Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Ironi Mahasiswa Madura di UNESA: Kena Roastingan Rasis Dosen Soal Suku, Malah Ditertawakan Mahasiswa Penjilat yang Cari Muka

Nahlu Hasbi Heriyanto oleh Nahlu Hasbi Heriyanto
6 Maret 2026
A A
Ironi Mahasiswa Madura di UNESA: Kena Roastingan Rasis Dosen Soal Suku, Malah Ditertawakan Mahasiswa Penjilat yang Cari Muka

Ironi Mahasiswa Madura di UNESA: Kena Roastingan Rasis Dosen Soal Suku, Malah Ditertawakan Mahasiswa Penjilat yang Cari Muka (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Surabaya emang terkenal panas, tapi entah kenapa suhu di salah satu kelas UNESA hari itu kerasa jauh lebih bikin gerah. Bukan gara-gara AC yang kurang dingin, tapi murni karena hilangnya rasa empati dan sopan santun di dalam kelas. Siang itu, keringat saya ngucur bukan karena cuaca, tapi karena harus nahan emosi lihat orang-orang yang katanya pintar, tapi kok kelakuannya begitu. Saya dikritik, tapi entah gimana ceritanya, dikaitkan dengan darah Madura yang mengalir dalam nadi saya.

Kampus sering dibilang menara gading tempat pikiran manusia dibentuk jadi lebih beradab. Tapi, dari kejadian presentasi saya belum lama ini, ruang kelas malah berubah jadi panggung pamer diskriminasi. Dari kejadian wagu itu, saya malah dapat pencerahan. Berikut adalah 4 pelajaran pahit yang saya dapatkan ketika ruang kuliah berubah jadi arena roasting bernada rasis:

Kritik akademik kok malah nyasar ke DNA suku? Ngawur!

Ceritanya, hari itu, di UNESA, saya maju ke depan kelas buat presentasi. Namanya mahasiswa yang masih belajar, wajar kalau materi saya belum sempurna. Saya pastinya siap banget dikritik. Dosen saya emang ngasih masukan dan ngoreksi teori saya, dan itu wajar banget. Tapi yang bikin speechless, di tengah-tengah bahas materi, beliau dengan entengnya bilang kalau materi saya yang ala kadarnya itu identik dengan ketidakkompetenan orang Madura.

Wah, logika dari mana coba? Kekurangan di materi saya tiba-tiba dikaitin sama darah Madura saya. Di mata beliau, materi saya yang masih kurang maksimal seolah-olah jadi bukti kebodohan bawaan lahir karena saya orang Madura. Kalau mau ngritik “kurang dalam”, ya ngritik aja kali materinya, ngapain pakai disama-samain sama inkompetensi suku segala?

BACA JUGA: 4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan

Deretan gelar akademik bukan garansi punya tata krama

Asal tahu saja, ini bukan pertama kalinya beliau salah ngomong. Pernyataan negatif soal suku Madura yang dibungkus alasan “cuma bercanda” atau “contoh kasus” udah beberapa kali keluar dari mulutnya saat mengajar di UNESA. Seolah berlindung di balik posisinya sebagai dosen dewa yang nggak pernah salah, beliau terus-terusan bikin hal ini kelihatan wajar.

Dari sini saya belajar: usia yang makin tua, deretan gelar akademik yang panjangnya ngalahin gerbong kereta, dan jabatan tinggi, ternyata nggak datang sepaket sama kebijaksanaan. Jadiin suku mahasiswa sebagai bahan candaan buat jatuhin mentalnya di depan umum itu sama sekali nggak lucu, dan malah nunjukin hilangnya etika seorang pendidik.

Mahasiswa UNESA sok kritis mendadak bermental kacung

Nah, ini bagian yang paling bikin sakit hati. Ternyata bukan omongan rasis si dosen UNESA yang paling nyesek, melainkan reaksi dari sesama mahasiswa. Ada satu tipe mahasiswa, terutama sosok yang sengaja duduk di kursi terdepan cuma buat cari muka, yang kalau lagi ngobrol lagaknya paling sok kritis ngebahas soal moral dan adab. Eh, giliran di depan dosen, tiba-tiba kelakuannya berubah jadi kayak seorang kacung yang lagi jilat jempol kaki majikannya.

Baca Juga:

Mahasiswa Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang

Kuliah di Unesa Surabaya Itu Sangat Menyenangkan, asal Dosennya Betul-betul Ngajar, Bukan Ngebet Jurnal

Memang sih, saya sempat memperhatikan ada teman lain yang cuma bisa menunduk, jelas kelihatan nggak nyaman dengan statement si dosen. Tapi si mahasiswa pencari muka ini? Wah, ia tertawa lepas sambil memukul-mukul meja sampai terbahak-bahak!

Ia ikut “menikmati” lelucon murahan itu bak seekor babi yang menganga lebar menertawakan lawakan si peternak, murni cuma biar dapat jatah pakan lebih banyak. Bukannya ngerasa terganggu ada sesama mahasiswa yang direndahkan, ia malah ngedukung si penindas. Ia rela ngebuang moral dan adab yang sering dikoarkannya itu demi cap “mahasiswa asik” dan nilai “A” di akhir semester. Rupanya, ketakutan dapet nilai jelek jauh lebih seram daripada ngebiarin orang lain diejek di depan mata.

BACA JUGA: Sisi Gelap Kuliah di Unesa, Kampus Elite tapi Fasilitas Sulit

Rasisme kasual nggak boleh lagi dinormalisasi, di UNESA, di mana pun

Udah saatnya kita berhenti nganggap wajar rasisme yang dibungkus tameng “candaan” atau “gaya ngajar dosen galak”. Kampus itu harusnya jadi tempat yang aman! Tempat di mana mahasiswa dari latar belakang apa pun bebas belajar dan berbuat salah secara akademik, tanpa perlu takut sukunya bakal dijadiin bahan ejekan murahan.

Buat saya, lahir sebagai orang Madura adalah sebuah kebanggaan yang nggak akan pernah bisa direndahin oleh siapa pun, sehebat apa pun gelar yang dia punya di UNESA. Dan buat kamu, mahasiswa bermental kacung yang masih hobi ketawa di atas penderitaan orang lain cuma demi posisi aman: gelar yang kamu kejar susah payah itu, nanti mungkin cuma bakal jadi selembar kertas kosong tanpa makna.

Penulis: Nahlu Hasbi Heriyanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Unesa Adalah Kampus Paling Pick Me, Hobi Caper ke Pemerintah, padahal Kampusnya Masih Banyak Masalah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2026 oleh

Tags: orang madurarasisme pada orang madurastigma orang maduraunesaUnesa Surabaya
Nahlu Hasbi Heriyanto

Nahlu Hasbi Heriyanto

Mahasiswa Pascasarjana yang ingin menjadi filsuf muda.

ArtikelTerkait

5 Kebiasaan Unik Orang Madura Saking Antusiasnya Sambut Ramadan Terminal Mojok.co

5 Kebiasaan Unik Orang Madura Saking Antusiasnya Sambut Ramadan

6 April 2022
UNESA Belum Pantas Jadi Kampus Ramah Disabilitas kalau Ruang Kelas dan Toilet Mahasiswa Masih di Lantai Dua, Nggak Pakai Lift pula

UNESA Belum Pantas Jadi Kampus Ramah Disabilitas kalau Ruang Kelas dan Toilet Mahasiswa Masih di Lantai Dua, Nggak Pakai Lift pula

14 Oktober 2023
Unesa Cocok Buat Mahasiswa yang Ingin Jadi Juara di Surabaya (Unsplash)

4 Tipe Mahasiswa yang Cocok Kuliah di Unesa, Kampusnya Para Juara di Surabaya

23 Mei 2024
Karen Chicken by Olive Chicken Dari Jogja untuk Surabaya (Mojok.co:Agung Purwandono)

Karen Chicken by Olive Chicken Disambut Hangat Warga Surabaya, Masterpiece Ayam Goreng Asal Jogja yang Jadi Primadona

29 Mei 2024
Sisi Gelap Kuliah di Unesa, Kampus Elite tapi Fasilitas Sulit

Sisi Gelap Kuliah di Unesa, Kampus Elite tapi Fasilitas Sulit

20 Oktober 2025
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Dilema Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

24 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana Sastra Inggris Percuma Kuliah, Kursus Aja Udah Cukup (Unsplash)

Meski Dianggap Jurusan yang Tidak Relevan dengan Industri, Saya Malah Bangga Masuk Jurusan Sastra Inggris

4 Mei 2026
PSS Sleman Naik Kasta, Bayaran Terbaik Atas Loyalitas Tanpa Batas: Super League, Kami Datang!

PSS Sleman Naik Kasta, Bayaran Terbaik Atas Loyalitas Tanpa Batas: Super League, Kami Datang!

4 Mei 2026
Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam PPG Calon Guru

Sisi Gelap Kuliah di Prodi PBSI: Belajar Bahasa Indonesia, tapi Mahasiswanya Nggak Paham PUEBI dan Nggak Suka Baca Buku

6 Mei 2026
PT Pegadaian Punya Layanan Lain yang Nggak Saya Sangka, Bukan Cuma Tempat Gadai Orang Kepepet Butuh Duit Terminal

PT Pegadaian Punya Layanan Lain yang Nggak Saya Sangka, Bukan Cuma Tempat Gadai Orang Kepepet Butuh Duit

8 Mei 2026
Bahasa Sunda yang Kaya Punya Banyak Istilah untuk Menyebut Hujan Terminal

Bahasa Sunda yang Kaya Punya Banyak Istilah untuk Menyebut Hujan

9 Mei 2026
Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja

Pustakawan, Profesi yang Sering Dianggap Remeh, padahal Kerjanya Enak dan Banyak Untungnya

7 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM
  • Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan
  • JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk
  • Sekolah Kemitraan di Jawa Tengah bikin Menangis Haru, Anak Miskin Bisa Sekolah Gratis dan Kejar Mimpi
  • Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat
  • Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.