Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Makam Kembang Kuning, Solusi Healing di Tengah Keterbatasan Lahan Surabaya yang Bikin Pening

Ferika Sandra oleh Ferika Sandra
22 Mei 2026
A A
Makam Kembang Kuning, Solusi Healing di Tengah Keterbatasan Lahan Surabaya yang Bikin Pening

Makam Kembang Kuning, Solusi Healing di Tengah Keterbatasan Lahan Surabaya yang Bikin Pening (Saliyahsyal via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu hal yang selalu saya sukai dari naik ojek online: kemungkinan tersesat secara tidak sengaja, lalu menemukan sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya. Biasanya cuma gang sempit atau warung murah. Tapi sore itu, saya menemukan makam. Bukan makam biasa. Namanya Makam Kembang Kuning Surabaya.

Makam ini lokasi tepatnya di Pakis Sidokumpul, Kota Surabaya. Dan jujur, saya tidak menyangka bahwa salah satu kompleks makam Tionghoa terbesar di Surabaya ternyata berjarak tidak sampai 10 menit dari kos saya.

Sore itu macetnya Surabaya sudah seperti antrean sembako. Bapak driver memilih jalan pintas. Kami masuk ke gang-gang kecil, melewati perkampungan, lalu tiba-tiba saya melihatnya. Hamparan makam. Tapi ini bukan makam yang biasa saya lihat. Makam Tionghoa, dan ketika saya melihat ke sekeliling, saya menemukan tulisan, Desa Pakis Sidokumpul.

Yap, makam Tionghoa inilah yang saya maksud, Makam Kembang Kuning.

Jalur penyelamat dari kemacetan

Makam Kembang Kuning Surabaya ini bentuknya jauh dari kesan sederhana. Tidak ada nisan kecil yang menancap lurus seperti makam pada umumnya, tapi berupa bangunan permanen dari beton dan batu, dengan ukuran yang bisa sebesar kasur king size, bahkan lebih. Bagian utamanya berupa pusara yang ditinggikan, dengan nisan batu berbentuk papan tegak di sisi depan, biasanya bertuliskan nama, tanggal lahir, dan wafat dalam aksara Mandarin maupun Latin.

Yang paling khas adalah struktur melengkung setengah lingkaran yang memeluk bagian belakang makam, membentuk formasi seperti kursi atau tapal kuda. Lengkungan ini bukan sekadar ornamen, tapi bagian penting dari filosofi fengshui, yang dipercaya berfungsi sebagai pelindung, seolah-olah leluhur yang dimakamkan sedang “dipangku” oleh alam.

Di bagian depan nisan, biasanya ada meja altar batu datar, tempat keluarga meletakkan dupa, makanan persembahan, atau bunga saat sembahyang. Membuat keseluruhan bentuknya benar-benar mirip kursi batu raksasa. Kalau tidak ada tulisan nama orang meninggal, mungkin saya akan mengira ini halte pribadi arwah kelas menengah atas.

Yang paling mengejutkan, makam-makam ini tidak tersembunyi di balik tembok tinggi. Kompleks Makam Kembang Kuning ini terbuka. Dan jarak makam dari jalan hanya sekitar dua meter. Pengendara benar-benar melintas di tengah makam itu karena digunakan sebagai jalur alternatif.

Baca Juga:

Jalanan Surabaya yang “Liar” Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas

Ugal-ugalan Sopir TransJatim Menyelamatkan Masa Depan Mahasiswa Mojokerto yang Kuliah di Surabaya

Jadi tempat main layangan dan jualan gorengan

Melihat ukurannya besar dan posisinya di ketinggian, permukaan atas makam itu datar dan cukup luas. Itulah sebabnya, sore itu saya melihat anak-anak bisa berdiri di atasnya untuk bermain layangan, dan beberapa orang dewasa dengan santai menggelar terpal di atasnya. Sesuatu yang, jujur saja, sebelumnya tidak pernah saya bayangkan bisa terjadi di atas sebuah makam.

Kekagetan saya belum selesai. Saya tidak bercanda, ada kambing yang ikut numpang teduh di bawah atap makam. Kambing.

Kambingnya terlihat damai sekali. Mungkin dia merasa dilindungi leluhur yang bersemayam di Makam Kembang Kuning. Saya hanya bisa tertegun. Bapak driver, yang mungkin sudah hafal ekspresi penumpang yang baru pertama lewat sini, berkata santai, “Di sini sering buat jualan, Mbak. Kalau malam rame.”

Saya memastikan, “Di makam ini, Pak?”, “Iya, Mbak. Sepanjang sini. Nanti malam lampu-lampu. Orang jualan makanan. Udah biasa.” Udah biasa, merupakan kalimat paling kuat untuk menjelaskan bagaimana manusia bisa beradaptasi dengan apa pun. Bahkan kematian.

BACA JUGA: Makam Sunan Botoputih dan Penarik Pusaka yang Berpura-pura

Makam Kembang Kuning, (solusi) lahan terbuka di tengah keterbatasan Surabaya

Rumah terakhir itu hari ini tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan jasad, tapi juga menjadi bagian dari kehidupan. Diduduki, dinaiki, dijadikan tempat berteduh, bahkan tempat orang mencari penghidupan di kota sebesar Surabaya yang semua lahannya semakin terbatas. Mungkin dulu keluarga membangun dengan harapan akan dikenang selamanya, kini berdampingan dengan rutinitas orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa penghuninya.

Dan mungkin, di situlah ironi terbesar sebuah kota bernama Surabaya. Bahwa di kota sebesar ini, tak ada ruang terbuka yang benar-benar untuk warganya. Hingga mereka harus memakai makam untuk tempat berkumpul. Ruang terbuka yang dipunya, ternyata menyita kedamaian para jiwa yang harusnya beristirahat.

Makam Kembang Kuning Surabaya, akhirnya, membuat saya sadar satu hal sederhana: kadang yang perlu kita takuti bukan tempatnya. Tapi cerita tentang bagaimana manusia memperlakukannya.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jejak Makam yang “Berceceran” di Gang-gang Kampung Peneleh Surabaya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Mei 2026 oleh

Tags: kembang kuningmakam kembang kuning surabayaSurabaya
Ferika Sandra

Ferika Sandra

Seorang pustakawan dari Kota Malang yang mencoba menulis untuk menertibkan pikiran. Gemar dengan isu-isu literasi dan kebudayaan.

ArtikelTerkait

Bus Sugeng Rahayu, Si Lumba-lumba Jalanan Andalan Warga Nganjuk Utara yang Merantau ke Surabaya

Bus Sugeng Rahayu, “Si Lumba-lumba Jalanan” Andalan Warga Nganjuk Utara yang Merantau ke Surabaya

24 November 2023
Surabaya Nggak Nyaman di Mata Arek Suroboyo Sendiri eri cahyadi

2 Problem Mendesak di Surabaya yang Perlu Ditangani Eri Cahyadi ketika Terpilih Nanti

13 November 2024
4 Fakta Menarik tentang Surabaya yang Jarang Dibicarakan Terminal Mojok

4 Fakta Menarik tentang Surabaya yang Jarang Dibicarakan

19 Juli 2022
Penderitaan Kuliah di Semarang dan Surabaya, Kota Mana yang Paling Menyiksa Mahasiswa?

Penderitaan Kuliah di Semarang dan Surabaya, Kota Mana yang Paling Menyiksa Mahasiswa?

13 Oktober 2025
Royal Plaza Surabaya Makin Mewah, Nggak Cocok Jadi Mal Sejuta Umat Lagi

Royal Plaza Surabaya Makin Mewah, Nggak Cocok Jadi Mal Sejuta Umat Lagi

11 Desember 2024
5 Tempat Makan di Surabaya dengan Porsi Jumbo, Dijamin Wareg Terminal Mojok

5 Tempat Makan di Surabaya dengan Porsi Jumbo, Dijamin Wareg!

21 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya (Wikimedia Commons)

3 Pengalaman Menyebalkan yang Pasti Terjadi di KKN, Begini Cara Mengatasinya biar Tetap Waras

1 Juli 2026
Sekolah Negeri yang Seharusnya Gratis Ternyata Menyimpan Biaya Tersembunyi yang Perlu Ditanggung Ortu Mojok.co

Sekolah Negeri yang Seharusnya Gratis Ternyata Menyimpan Biaya Tersembunyi yang Perlu Ditanggung Ortu

3 Juli 2026
Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera Mojok.co

Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera

28 Juni 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Udara Bersih, Hak Asasi yang Cuma Bisa Dirasakan Warga Depok Sebulan Sekali

28 Juni 2026
Alasan Saya Malas Jajan di Area Food Street AEON Mall Tanjung Barat Mojok.co

Alasan Saya Malas Jajan di Area Food Street AEON Mall Tanjung Barat

2 Juli 2026
Honda BeAT, Motor Terbaik untuk Menemani Mahasiswa UNNES Menjalani Hidup pertamax pertalite

6 Motor yang Dikira Harus Pakai Pertamax tapi Ternyata Masih Aman dan Memang Bisa Pakai Pertalite  

28 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.