempat menyimpan buku-buku. Lebih dari itu, perpustakaan adalah ruang merdeka. Orang datang ke perpustakaan untuk memanfaatkan akses informasi dengan berbagai cara. Entah itu cuma numpang Wi-Fi gratis, hingga mereka yang butuh mengakses pangkalan data artikel ilmiah berbayar yang mahal itu secara cuma-cuma.
Perpustakaan begitu berguna, bisa memberikan akses informasi seluas-luasnya bagi warga. Namun, anggaran Perpusnas RI yang minim membuatnya tidak bisa memberikan layanan yang benar-benar maksimal.
Ujung-ujungnya pustakawan lagi yang disalahkan, dianggap kurang serius dan inovasi. Padahal, boro-boro mau berinovasi menambah koleksi terbaru, hingga bikin acara bedah buku kalau keran anggarannya saja dicekik dari pusat. Perpustakaan dituntut berbuat banyak, tapi uangnya dari mana?
Teringat akan sebuah esai tajam karya Neil Gaiman
Kondisi ini mengingatkan saya pada esai tajam dari Neil Gaiman berjudul Kenapa Masa Depan Kita Bergantung pada Perpustakaan, Membaca, dan Melamun?
Dalam esainya, Gaiman menuliskan sentilan yang rasanya pas ditampar ke muka para pembuat kebijakan kita hari ini:
“Otoritas daerah mengambil kesempatan untuk menutup perpustakaan sebagai cara mudah menghemat uang, tanpa menyadari bahwa mereka tengah mencuri dari masa depan untuk membayar hari ini. Mereka menutup gerbang yang seharusnya terbuka.”
Pemangkasan anggaran Perpusnas RI ini persis seperti itu. Mencuri dari masa depan. Lantas, bagaimana ceritanya pemerintah berkoar-koar ingin menjemput Indonesia Emas kalau gudang ilmunya saja dibatasi dan digembok?
Para pustakawan dan penggiat literasi sudah berjuang mati-matian mengubah citra perpustakaan agar tak terkesan kuno. Banyak perpustakaan yang sudah susah payah berbenah, dari segi program, layanan digital, hingga fasilitas fisik. Namun, semua itu akan mandek kalau disabotase oleh kebijakan anggaran yang ngawur.
Mari warga rapatkan barisan
Bila kita tidak ikut berdiri memperjuangkan keberlangsungan perpustakaan, bagaimana kita bisa menuntut akses perpustakaan yang ideal? Apakah kita rela hanya menikmati perpustakaan yang koleksinya itu-itu saja, dengan fasilitas yang makin hari makin memprihatinkan?
Oleh karena itu, sebagai warga negara yang waras, kita perlu merapatkan barisan bersama para pustakawan dan pegiat literasi untuk menyelamatkan masa depan. Kita harus mulai meramaikan perpustakaan agar pejabat melihat bahwa ruang ini penting. Warga harus berani berisik ketika anggaran Perpusnas dipangkas seenak jidat. Kita wajib protes saat ada ruang baca yang ditutup karena kebijakan sepihak.
Tujuannya cuma satu, agar para pemangku kebijakan sadar bahwa perpustakaan adalah investasi masa depan, bukan beban APBN. Kalaupun nanti pihak eksekutif dan legislatif malah sibuk bertengkar sendiri dan ogah memprioritaskan literasi, biarkan saja mereka dengan kegaduhannya.
Di titik ini, kutipan Gaiman di esainya kembali relevan untuk kita terapkan:
“Selagi politisi sibuk menyalahkan pihak lawannya atas hasil ini, sesungguhnya, kita perlu mengajari anak-anak kita membaca dan menikmati membaca.”
Sebab, pada akhirnya, kalau negara absen merawat ruang literasi, kitalah yang harus turun tangan menyalakan apinya.
Penulis: Muhammad Irfan Habibi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













