Namun, sampai di titik ini, saya juga tidak ingin terjebak pada kesimpulan yang sebaliknya. Kemiskinan memang sesuatu yang politis dan dipengaruhi oleh sistem, bukan berarti usaha individu tak lagi penting. Saya tetap percaya bahwa kerja keras, ketekunan, dan keberanian mengambil kesempatan adalah bagian penting dari ikhtiar untuk keluar dari kemiskinan.
Usaha yang saya maksud juga bukan semata-mata bekerja lebih lama atau mengeluarkan tenaga lebih besar. Usaha juga berarti adanya tekad untuk terus belajar, kemampuan mengelola keuangan, membangun kebiasaan yang sehat. Mengambil keputusan yang bijak, serta bersedia menunda kesenangan yang impulsif demi tujuan yang lebih besar.
Individual tidak jadi satu-satunya penyebab
Yang ingin saya kritik dalam hal ini adalah cara berpikir yang menempatkan individu sebagai satu-satunya aktor yang bertanggung jawab atas kemiskinan. Karena cara pandang seperti ini dapat berisiko membuat kita mengabaikan berbagai faktor struktural yang turut membentuk dan mempertahankan kemiskinan.
Perlu kita pahami bahwa usaha dan kesempatan bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Kita dapat mengakui pentingnya kerja keras tanpa menutup mata terhadap ketimpangan akses. Mendorong seseorang untuk terus berusaha tidak seharusnya membuat kita mengabaikan kenyataan bahwa setiap orang menghadapi tantangan yang berbeda-beda.
Sebab tujuan yang ingin kita capai bukanlah menciptakan masyarakat yang berhenti bekerja keras. Hal penting lainnya adalah membangun sistem yang memastikan bahwa setiap kerja keras memiliki kesempatan yang lebih adil untuk membuahkan hasil dan tidak berakhir sia-sia.
Penulis: Ana Fitri Aulia
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Orang Miskin: Dimanfaatin Bule, Disepelekan Musisi Edgy
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














