Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jangan Hapus Tradisi Jimpitan, Ini Satu-satunya Pajak yang Tidak Dibenci Rakyat

Riko Prihandoyo oleh Riko Prihandoyo
5 Juni 2026
A A
Jangan Hapus Tradisi Jimpitan, Ini Satu-satunya "Pajak" yang Tidak Dibenci Warga

Jangan Hapus Tradisi Jimpitan, Ini Satu-satunya "Pajak" yang Tidak Dibenci Warga (Pixabay)

Share on FacebookShare on Twitter

Perkara tradisi, banyak dari kita yang merasa tidak perlu mempertanyakannya atau menguliknya lebih dalam. Saya pun begitu perkara jimpitan. Waktu kecil saya tidak pernah bertanya kenapa setiap minggu ada beras yang dikumpulkan dari rumah-rumah warga. Saya menganggap itu sama wajarnya dengan ronda malam, kerja bakti, atau suara kentongan yang kadang terdengar menjelang tengah malam.

Baru setelah tinggal di tempat lain, saya sadar tidak semua kampung punya kebiasaan seperti itu. Dan lebih mengejutkan lagi, tidak semua kampung punya cara sederhana untuk menjaga rasa peduli antarwarganya.

ADVERTISEMENT

Setelah dewasa saya mulai mengerti, kalau dipikir-pikir jimpitan itu sebenarnya cukup aneh. Di negara yang warganya sering mengeluh soal pajak, iuran, atau pungutan apa pun, ada satu “pajak” yang justru bisa bertahan puluhan tahun tanpa banyak protes. Orang rela mengeluarkan beras atau uang receh secara rutin tanpa perlu ditagih berkali-kali.

Kalau melihat praktiknya di berbagai daerah, bentuk jimpitan memang berbeda-beda. Di kampung saya di Purworejo, yang dikumpulkan masih berupa beras. Sementara ketika saya menetap untuk bekerja di Yogyakarta, banyak yang sudah menggunakan uang receh, biasanya lima ratus perak atau seribu rupiah yang dimasukkan ke dalam wadah kecil di depan rumah.

Bentuknya boleh berbeda, tetapi logikanya tetap sama: semua orang menyumbang sedikit agar semua orang bisa merasakan manfaatnya.

Crowdfunding kearifan lokal

Kalau diterjemahkan ke bahasa modern, jimpitan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan crowdfunding. Bedanya, jimpitan sudah ada jauh sebelum orang mengenal aplikasi donasi atau tombol “patungan sekarang”. Nilainya memang kecil, hanya segenggam beras atau beberapa ribu rupiah. Tapi jika dilakukan oleh satu kampung secara konsisten, hasilnya bisa menjadi sesuatu yang besar dan benar-benar terasa manfaatnya.

Yang menarik, manfaat jimpitan tidak berhenti pada kas warga. Banyak orang mengira tujuan utamanya hanya mengumpulkan beras atau uang, padahal ada fungsi lain yang sering luput diperhatikan. Karena harus mengambil jimpitan dari rumah ke rumah, petugas ronda mau tidak mau harus benar-benar berkeliling kampung. Mereka tidak bisa sekadar duduk di pos ronda sambil ngopi, main kartu, atau mengobrol sampai pagi. Mereka harus berjalan menyusuri gang dan memastikan lingkungan tetap aman.

BACA JUGA: Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

Baca Juga:

Modal 20 ribu rupiah, kamu bisa makan tiga kali sehari di Ngaglik, Jogjakarta

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru

Artinya, jimpitan sebenarnya bukan cuma soal bantuan sosial, tetapi juga soal keamanan lingkungan. Sistemnya sederhana, tetapi efektif. Kampung tidak perlu memakai istilah keren seperti community surveillance atau smart security. Cukup dengan segenggam beras, warga sudah menciptakan mekanisme pengawasan lingkungan yang berjalan setiap malam tanpa perlu banyak biaya.

Mungkin karena manfaatnya terasa langsung, warga tidak pernah benar-benar mempermasalahkan tradisi ini. Berbeda dengan banyak iuran lain yang kadang memunculkan pertanyaan panjang tentang digunakan untuk apa, jimpitan relatif mudah dipahami.

Ketika ada warga sakit, kas jimpitan bisa membantu. Lalu ketika ada kegiatan kampung, kas jimpitan bisa dipakai. Ketika ada kebutuhan mendadak, warga tidak perlu menunggu proposal atau rapat berjam-jam untuk mencari dana.

Mulai banyak yang tidak mengenal jimpitan

Masalahnya, tradisi seperti ini mulai jarang ditemui. Banyak perumahan baru tidak mengenal jimpitan. Banyak warga yang bahkan tidak mengenal tetangga sebelah rumahnya. Hubungan sosial perlahan digantikan oleh grup WhatsApp RT yang sering kali lebih ramai ucapan “selamat pagi” daripada aksi nyata di lapangan.

Padahal yang dikumpulkan oleh jimpitan sebenarnya bukan cuma beras atau uang receh. Yang dikumpulkan adalah rasa memiliki terhadap lingkungan. Kesadaran bahwa hidup bertetangga tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah, satpam, atau grup WhatsApp. Ada hal-hal yang hanya bisa berjalan ketika warga masih mau peduli satu sama lain.

Oleh karena itulah, saya merasa tradisi jimpitan layak dipertahankan. Bukan karena nilai ekonominya besar, melainkan karena nilai sosialnya jauh lebih mahal daripada segenggam beras yang dikumpulkan setiap minggu. Mungkin jimpitan memang satu-satunya “pajak” yang tidak pernah benar-benar dibenci warga. Sebab sejak awal, semua orang tahu ke mana hasilnya pergi dan siapa yang akan merasakan manfaatnya.

Di zaman ketika orang semakin mudah terhubung tetapi semakin sulit merasa dekat, barangkali jimpitan adalah pengingat bahwa gotong royong tidak selalu membutuhkan program yang besar.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menghitung Pendapatan dari Dana Jimpitan dalam Lingkup RT di Sleman

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2026 oleh

Tags: jimpitanJogjaPurworejotradisi desa
Riko Prihandoyo

Riko Prihandoyo

Bekerja membantu usaha orang lain sambil menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Menulis ketika suasana hati memberi ruang, sembari terus belajar menyemangati diri sendiri.

ArtikelTerkait

Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Jalan Alternatif Jogjakarta-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

2 Agustus 2026
4 Perbedaan Gado-gado Jogja dan Gado-gado Jakarta yang Bikin Lidah Orang Ibu Kota seperti Saya Kaget Mojok.co

4 Perbedaan Gado-gado Jogja dan Gado-gado Jakarta yang Bikin Lidah Orang Ibu Kota seperti Saya Kaget

22 Agustus 2025
Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan! konten kreator jogja

Kampanye Jogja Murah Itu Memang Penuh “Tipu Daya”, tapi Mau Tak Mau, Harus Kita Terima dan Tak Harus Dilawan

15 Juni 2025
Lagu “Go Go Kota Solo” Alasan Saya Suka Naik KRL Jogja-Solo Mojok.co

Lagu “Go Go Kota Solo” Alasan Saya Suka Naik KRL Jogja-Solo

24 Oktober 2024
Circle K Lempuyangan, Tempat Ngedate Underrated di Jogja, Bisa Deep Talk Tanpa Bikin Dompet Boncos! warung madura

Circle K Lempuyangan, Tempat Ngedate Underrated di Jogja, Bisa Deep Talk Tanpa Bikin Dompet Boncos!

10 Juli 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini Mojok.co

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini 

22 Agustus 2026
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

21 Agustus 2026
Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

20 Agustus 2026
Gara-gara industri, matcha kini jadi overrated (Unsplash)

Matcha layak dicintai, hanya saja industri membuatnya jadi overrated

23 Agustus 2026
4 tips menghindari tempat kursus red flag di Kampung Inggris Pare, saya bagikan tipsnya agar kunjungan kalian tidak berakhir kecewa Mojok.co

4 tips menghindari tempat kursus red flag di Kampung Inggris Pare, saya bagikan tipsnya agar kunjungan kalian tidak berakhir kecewa

26 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.