Ada persepsi yang menarik soal Kayutangan di mata orang Malang. Ketika bicara soal tempat ini, orang Malang akan merujuk pada dua hal: nostalgia dan kebencian. Orang Malang punya rasa nostalgia akan Kayutangan sebab ia adalah saksi bisu peradaban Ngalam. Mulai dari toko-toko yang masih bertahan dari zaman Belanda, hingga kisah tentang Houtenhand, sebuah bar kecil yang menjadi semacam titik temu scene musik Malang.
Tapi orang Malang juga punya kebencian tersendiri. Soal kemacetan tentu jadi salah satunya. Orang Malang kalau sudah lewat Kayutangan di jam-jam sibuk, pasti misuh-misuh. Selain itu, soal proyek revitalisasi yang dari awal sudah nggak jelas, hingga hasilnya yang jauh dari kata memuaskan juga jadi alasan mengapa banyak orang Malang yang nggak suka dengan Kayutangan Malang.
Persepsi ini akhirnya memunculkan satu pertanyaan: apakah orang Malang masih suka main ke sini? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya berani bilang nggak. Mengapa saya berani bilang begitu? Sini tak jelasin.
Kayutangan nggak pernah jadi tujuan spesifik tempat main orang Malang
Sebagai sebuah kawasan, Kayutangan jelas nggak berdiri sendiri. Di dalamnya ada banyak kehidupan, ada banyak titik-titik yang bisa disinggahi. Mulai dari warung makan, kedai kopi, toko baju, hingga toko pernak-pernik. Siapa pun yang datang ke Kayutangan, termasuk orang Malang, pasti punya tujuan spesifik. Dan Kayutangan sebagai sebuah kawasan, nggak pernah jadi tujuan spesifik.
Maksudnya begini. Orang Malang yang datang ke Kayutangan itu nggak pernah ujug-ujug datang dengan niat pengin main ke sana. Mereka pasti ada tujuan lain yang lebih spesifik. Entah itu nyobain tempat makan yang ada, beli kain di salah satu toko kain, atau ada invitation ke acara opening gift shop kalcer di Kayutangan.
Bahkan yang lebih “parah” lagi, orang Malang yang datang ke tempat ini biasanya untuk menemani tamu (kawan/saudara) dari luar kota yang pengin tahu seperti apa Kayutangan, atau ada klien yang minta spot foto/videonya di tempat ini (let’s say orang Malang ini kerjanya sebagai fotografer/videografer).
Kayutangan sebagai sebuah kawasan (apalagi sebagai sebuah wilayah heritage) itu nggak pernah jadi tujuan spesifik orang Malang untuk main. Kalau nggak ada tempat/spot yang menarik dan harus dikunjungi, orang Malang ngapain juga pergi ke sini?
Macet dan semrawutnya Kayutangan yang bikin males
Masuk ke permasalahan utama. Salah satu alasan mengapa orang Malang males main ke Kayutangan adalah perkara macet. Iya, Kayutangan itu macet banget. Tiap jam-jam sibuk, apalagi di akhir pekan dan musim liburan, Kayutangan jadi titik yang paling menjijikkan. Macetnya bikin emosi. Mulai dari arah Gramedia, lalu perempatan Semeru, hingga Simpang Avia, macet semua.
Nggak tahu kenapa Kayutangan Malang ini masih saja macet. Padahal, Kayutangan yang sekarang itu sudah one way, satu arah. Pemberlakuan one way ini kan katanya untuk mengurangi kepadatan kendaraan. Tapi kok ya tetap saja macet? Masa nggak ada solusi lain buat kemacetan di Kayutangan? Ini siapa yang nggak becus, sih, sebenarnya?
Selain macet, Kayutangan ini juga semrawut. Kesemrawutan Kayutangan bisa terlihat dari banyaknya parkir (legal/ilegal) di sepanjang ruas Kayutangan. Di kiri-kanan ada saja spot-spot parkir yang nggak hanya diisi motor, tapi diisi mobil. Padahal Kayutangan sudah punya gedung parkir terpadu, tapi kok ya masih saja ada yang parkir di pinggir jalan.
Situasi kayak gini yang bikin orang Malang males main. Kita ini niatnya refreshing, niatnya healing, eh malah jadi makin pusing kalau ke Kayutangan.
Desainnya terlalu mirip Malioboro. Jadi terkesan plagiat dan nggak punya identitas
Orang Malang itu sebenarnya suka dengan proyek revitalisasi Kayutangan. Kayutangan nantinya bakal jadi ikon Kota Malang, bakal lebih cantik, lebih enak dilihat dan dilewati. Tapi, gara-gara desain dan konsepnya yang koyok taek, orang Malang langsung jadi ilfil dan benci dengan proyek revitalisasi Kayutangan.
Bayangkan saja, Kayutangan Malang ini tempat bersejarah bagi peradaban Kota Malang. Kayutangan ini ikonnya Malang. Tapi desain dan konsep revitalisasinya seakan nggak menunjukkan kalau Kayutangan ini Malang banget. Desain dan konsep Kayutangan malah terkesan meniru Malioboro di Jogja. Mulai dari hiasan lampu jalan, hingga batu andesit yang dipasang di jalan Simpang Avia, yang mirip dengan Titik Nol Yogyakarta.
Potret Kayutangan seperti inilah yang membuat orang Malang males untuk main. Nggak hanya males main, orang Malang bahkan benci. Ya gimana nggak males dan benci, ikon kota yang seharusnya punya kekhasan, punya identitas sendiri, malah terkesan meniru identitas kota lain. Jadinya kayak nggak punya identitas, kan?
Lagian, tempat ini juga bukan jadi tujuan main orang Malang, kok. Tempat ini kayak nggak dibuat, nggak diperuntukkan untuk orang Malang. Kayutangan ini buat mainnya para turis, para wisatawan.
Justru agak aneh kalau ada orang Malang yang kalau mau main (refreshing/healing) tapi milihnya ke Kayutangan. Mending jalan-jalan ke Batu, ke Bedengan, atau sekalian ke pantai Selatan aja. Ngapain ke Kayutangan?
Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Berlibur ke Kayutangan Malang yang Katanya Indah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













