Di pertengahan tahun seperti ini, banyak universitas di Indonesia yang mengadakan program KKN bagi mahasiswanya. Mereka didorong untuk mengabdi dan mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat di bangku kuliah langsung kepada masyarakat. Banyak daerah yang kemudian menjadi tempat mahasiswa untuk KKN.
Yang terdengar cukup kencang kabarnya adalah UGM yang menerjunkan kurang lebih 8.178 mahasiswa pada periode ini untuk mengabdi di seluruh Indonesia yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Saat kabar tersebut masuk ke media sosial, banyak netizen yang mengapresiasi, tapi nggak sedikit juga yang mempertanyakan bahkan mengkritik.
Salah satu yang cukup bikin saya mengernyitkan dahi adalah ketika UGM akan menerjunkan KKN ke Jayapura. Ada yang malah mempertanyakan kenapa KKN di Jayapura yang dinilai adalah kota. Bukan di Papua Pegunungan atau Merauke yang dinilai lebih butuh. Perdebatan ini kemudian cukup mendapat atensi di kolom komentarnya.
Ada yang kemudian membela dengan “Sudah bagus ada KKN ke Papua, daripada Papua nggak tersentuh sama sekali” dan sebagainya. Menurut saya, pihak kampus pasti sudah mempertimbangkan berbagai hal sebelum memilih daerah tersebut sebagai tempat KKN termasuk faktor akses, ketersediaan relasi, serta faktor keselamatan dan keamanan.
Mungkin UGM memilih Jayapura daripada daerah lain di Papua karena aksesnya paling mudah dijangkau untuk KKN mahasiswa, relasi dengan daerah tujuan juga ada misalnya lewat Kagama, serta faktor keselamatan dan keamanan yang lebih baik.
KKN di kota itu nggak masalah, justru lebih sulit
Sependek pengetahuan saya yang pernah jadi mahasiswa dan pernah ikut KKN, yang mempertanyakan tentang kenapa KKN di kota, bukan di desa, merupakan hal lumrah di masyarakat awam. Sebagai contoh, pengalaman saya KKN di salah satu desa di sebuah kabupaten di Jawa Tengah juga merasakan hal yang sama.
Di hari awal-awal KKN, kami melakukan perkenalan dengan masyarakat. Tapi kemudian ada salah satu warga yang nyeletuk bertanya, “Kenapa KKN di sini mas? Di sini sudah maju.”
Kami merasa nggak ada salah juga pertanyaan tersebut. Memang, desa tempat kami KKN ini secara administratif adalah desa. Tapi secara sosiologis ini desa yang sudah sangat ramai, maju, dan metropolitan.
Mungkin masyarakat awam menilainya kalau desa yang di pelosok lebih cocok untuk dijadikan lokasi pengabdian ketimbang wilayah yang sudah maju macam perkotaan. Tapi tunggu dulu, menurut saya KKN di kota atau daerah yang sudah terbilang maju juga tetap relevan kok. Jelas bukan karena nyari enak biar dekat sama kampus atau rumah.
Kota pun butuh
Setiap wilayah mau itu kota atau desa pasti punya potensi bahkan juga permasalahan. Nah, di situlah salah satu guna KKN untuk membantu mengembangkan dan memaksimalkan potensi daerah tersebut sekaligus menjawab persoalan yang ada dengan mengaplikasikan ilmu dari berbagai bidang studi yang sudah dipelajari di kampus.
Jadi, selain pedesaan, perkotaan tetap dirasa masih perlu itu setidaknya untuk membantu menjawab dan memecahkan masalah yang ada di masyarakat perkotaan. Itulah makanya harus dibarengi sama proker yang relevan dan lebih berdampak, nggak cuma plangisasi dan sosialisasi yang nggak perlu.
Sembari mengabdi, sebetulnya mahasiswa juga belajar
Judulnya aja kuliah kerja nyata, sudah pasti tujuan utamanya adalah belajar. Kalau komposisi bungkus makanan, bahan yang paling banyak harus dicantumkan paling depan. Dengan logika yang sama, maka di KKN porsi kuliah atau belajar adalah yang paling besar dan utama.
Sejatinya, mahasiswa nggak hanya memberi kepada masyarakat berupa berbagai program, aksi nyata, dan bantuan-bantuan lainnya tapi mahasiswa juga mendapat sesuatu dari masyarakat yaitu ilmu dan pengalaman yang nggak didapat di kampus. Ada ungkapan kalau belajar bisa dari mana saja, berarti KKN juga sangat bisa kalau dilakukan di kota nggak hanya di desa.
Lewat KKN, mahasiswa didorong untuk nggak cuma “ndekem” di ruang-ruang kelas dan perpustakaan saja. Tapi juga belajar langsung dengan melihat realitas sosial dan interaksi dengan masyarakat. Termasuk belajar dari dinamika masyarakat perkotaan yang juga sama insightful-nya dengan masyarakat desa.
Saya rasa beberapa poin ini jadi jawaban kenapa program KKN ada yang dilakukan di kota atau wilayah yang relatif sudah maju. Sebab, nggak ada salahnya juga KKN di kota, wong sama-sama mengabdi dan belajar. Bukan hanya nyari enaknya doang.
Penulis: Rizqian Syah Ultsani
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sebelum KKN, Pahami bahwa Hal-Hal Menyebalkan dalam KKN yang Kebanyakan Datang dari Teman Satu Posko
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













