Di Kehidupan Serbadaring, Divisi Desain Jadi Divisi yang Paling Nambah Capeknya

Artikel

Avatar

Akibat dari pandemi yang amat menyebalkan ini, kegiatan yang bersifat kerumunan terpaksa harus dibatalkan dan diganti dengan kegiatan daring. Perubahan ini berdampak sekali ke jalannya roda organisasi kampus. Program kerja mereka yang sudah direncanakan berdarah-darah dari awal kepengurusan terpaksa diganti atau malah dibatalkan. Haduh, kasihan.

Berbagai cara pun akhirnya dilakukan para organisator ulung di kampus. Dari mengadakan webinar yang mengundang narasumber menarik, bermain bersama melalui games online dari mulai Gartic dan Kahoot!, hingga bermunculan berbagai paid promote menyebalkan untuk mendanai orang-orang yang dijadikan narasumber di acara webinar suatu organisasi tersebut (padahal UKT bisa dipakai buat ini sebenernya, cuman kampus-kampus kayaknya pada pelit).

Semua itu dilakukan agar tidak dianggap gabut untuk kebaikan organisasi dan lingkungan kampus. Selain untuk menggantikan program kerja yang gagal berjalan, juga biar warga kampus tidak hanya mendapatkan ilmu dari dosen yang kadang seru kadang bikin istigfar itu. Mulia sekali kan niatnya.

Akibat dari pandemi ini pula, membuat beberapa divisi kepanitiaan yang tadinya kerja di lapangan terpkasa harus ditiadakan. Misalnya divisi logistik, medis, dan konsumsi yang memang harus kerja di lapangan. Lha bayangin aja kalau acaranya daring kayak gini, tugas logistik mau ngangkat apa? Ngangkat isu UKT nggak diturunin? Beda urusan dong.

Eits, tapi divisi yang paling terdampak pandemi ini adalah divisi desain. Divisi yang beranggotakan orang-orang yang dianggap mumpuni perihal perdesainan duniawi ini menjadi divisi yang skala capeknya bertambah gara-gara pandemi ini.

Soalnya, segala program kerja yang pindah ke daring butuh dipromosikan lewat poster visual. Suatu acara yang menarik ditentukan dari enggak bagusnya desain yang ditampilkan di Instagram. Nggak papa acara membosankan, yang penting desainnya menarik, daripada sebaliknya hehe. Begitu pula konten-konten yang dihadirkan di medsos organisasi kampus, harus bisa menarik simpati netizen Instagram.

Baca Juga:  Pertama Kali Trip Ke Jepang Cuma Bawa Cash 5,3 Juta Buat 8 hari dan Masih Sisa! Part 2

Pandemi ini membuat Instagram suatu organisasi menjadi cerminan gagal atau tidaknya suatu program kerja yang sedang dijalankan. Dan tentu tugas terberat berada di divisi desain yang menjadi juru kunci.

Sebagai seorang yang menjadi langganan anggota divisi desain, pandemi ini memang membuat otak saya dan kawan-kawan di divisi desain bekerja ekstra. Kami terpaksa harus mengikuti kemauan divisi lain untuk turut menjalankan proker atau keinginan mereka. Pekerjaan ini mana kenal hari libur.

Belum lagi masih banyak orang-orang yang menyepelekan kinerja orang-orang divisi desain. Ucapan seperti, “Lah, kan kalian kerjanya cuman ngedesain doang?” atau “Masak ngedesain gitu doang lama sih?” Eh pas udah selesai desainnya, muncul ucapan ganas lainnya, seperti “Kok jelek sih desainnya.” Emang serbasalah deh jadi anak desain. Kalau kata Mandra, nyakitin semua! Nyakitin!

Ucapan-ucapan itu semakin banyak terucap di saat pandemi ini yang juga makin memberatkan kinerja orang-orang divisi desain. Lha dikiranya desain itu gampang? Dikiranya nggak pakai usaha? Apalagi bagi orang-orang seperti saya yang cuma belajar desain dari YouTube atau bisa ngedesain tapi sebatas di Canva.

Oleh karena ini kerja sukarela yang nggak ada uangnya, setidaknya ada kata-kata yang menghibur gitu buat kami para desainer. Jika ada revisi, ya pemgertian dikit, ini desain grafis, bukan desain gratis.

Begitulah keluh kesah menjadi anak desain yang skala capeknya jadi lumayan bertambah gara-gara pandemi ini. Walaupun saya juga menyadari bahwa hal tersebut memang merupakan konsekuensi yang pasti diterima dari mengikuti kepanitiaan atau suatu organisasi. Sebab tidak ada panitia yang nggak capek. Kalau nggak mau capek ya jangan jadi anak divisi desain panitia.

Baca Juga:  Menyoal Kuliah: Mau Ambisius Apa Chill Aja Ya?

BACA JUGA Urutan Kasta Divisi Kegiatan Mahasiswa dari yang Enak sampai yang Apes dan tulisan Ananda Bintang lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.