Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
8 Maret 2026
A A
Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua Mojok.co

Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, ada tulisan di Terminal Mojok dengan nada yang begitu memuja dosen muda. Salah satu alasannya, merasa satu frekuensi. Anggapan itu jelas nggak salah.

Akan tetapi, rasanya kita perlu melihat dari sudut pandang lain agar diskusinya nggak berat sebelah. Sebagai orang yang sudah menghabiskan nyaris separuh usia di bangku kuliah, saya punya pandangan yang sedikit berbeda.

Dosen muda itu memang asyik. Mereka nggak gagap teknologi dan terbuka diajak debat. Kalau bertukar pikiran, vibe yang terasa seperti mengobrol dengan kakak tingkat yang kelewat pintar.

Akan tetapi, setelah belasan tahun dihadapkan dengan berbagai gaya mengajar, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan. Di luar keilmuan, dosen senior punya value yang mungkin belum bisa ditawarkan oleh dosen muda.

Ilmu yang disampaikan terasa lebih membumi

Dosen muda yang saya temui punya kecenderungan ingin menjejalkan seluruh isi buku ke otak mahasiswanya. Ini bisa dimaklumi. Jiwa muda mereka masih idealis dan ingin unjuk gigi atas pengetahuan yang dimiliki.

Sayangnya, dengan gaya seperti itu, mahasiswa jadi rentan terjebak barisan definisi yang kering kerontang, nggak ada nyawanya. Padahal, kalau sebatas definisi seperti itu, mahasiswa bisa mendapatkannya hanya dengan membaca buku. 

Beda cerita kalau yang mengampu adalah dosen sepuh. Beliau-beliau ini sering kali mengajar dengan gaya mendongeng. Ilmu dibagikan lewat pengalaman hidup. Sepintas memang terdengar seperti cerita omong kosong. Tapi, kalau dicermati, itu adalah cara dosen senior menyampaikan penerapan teori lewat contoh fakta lapangan.

Memang, ceritanya kadang agak melebar sampai ke urusan lain. Namun, justru bumbu-bumbu ala gimmick itulah yang bikin ingatan cepat lekat di otak mahasiswa. Materi terasa lebih membumi. Hasilnya? Saat ujian menjelang, mahasiswa nggak kesulitan untuk mengingat setumpuk teori yang pernah dipaparkan.

Baca Juga:

Fotografer Wisuda Selalu Dilema antara Jaga Pertemanan atau Harga Teman

Pernah Benci Dosen yang Slow Respon Balas WhatsApp, Kini Saya Mengerti

Tidak sedikit dosen muda yang kelewat aktif hingga meninggalkan kelas

Sejauh pengalaman dan pengamatan saya, banyak dosen muda yang sibuknya bukan main. Mereka, entah terpaksa atau sukarela, terlibat di banyak proyek dan kegiatan. Tidak sedikit juga yang sedang semangat-semangatnya mengejar sertifikasi ini-itu. 

Dampaknya, dosen muda hobi sekali menggeser jadwal kuliah secara mendadak. Parahnya lagi, sering kali pembatalan dilakukan tepat di jam kuliah seharusnya dimulai. 

Sialnya, nggak semua mahasiswa tinggal di kosan belakang kampus. Banyak teman saya yang menempuh jarak puluhan hingga ratusan kilometer demi kuliah tatap muka.

Pembatalan sepihak yang mendadak itu rasanya seperti kena prank. Sudah rapi di kelas, tiba-tiba bagian akademik datang membawa kabar jadwal diundur. Sudah buang waktu, boros bensin pula.

Sementara, mayoritas dosen senior adalah penganut disiplin garis keras. Bahkan, tidak jarang beberapa dosen tua justru hadir di kelas lebih dulu ketimbang mahasiswa-mahasiswanya. 

Empati dosen sepuh melampaui kecanggihan teknologi

Dosen muda mungkin jago bikin slide Canva yang estetik atau pakai aplikasi kuis yang interaktif biar kelas terasa canggih. Namun, soal empati, menurut saya dosen senior adalah juaranya.

Pernah saya dengar, ada dosen tua yang sabar membimbing mahasiswa yang memang kurang kapasitas berpikirnya sampai lulus. Akui saja, sering kali dosen muda punya stok sabar terbatas mendampingi mahasiswa yang pemahamannya lebih lambat dibanding yang lain.

Di samping itu, dosen sepuh biasanya sudah melewati fase pembuktian diri. Mereka berhenti mencari validasi untuk menegaskan diri yang paling berwawasan luas. Efeknya, dinamika di kelas jadi jauh dari kata intimidatif.

Tugas lebih masuk akal

Tugas-tugas yang disodorkan ke mahasiswa juga terasa lebih esensial. Misalnya, membuat mapping materi masing-masing bab setiap minggu. Terasa membosankan, tetapi sangat dibutuhkan saat belajar untuk ujian.

Sebaliknya, kebanyakan dosen muda sangat berambisi memberikan segepok tugas yang kompleks. Maksudnya baik, agar mahasiswa benar-benar belajar. Sayangnya, kalau semua mata kuliah polanya begini, mahasiswa malah kerepotan dan nggak bisa meraih nilai maksimal karena tenaganya sudah habis untuk mengerjakan tugas yang kelewat rumit.

Segala perbedaan gaya tadi sebenarnya adalah bagian dari warna-warni dunia kampus. Namun bagi saya, kuliah bukan hanya tentang adu keren pemakaian aplikasi atau asyiknya seorang mentor diajak ngopi. Jadi, buat teman-teman yang menyukai interaksi dengan dosen muda, silakan nikmati kopinya. Untuk saya sendiri, kewarasan dan kemanusiaan wajib bertengger di puncak piramida.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Ironi Mahasiswa Madura di UNESA: Kena Roastingan Rasis Dosen Soal Suku, Malah Ditertawakan Mahasiswa Penjilat yang Cari Muka.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Maret 2026 oleh

Tags: Dosendosen mudadosen tuaKampusKuliahMahasiswa
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

Mahasiswa doktoral UNDIP jurusan Manajemen Pemasaran asal Semarang.

ArtikelTerkait

5 Tipe Orang yang Nggak Cocok Lanjut Kuliah. Perguruan Tinggi Semakin Eksklusif, Tidak Milik Semua Orang Mojok.co

5 Tipe Orang yang Nggak Cocok Lanjut Kuliah. Perguruan Tinggi Semakin Eksklusif, Tidak Milik Semua Orang

26 Mei 2024
persimpangan jalan

Mahasiswa Mahasiswi di Persimpangan Jalan Pasca KKN

14 Juni 2019
Kata Siapa Kos Tahunan Bikin Menderita? Nyatanya Nggak Seburuk Itu, kok, Asal Survei dengan Benar

Kata Siapa Kos Tahunan Bikin Menderita? Nyatanya Nggak Seburuk Itu, kok, Asal Survei dengan Benar

3 Mei 2024
Kampus Makin Pelit Kasih Uang Saku ke Mahasiswa KKN, padahal Biaya KKN Nggak Murah

Kampus Makin Pelit Kasih Uang Saku ke Mahasiswa KKN, padahal Biaya KKN Nggak Murah

9 Juli 2025
tuhan

Tuhan dalam Huruf Kapital

5 September 2019
10 Jurnal Ilmiah Gratisan yang Dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Terminal Mojok

10 Jurnal Ilmiah Gratisan yang Dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi

8 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Ulah Menyebalkan Dosen Penguji Skripsi. Tidak Killer, tapi Bikin Mahasiswanya Repot Mojok.co

Menulis Nama Pacar di Lembar Persembahan Skripsi Adalah Blunder Abadi dan (Pasti) Jadi Bencana di Masa Depan

23 Mei 2026
Perasaan Bahagia Saat Sahabat Menikah Berubah Sedih dan Kesepian karena Sadar Kehilangan Teman Main dan Cerita Mojok.co

Perasaan Bahagia Saat Sahabat Menikah Berubah Sedih dan Kesepian karena Sadar Kehilangan Teman Main dan Cerita

23 Mei 2026
Dear Wisatawan, Bandungan Semarang Nggak Melulu Soal Prostitusi, Ada Banyak Potensi Lain Mojok.co

Dear Wisatawan, Bandungan Semarang Nggak Melulu Soal Prostitusi, Ada Banyak Potensi Lain

26 Mei 2026
4 Pasar Kalcer Jogja yang Bisa Dikunjungi Selain Pasar Ngasem Mojok.co

4 Pasar “Kalcer” yang Bisa Dikunjungi kalau Bosan ke Pasar Ngasem Jogja

29 Mei 2026
Banjarbaru, Ibu Kota Provinsi Rasa Kabupaten Gara-gara Keliatan Medioker (Kota Banjarbaru via Wikimedia Commons)

Banjarbaru, Ibu Kota Provinsi Rasa Kabupaten Gara-gara Keliatan Medioker

26 Mei 2026
Guru Bimbel, Profesi Paling Pengertian di Dunia

Kalau Mau Anak Pintar Cukup Ikut Les atau Bimbel Saja, Sekolah Cuma buat Formalitas

23 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.