Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Pernah Benci Dosen yang Slow Respon Balas WhatsApp, Kini Saya Mengerti

Muhammad Asgar Muzakki oleh Muhammad Asgar Muzakki
22 Mei 2026
A A
Saya Pernah Kesal karena Dosen Slow Respon WA, Sampai Akhirnya Jadi Dosen Mojok.co

Saya Pernah Kesal karena Dosen Slow Respon WA, Sampai Akhirnya Jadi Dosen (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saat jadi mahasiswa, saya kesal dengan dosen yang lama membalas chat WhatsApp. Saya sudah mengirimkan pesan dengan penuh hormat, pakai salam, kata-katanya rapi. Tidak lupa emoji “sendiko dawuh” yang kerap dipakai kepada orang lebih tua maupun atasan. 

Akan tetapi, entah kapan pesan tersebut dibalas. Kalau beruntung, balasan akan datang beberapa jam berselang. Kalau sial, pesan baru dibalas besok atau tidak pernah dibalas. Bahkan, kadang saya sampai lupa pernah bertanya atau menginformasikan apa saja lewat pesan WA. 

Saya yakin banyak mahasiswa lain juga mengalami hal serupa, bahkan lebih perih. Kadang, WhatsApp dosen terlihat sedang aktif, tapi pesan dibiarkan menggantung begitu saja, tanpa balasan, tanpa kepastian. 

Saking banyaknya mahasiswa yang mengalami hal serupa, pengalaman kolektif ini naik derajat menjadi materi stand up comedy. Bahkan, bahan bercandaan lintas kampus.

Saat jadi mahasiswa meme tersebut terlihat lucu. Akan tetapi, setelah kini jadi menjadi dosen, saya jadi memahami pengalaman tersebut dengan arti yang berbeda. Fenomena slow respon ini bukan sekadar kemalasan individual, dia sudah menjadi kultur akademik.

Baca juga Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan.

Alasan dosen sedang mengajar itu benar adanya

“Maaf sedang mengajar” jadi salah satu alasan yang paling sering dipakai dosen ketika telat membalas pesan. Setelah jadi pengajar, saya baru mengerti kalau alasan ini benar adanya, bukan sok sibuk atau dibuat-buat. 

Dosen memang bisa mengajar berjam-jam, pindah kelas, pindah gedung, lalu lanjut diskusi dengan mahasiswa lain. Biasanya kalau alasannya ini, respons masih tergolong manusiawi. Chat pagi dibalas siang. Chat siang dibalas sore. Masih ada harapan. 

Baca Juga:

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

5 Sifat Mahasiswa Semester Akhir yang Menjengkelkan, Segera Intropeksi Diri Jika Tidak Ingin Dijauhi Teman

Rapat, pelatihan, atau diklat itu bukan sok sibuk

Ini juga alasan yang sering dipakai. Biasanya pola waktunya khas: chat masuk pagi, balasan datang menjelang magrib, lengkap dengan kalimat, “Maaf baru balas, tadi sedang rapat.”

Akan tetapi, setelah saya ikut berbagai rapat dosen, saya menemukan fakta yang cukup mengejutkan: rapat itu sebenarnya tidak sesibuk itu. Kadang pembahasannya muter-muter. Kadang ada sesi yang bahkan membuat peserta membuka marketplace, membaca berita, atau mengecek grup keluarga. Dan ya, ponsel dosen biasanya tetap berada persis di sebelah tangan mereka.

Artinya, kemungkinan dosen melihat chat mahasiswa itu besar. Sangat besar. Hanya saja… membalasnya belum menjadi prioritas.

Ada juga tipe pengajar yang sebenarnya membaca pesan, tanda biru tercentang, lalu berniat membalas nanti. Persoalannya, “nanti” dalam dunia dosen adalah konsep yang sangat filosofis. Karena setelah itu muncul kelas lain, revisi administrasi, mahasiswa lain, grup dosen, undangan seminar, jurnal yang deadline-nya kemarin, sampai akhirnya chat mahasiswa tadi tenggelam ke lapisan terdalam WhatsApp.

Baca juga Samarinda Tidak Ramah buat Mahasiswa yang Tidak Bisa Naik Motor karena Tidak Ada Transportasi Umum yang Bisa Diandalkan!

Dear mahasiswa, kami tidak bermaksud mengabaikan pesan kalian

Mahasiswa sering mengira dosen sengaja mengabaikan mereka. Padahal tidak selalu begitu. Kadang dosen hanya kalah cepat dengan kekacauan hidupnya sendiri.

Tetapi, setelah dipikir-pikir lagi, ada sisi lain yang jarang dibahas mahasiswa. Boleh jadi slow respon dosen itu adalah hubungan resiprokal.

Coba muhasabah sebentar. Bukankah mahasiswa juga punya bakat serupa?

Dosen mengirim revisi bimbingan hari ini, mahasiswa menghilang tiga minggu. Dosen bertanya, “Kapan seminar proposal?” Mahasiswa menjawab empat hari kemudian dengan alasan “Maaf Pak, baru buka WA” Padahal story WA dan Instagram-nya aktif setiap malam.

Jangan-jangan kultur slow respon ini sebenarnya hubungan timbal balik yang diwariskan turun-temurun di dunia akademik.

Dosen merasa mahasiswa sulit dihubungi. Mahasiswa merasa pengajar lebih sulit dihubungi. Akhirnya terciptalah ekosistem komunikasi pasif-agresif yang stabil dan berkelanjutan.

Jadi kalau disimpulkan bahwa dosen itu malas atau sengaja lama membalas chat, barangkali tidak proporsional. Kadang persoalannya sederhana: chat yang masuk terlalu banyak, sementara energi untuk membalas semuanya tidak selalu ikut tersedia. Begitu ya. 

Penulis: Muhammad Asgar Muzakki
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Mei 2026 oleh

Tags: chat dosenDosenMahasiswaslow responSlow Respon WhatsAppWhatsapp
Muhammad Asgar Muzakki

Muhammad Asgar Muzakki

Mahasiswa 'season akhir' di SPs UIN Jakarta menyukai hobi mengoleksi model kit, figure, dan blind box

ArtikelTerkait

Jangan Jadikan Aktif di Ormawa sebagai Alasan Nilai Jelek

Jangan Jadikan Aktif di Ormawa sebagai Alasan Nilai Jelek

5 Januari 2023
3 Cara Perlakukan Dosen yang Suka Tiba-tiba Chat WA dan Minta Bantuan Seenaknya terminal mojok.co

3 Cara Perlakukan Dosen yang Suka Tiba-tiba Chat WA dan Minta Bantuan Seenaknya

8 Februari 2021
skripsi itu baik

Skripsi Itu Baik, Kalau Ada yang Jahat, Mungkin Dia Skripsi yang Tersakiti

12 Desember 2019
Kuliah di Mesir Memang Menarik, tapi Nggak Semua Orang Indonesia akan Cocok Hidup di Sana Mojok.co

Kuliah di Mesir Memang Prestisius, tapi Nggak Semua Orang Indonesia akan Cocok Hidup di Sana

10 Februari 2025
4 Hal Jadi Mahasiswa UIN Jakarta Itu Nggak Enak terminal mojok.co

4 Hal Jadi Mahasiswa UIN Jakarta Itu Nggak Enak

16 Desember 2021
salah jurusan

Masuk Kuliah: Saatnya Salah Jurusan

2 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
Pantai Menganti Kebumen Jawa Tengah, Pantai Indah tapi Berbahaya (Wikimedia Commons)

Pantai Menganti Kebumen, Pantai Terindah di Jawa Tengah, tapi Perjalanan ke Sana Adalah Simulasi Jantungan yang Dibungkus Liburan

22 Mei 2026
Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah Mojok.co

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah

17 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026
GOR Jatidiri Semarang Memang Tempat Olahraga, tapi Nggak Cocok buat Jogging Pemula (Pixabay)

GOR Jatidiri Semarang Memang Tempat Olahraga, tapi Nggak Cocok buat Jogging Pemula

21 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.