Di balik predikatnya sebagai perempatan pendidikan, Perempatan Jetis Jogja menjadi sebuah anomali di tengah Kota Jogja dengan berbagai permasalahannya
Bicara soal Jogja selalu nggak pernah habis soal segala dinamika di dalamnya. Mulai dari yang membanggakan sampai yang bikin ngelus dada pun ada. Setiap sudutnya menyimpan berbagai cerita yang menunjukkan wajah asli Jogja.
Kalau boleh menyebut satu sudut kota Jogja yang bisa menunjukkan wujud asli Jogja adalah Perempatan Jetis Jogja. Perempatan yang jadi salah satu urat nadi di jantung Kota Jogja ini jadi penampakan nyata kalau Jogja adalah kota pendidikan sekaligus menyimpan keresahan yang nggak banyak diceritakan.
Buat yang belum tahu, Perempatan Jetis merupakan persimpangan di Jalan AM Sangaji yang ke selatan mengarah ke Tugu Jogja atau Tugu Pal Putih dan ke utara mengarah ke Monjali. Sedangkan ke barat adalah Jalan R.W. Monginsidi yang tembus ke Jalan Magelang dan ke timur adalah Jalan Sardjito yang mengarah ke Terban dan kampus UGM.
Bagi saya, perempatan ini unik, sebab seperti yang sudah disebut sebelumnya, perempatan ini sangat Jogja banget dengan slogan kota pelajarnya. Bagaimana nggak, di perempatan ini saja terkumpul setidaknya delapan sekolah mulai dari jenjang SD sampai perguruan tinggi. Hampir dapat saya pastikan nggak ada perempatan seberpendidikan ini di Jogja selain Perempatan Jetis. Secara khusus, saya pernah membahasnya di artikel Terminal Mojok yang lampau.
Lebih daripada itu, perempatan ini menyimpan paradoks, di satu sisi perempatan ini sangat berpendidikan karena jumlah sekolah yang “melebihi kewajaran” tapi juga perempatan ini memuat wujud asli warga Jogja yang cukup bertolak belakang dari wajah kota pelajar yang kita kenal.
Perempatan Jetis Jogja, pusat macet Jogja pagi hari
Dibanding dengan kota-kota besar lainnya, Jogja tergolong sebagai kota yang lumayan nggak macet. Banyak warga dari luar Jogja khususnya dari Jabodetabek memuji Jogja karena nggak begitu macet. Padahal bagi warga Jogja, kota ini sekarang sudah sangat penuh dan kemacetan dapat dijumpai di banyak sudut kotanya.
Perempatan Jetis ini salah satunya. Bagaimana nggak, di jam berangkat sekolah, semua murid dari sekian sekolah tersebut lewat di persimpangan ini di waktu yang bersamaan. Belum lagi, perempatan ini juga jadi pintu masuk Kota Jogja dari utara dan jalur ke wilayah UGM dari barat. Jadi para pekerja yang mau kerja di Jogja Kota atau UGM dan sekitarnya juga akan lewat sini.
Nggak heran kalau perempatan ini jadi salah satu perempatan tersibuk di kala pagi. Menurut pengamatan, jam 7.30 adalah waktu paling padat di perempatan ini. Kepadatan lalu lintas bahkan mengular sampai Tugu Jogja. Anda harus pintar-pintar mengatur waktu agar terhindar dari kemacetan kalau akan lewat sini. Kesiangan sedikit siap-siap terlambat sekolah.
Permasalahan sosial bernama masil mesum
Di sini paradoks Kota Jogja itu sangat terlihat. Perempatan ini jadi tempat sebagian orang untuk mengadu nasib. Mulai dari pengemis, pengamen, badut gorila, sampai manusia silver ada di perempatan ini. Mungkin terlihat lumrah di mana banyak perempatan juga punya wajah yang sama, tapi ini juga menimbulkan permasalahan sosial dan ketertiban.
Buktinya, Februari yang lalu di Perempatan Jetis terjadi kasus ada manusia silver atau masil yang melakukan tindakan kurang terpuji alias mesum terhadap pengendara perempuan dan sempat viral di media sosial. Permasalahan semacam ini bikin Perempatan Jetis terasa cukup meresahkan meski punya predikat perempatan paling berpendidikan.
Akamsi dan duta ngopo
Ternyata nggak semua yang ada di Kota Pelajar itu terpelajar dan nggak semua yang lewat di perempatan paling berpendidikan pun berpendidikan. Itulah yang tampak dari perilaku berkendara yang ada di perempatan ini. Entah warlok atau bukan, ada saja kasus jalanan yang nggak mengenakkan dan meresahkan di sini.
Di akhir Juni yang lalu ada pengendara motor yang berkendara ngawur di malam hari dan membahayakan pengendara lain tapi ketika ditegur malah mengatakan kalau dia adalah akamsi. Seakan kalau akamsi boleh berkendara dengan ngawur. Ia juga mengeluarkan kata sakti yaitu “ngopo”. Kasus ini viral di media sosial kemudian netizen menyebutnya juga sebagai duta ngopo.
Di balik berpendidikannya perempatan ini dengan sekian banyak sekolah, Perempatan Jetis menjadi sebuah anomali di tengah Kota Jogja dengan berbagai permasalahan (termasuk kejadian di luar yang disebutkan di atas). Wajah Kota Jogja sebagai kota pelajar yang aman dan damai tampaknya sedikit tercoreng dengan beberapa kejadian meresahkan yang terjadi di perempatan ini.
Penulis: Rizqian Syah Ultsani
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jetis Jogja dan Jetis Bantul, Dua Daerah Berbeda dengan Nama dan Nasib yang Mirip
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












