Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

Aliful Muhlis oleh Aliful Muhlis
18 Mei 2026
A A
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu, saya juga termasuk orang yang sangat aktif sekali dalam organisasi kampus. Bahkan bisa dibilang banyak sekali organisasi yang saya ikuti. Saya selalu percaya bahwa organisasi adalah tempat terbaik untuk berkembang. Tempat belajar, tempat menempa diri, tempat ingin jadi lebih dari sekedar mahasiswa biasa.

Dan memang, di titik tertentu, itu benar. Organisasi memanglah tempat terbaik untuk melatih potensi diri.

Tapi semakin lama saya melihat, ada satu hal yang mulai terasa janggal. Ternyata, tidak semua orang bisa berkembang di organisasi. Bahkan, bisa dibilang cukup banyak yang terbuai dan justru tenggelam di dalamnya.

Bukan karena organisasi mahasiswanya yang salah, tapi karena cara mereka menikmatinya yang keliru, sehingga mereka terjebak oleh candunya organisasi. Dan yang lebih berbahaya, ketika candu itu dibungkus dengan jabatan. Karena di situlah awal mula semuanya, di mana awalnya terlihat sangat keren, padahal pelan-pelan mematikan.

Terlalu banyak bicara, tapi lumpuh saat harus berhadapan dengan realita

Saya sering menemui orang-orang yang sangat vokal di organisasi. Jago orasi, pandai berbicara di depan kader, lihai menyusun narasi besar tentang perubahan. Kalau rapat, mereka paling lantang. Kalau diskusi, mereka paling dominan. Apalagi kalau ngopi, petuahnya tidak terbantahkan.

Tapi anehnya, ketika dihadapkan pada sesuatu yang sederhana seperti menulis makalah, skripsi, atau tugas lainnya mereka justru kesulitan. Alasannya sangat klasik, tidak sempat mengerjakan karena sibuk organisasi atau bahkan ada yang sangat tinggi omongannya ”buat apa nulis makalah dan tugas-tugas, itu hanya akan jadi sampah yang ditumpuk atau bahkan dimanfaatkan dosen untuk bahan menulis artikelnya”, miris.

Padahal kalau ditelusuri lebih dalam, bukan sibuknya yang jadi masalah, bukan hanya idealismenya yang ketinggian. Tapi sebenarnya yang terjadi ialah ketidakmampuan mereka untuk mengerjakan hal teknis secara konsisten. Mengetik saja mereka berat atau bahkan ada yang tidak tau caranya mengetik di komputer. Menyusun argumen ilmiah gelagapan. Bingung cara mulai nulis dari mana, tugasnya selalu ditunda atau bahkan tidak dikerjakan sama sekali.

Akhirnya, yang tersisa hanya kemampuan berbicara tanpa diimbangi kemampuan mengeksekusi.

Baca Juga:

Niat ikut organisasi mahasiswa di UIN cuma mau cari teman, malah jadi terpaksa ikut pengkaderan yang rumit

Rapat Organisasi Kampus: Belajar Berorganisasi atau Cuma Belajar Boros?

BACA JUGA: Saya Ditolak Masuk Organisasi Mahasiswa, dan Itu Adalah Anugerah Terbesar di Masa Kuliah

Ngopi, diskusi, dan ilusi merasa paling paham realitas

Ada kebiasaan yang memang sudah menjadi identitas para aktivis, yaitu ngopi dan diskusi. Katanya, di situlah aktivis lahir. Di tempat ngopilah ide dan gagasan lahir, di ruang itulah tempat belajar yang lebih bermanfaat dari hanya sekedar duduk di kelas.

Masalahnya, ini sering berubah jadi rutinitas tanpa arah. Ngopi sampai larut malam. Diskusi sampai hampir pagi. Besoknya bangun kesiangan. Kuliah ditinggal. Kalau ditanya kenapa jarang masuk kelas, jawabannya terdengar sangat tinggi. Mereka menjawabnya ”Kelas itu hanya formalitas. Ilmu bisa dicari di buku. Yang penting itu memahami realitas.”

Padahal yang terjadi, diskusinya muter di situ-situ saja. Tidak ada output, tidak ada karya, tidak ada progress nyata. Hanya obrolan panjang yang diulang-ulang. Sementara di sisi lain, nilai mata kuliah mulai berantakan. Banyak yang harus mengulang. SKS nggak cukup. Dan yang paling parah, ada yang sampai tidak bisa menyelesaikan kuliah. Akhirnya DO.

Semua berawal dari sesuatu yang terlihat sepele, kebiasaan yang tidak pernah dikontrol. Terlalu nyaman ngopi sampai larut malam, bangun kesiangan, berbicara banyak di depan orang, yang katanya punya banyak kader dan dihormati oleh mereka.

Lebih ironis lagi, orang tua di rumah selalu menunggu kelulusan mereka. Tapi yang didapat justru alasan yang berputar-putar yang dikarang. Saat ditanya orang tua jawabannya aneh, masih dibutuhkan di kampus, ada juga yang bilang masih bantu dosen. Atau masih ada amanah organisasi kampus.

Padahal kenyataannya mata kuliahnya banyak yang ngulang, skripsinya belum jalan. Lucunya lagi, kalau ditanya kadernya, jawabannya selalu dibikin elegan. Katanya skripsinya harus beda. Harus punya impact. Tidak boleh sekadar formalitas dan hanya jadi pajangan di perpus. Terdengar idealis, tapi ujung-ujungnya nihil.

Banyak yang terjebak di standar tinggi yang mereka buat sendiri, sampai akhirnya tidak selesai sama sekali.

Lulus, tapi terjebak gengsi dan bayang-bayang jabatan di organisasi mahasiswa

Ada juga yang akhirnya lulus. Dengan berbagai cara. Ada yang memang berjuang sendiri. Ada yang dibantu kader. Bahkan ada yang pakai jalan pintas dengan memilih jasa joki. Tapi masalahnya tidak berhenti di kelulusan. Justru muncul penyakit baru yang namanya GENGSI.

Label “aktivis”, “mantan ketua”, atau “senior” yang dulu dibanggakan, tiba-tiba berubah jadi beban. Mereka jadi terlalu memilih pekerjaan. Tidak mau kerja di perusahaan kecil. Tidak mau disuruh-suruh orang, ada juga yang omongannya tinggi dengan bilang tidak mau jadi budak pengusaha korup. Ada juga yang tidak mau dianggap turun level kalau bekerja di perusahaan kecil.

Padahal realitasnya, mereka belum punya apa-apa, belum bisa apa-apa. Fakta, saat mereka disuruh garap data excel kesulitan, bahkan sekedar mengoperasikan laptop atau komputer saja mereka masih gelagapan. Ironisnya, orang yang dulu paling lantang bicara soal keberanian dan perubahan, justru jadi orang yang paling takut menghadapi dunia nyata.

Takut melamar kerja. Takut bersaing, ada juga yang takut gagal.

Bahkan ada yang gengsi kalau harus melamar di tempat yang sama dengan juniornya. Mereka bergumam “Masak senior kalah sama junior?”, ”masak ketua kalah sama pengurus?”, “Masak mantan ketum kerja di situ?” Akhirnya, mereka memilih tidak mencoba sama sekali.

Lebih parah lagi, ada yang mulai menyalahkan keadaan. Katanya susah kalau tidak punya orang dalam. Padahal dulu, mereka sendiri yang paling sering bicara soal melawan sistem dan menciptakan perubahan.

Kalau mau usaha sendiri pun sama saja. Tidak mau mulai dari kecil. Tidak mau terlihat biasa. Katanya malu kalau harus jualan sesuatu yang dianggapnya kecil. Mereka bilang ”masak mantan ketua itu jualan dipinggir jalan” dan pikiran masak dan masak yang lainnya. Padahal usaha apapun itu mulia. Mulai sesuatu dari nol itu wajar. Gagal itu biasa. Tapi bagi mereka, itu tidak selevel dengan label jabatan yang pernah mereka sandang.

Organisasi mahasiswa itu bukan masalah, tapi bisa jadi candu kalau kita salah

Saya tidak bilang organisasi itu buruk. Saya juga tidak bilang semua aktivis seperti itu. Tapi ada pola yang hampir sama. Ketika organisasi dan jabatan sudah jadi candu, di situlah masalah mulai muncul. Orang lupa tujuan awalnya sebagai mahasiswa. Lupa bahwa organisasi itu alat, bukan tujuan. Lupa bahwa dunia nyata tidak selalu peduli jabatan di kampus.

Di luar sana, yang dilihat bukan seberapa lantang kita bicara, tapi seberapa mampu kita bekerja. Bukan seberapa sering kita orasi dan membicarakan masalah, tapi seberapa bisa kita menyelesaikan masalah. Dan yang paling penting, dunia nyata tidak memberi ruang untuk gengsi yang tidak berdasar.

Pada akhirnya, organisasi mahasiswa bisa membentuk seseorang. Tetapi juga bisa menjerumuskan. Tergantung, apakah dia mengendalikan organisasi itu atau sebaliknya, justru dia yang dikendalikan oleh candunya organisasi.

Penulis: Aliful Muhlis
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Organisasi Kampus dan Budaya Sok Sibuk yang Menyebalkan dari Anggotanya, padahal Menghasilkan Sesuatu Saja Tidak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2026 oleh

Tags: jabatan organisasi mahasiswaorganisasi kampusorganisasi mahasiswa
Aliful Muhlis

Aliful Muhlis

Ketua Umum Madura Millenial Institut (MMI). Seorang pembelajar biasa yang suka politik, buku, dan traveling.

ArtikelTerkait

3 Pengalaman Duka Saat Menjadi Anggota Ormawa UGM

3 Pengalaman Duka Saat Menjadi Anggota Ormawa UGM

10 Mei 2024
Aliran-Aliran Senior Organisasi Eksternal yang Betul-Betul Harus Dihindari

Aliran-Aliran Senior Organisasi Eksternal yang Betul-Betul Harus Dihindari

22 Februari 2020
Bangkalan Kabupaten Seribu Ketua: Organisasinya Banyak, Perubahannya Nol

Bangkalan Kabupaten Seribu Ketua: Organisasinya Banyak, Perubahannya Nol

12 Januari 2024
Visi Misi Calon Ketua Organisasi Mahasiswa Memang Jarang Ada yang Bagus dan Menarik terminal mojok.co

Visi Misi Calon Ketua Organisasi Mahasiswa Memang Jarang Ada yang Bagus dan Menarik

9 Februari 2021
Ormek Adalah Kumpulan Mahasiswa Gila Hormat yang Sebaiknya Diwaspadai Mojok.co

Ormek Lebih Cocok Disebut Kumpulan Mahasiswa Haus Pujian daripada Organisasi Mahasiswa

18 Juni 2025
Ikut Organisasi Mahasiswa Itu Sah-sah Saja, asal Siap Keluar Duit Lumayan organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa: Niat Mencari Pengalaman Berharga, tapi yang Terjadi Malah Boncos Setiap Bulannya, Nggak Lagi!

2 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Alternatif Jogjakarta-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

2 Agustus 2026
Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering Mojok

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering rumahan

2 Agustus 2026
Sadar nggak, hampir tiap stasiun punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya Mojok.co

Sadar nggak, hampir tiap stasiun kereta punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya

5 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.