Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Ana Fitri Aulia oleh Ana Fitri Aulia
30 Juli 2026
A A
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu, dalam beberapa kesempatan diskusi bersama teman, saya selalu mengatakan bahwa kebanyakan orang miskin itu karena malas dan kurang berusaha. Hingga kemudian saya mulai lebih banyak belajar, membaca, dan bertemu dengan lebih banyak manusia dengan berbagai cerita hidupnya membuat saya merasa bahwa keyakinan saya terlalu dangkal.

Berjumpa dengan pengalaman-pengalaman baru menyadarkan saya untuk melihat sisi lain dari cara kerja dunia melalui lensa yang lebih jernih dan jujur.

ADVERTISEMENT

Selama ini saya menganggap semua pencapaian lahir semata-mata dari kerja keras. Padahal, kerja keras saya juga ditopang oleh berbagai kesempatan yang mungkin tidak dimiliki oleh semua orang. Saya lupa bahwa saya bisa kuliah dengan baik karena orang tua yang mendukung, perut yang kenyang, dan fasilitas yang memadai.

Saya luput menyadari. Di luar sana ada orang-orang yang setiap harinya harus memilih antara membayar uang sekolah atau membeli beras. Antara membeli buku atau membayar tagihan listrik. Antara mengejar masa depan atau memastikan keluarganya dapat bertahan hingga esok hari.

Rasanya tidak pantas menyebut orang yang menghabiskan lebih dari separuh harinya bekerja di bawah terik matahari, mengangkat beban berat, atau berdiri berjam-jam demi mencari nafkah sebagai orang yang malas. Pun, terlalu kejam rasanya mengatakan bahwa mereka yang tetap bekerja meski tubuhnya dipenuhi rasa lelah, telapak tangannya mulai mengeras, dan tetap berangkat setiap pagi meski tidak pernah ada jaminan bahwa hari itu akan membawa penghasilan yang cukup sebagai orang yang kurang bekerja keras.

Melihat kemiskinan sebagai kegagalan individu itu keliru

Barangkali, selama ini saya terlalu sering melihat kemiskinan sebagai kegagalan individu, dan terlalu cepat menyimpulkan bahwa seseorang miskin karena tidak cukup bekerja keras, tanpa pernah bertanya lebih jauh tentang kehidupan yang ia jalani. Istilah “kemiskinan struktural” menjadi terasa lebih nyata. Bahwa benar, kemiskinan tidak hanya dibentuk oleh keputusan-keputusan pribadi, tetapi juga oleh “sistem.”

Sistem inilah yang menentukan siapa yang lebih mudah memperoleh pendidikan yang layak. Siapa yang memiliki akses terhadap pekerjaan yang baik, siapa yang tumbuh di lingkungan yang mendukung, hingga siapa yang memiliki jaringan yang dapat membuka peluang-peluang baru. Ketika akses terhadap berbagai sumber daya tersebut tidak pernah benar-benar setara, maka perjuangan setiap orang pun tidak pernah dimulai dari titik yang sama.

Dalam psikologi, cara melihat masyarakat seperti ini dijelaskan melalui Social Dominance Theory yang dikembangkan oleh Sidanius dan Pratto. Saya mengenal teori ini ketika belajar pada mata kuliah Psikologi Kelompok Marjinal. Teori ini memandang bahwa masyarakat memang cenderung tersusun dalam hierarki antarkelompok. Hierarki tersebut kemudian terus dipertahankan melalui berbagai institusi seperti pendidikan, ekonomi, maupun hukum, serta melalui berbagai ideologi yang membuat ketimpangan terasa masuk akal.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

Indomie Bukan Makanan Legendaris, Ia Cuma Simbol Krisis dan Kemiskinan Kolektif

Akibatnya, sebagian kelompok memiliki akses yang lebih besar terhadap sumber daya dan kesempatan, sementara kelompok lainnya harus terus berjuang untuk memperoleh hal-hal yang bagi kelompok lain mungkin terasa biasa.

Namun, bagian menariknya adalah, ternyata, ketidakadilan tidak hanya dipertahankan oleh sistem, tetapi juga oleh cara kita memandang sistem itu sendiri. System Justification Theory menjelaskan hal ini. Alih-alih mempertanyakan dan “protes” mengapa sistem ini bertahan lama, manusia justru cenderung membenarkan tatanan sosial yang sudah ada.

“Kalau masih miskin, jangan punya anak dulu, dong”

Sebagai contoh, saya sering melihat di timeline media sosial saya berbagai komentar mengenai larangan punya anak bagi orang miskin. Seringnya dilontarkan dengan berbagai redaksi yang berbeda-beda. Kalimat-kalimat seperti “Kalau masih miskin, jangan punya anak dulu, dong”, “Kalau nggak sanggup kasih makan, jangan beranak” atau “Ya jangan punya anak banyak. Kalau miskin itu tahu diri dan kendalikan hidup sendiri, ga usah nyalahin kemampuan orang lain.”

Unpopular opinion, tetapi, bukankah ini sama kejamnya dengan kita mengatakan “Kalau tidak punya uang untuk berobat, ya jangan sakit.” Padahal, bukankah semua orang pernah sakit? Maka aneh sekali jika kita malah menyalahkan orang miskin yang memiliki anak daripada mempertanyakan keadaan yang menyebabkan “punya anak” itu menjadi hal yang mahal bagi orang miskin.

Terdengar absurd, bukan? Cara berpikir semacam ini menunjukkan bagaimana kita seringkali memindahkan persoalan sistem menjadi tanggung jawab individu. Alih-alih bertanya mengapa kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan begitu sulit diakses sebagian orang, kita justru meminta mereka menyesuaikan hidupnya dengan keterbatasan sistem.

Baca halaman selanjutnya

Individu tidak hanya jadi satu-satunya penyebab

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2026 oleh

Tags: Kemiskinankemiskinan strukturalOrang Miskinpenyebab angka kemiskinan tinggi
Ana Fitri Aulia

Ana Fitri Aulia

Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Diponegoro yang memiliki ketertarikan pada isu psikologi, pendidikan, dan sosial. Gemar menulis artikel reflektif yang mengangkat fenomena keseharian melalui perspektif psikologi dan kemanusiaan.

ArtikelTerkait

Menjadi Orang Miskin Versi Nadin Amizah: Udah Susah, Jadi Makin Susah terminal mojok.co

Susahnya Orang Miskin Jadi Orang Baik Versi Nadin Amizah

21 Januari 2021
Program Wisata Unggulan: Investor Makin Kaya, Warga Lokal (Dibikin) Makin Miskin

Program Wisata Unggulan: Investor Makin Kaya, Warga Lokal (Dibikin) Makin Miskin

12 November 2022

Pentingnya Minta Persetujuan Penerima Sedekah Sebelum Dijadikan Konten Medsos

7 Juni 2021
Joshua Oh Joshua: Ternyata Sebuah Film Satire terminal mojok.co

Joshua Oh Joshua: Ternyata Sebuah Film Satire

27 September 2021
Katanya Mau Mengentaskan Kemiskinan, Kok Malah Ngurusin Soal Nikah, orang miskin

Orang Miskin yang Sebenar-benarnya Miskin Adalah Kaum Marjinal Tanpa KTP

9 Mei 2020
Gambar Menyeramkan pada Bungkus Rokok Adalah Kesia-siaan yang Merusak Karya Seni terminal mojok.co

Rokok Bikin Rakyat Miskin Makin Miskin Itu Omong Kosong

16 September 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

14 Agustus 2026
Culture shock tinggal di Papua: hari-hari makan daging rusa dan listrik dijadwal 12 jam sehari

Culture shock tinggal di Papua: hari-hari makan daging rusa dan listrik dijadwal 12 jam sehari

14 Agustus 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Ketahuilah, masalah KPR rumah bukan hanya soal bayar, tapi masih ada 5 masalah yang bakal bikin kamu stres

13 Agustus 2026
Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026
Manasik haji kegiatan paling sia-sia yang pernah diajarkan ke anak TK, buat apa coba? Mojok

Manasik haji kegiatan paling sia-sia yang diajarkan ke anak TK, buat apa coba? 

13 Agustus 2026
5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini (Mojok.co)

5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini 

16 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.