Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Acara TV

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
19 Juni 2026
A A
Upin Ipin Serial TV yang Merusak Anak-Anak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa Mojok.co

Upin Ipin Serial TV yang Merusak Anak-Anak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Upin Ipin tidak sebaik itu …

Jadi orang tua di era sekarang itu berat, musuhnya banyak. Mulai dari algoritma TikTok yang isinya joget-joget nggak jelas hingga jajanan pinggir jalan yang warnanya gonjreng. Belum gempuran mainan blind box yang astaganaga mahalnya! Itu belum urusan kecanduan gadget. Banyak banget tantangannya. 

Nah, di antara gempuran ancaman itulah, naluri kita sebagai orang tua, atau setidaknya orang dewasa, berusaha untuk memberikan sesuatu yang (tampaknya) lebih aman untuk anak-anak. Dan, sering kali, pilihannya jatuh pada serial anak-anak di televisi. 

Dalam benak kita, “Yang penting kan bukan sinetron dewasa atau video YouTube short yang nggak jelas juntrungannya. Kalau sekadar kartun anak-anak sih, pasti aman.”

Serial kesayangan anak-anak yang sudah tak asing lagi di telinga, Upin dan Ipin, jadi pilihan.  Tapi, benarkah serial TV ini memang aman untuk anak-anak?  Sayangnya, tidak.

Kebanyakan nonton Upin Ipin lidah anak jadi mendadak melayu

Bukan tanpa alasan ‘lidah mendadak melayu’ jadi efek buruk nonton Upin dan Ipin yang disebutkan di awal. Karena nyatanya, terlalu sering nonton Upin dan Ipin memang membuat lidah anak-anak jadi mendadak melayu. 

Buktinya, alih-alih bilang “Saya mau makan”, anak-anak malah bilang, “Saya nak makan.” Anak-anak juga merasa lebih keren ketika menggunakan kata seronok, garang, kedai, jom, budak, dan masih banyak lagi. 

Awalnya, kita mungkin menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang lucu. Gemes aja gitu melihat ada anak kicik ngomong dengan logat melayu. Tapi, bagi anak yang berada di fase golden age, paparan Bahasa Melayu Upin-Ipin ini menciptakan dualisme bahasa yang bisa bikin bingung. Hasilnya? Bahasa mereka jadi gado-gado.

Baca Juga:

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh

11 Istilah Penyakit dalam Bahasa Jawa yang Terdengar Lucu

Eits, Ini bukan soal anti-Malaysia, ya. Bukan. Tapi ini soal pondasi bahasa yang sedang kita bangun untuk anak-anak.

Bahasa niru, gesture pun iya

Mirisnya lagi, selain meniru bahasa melayu, gesture yang kerap diperlihatkan oleh karakter di Kampung Durian Runtuh juga tak lepas dari peniruan anak-anak.

Coba perhatikan anak-anak kecil di sekitar kita. Pasti kamu pernah melihat ada anak kecil yang ketika dikandani atau disuruh sesuatu, tiba-tiba mereka melipat tangan rapat-rapat di dada, memalingkan muka, mengerucutkan bibir, sambil bilang, “Tak nak!”

Menurut kalian, mirip siapa kayak gitu? Ya si duo kembar itulah.

Gestur lain yang sebetulnya kurang pas tapi sialnya ditiru oleh banyak anak-anak, misalnya menghentakkan kaki ke lantai sambil merengek, guling-guling di lantai, berkacak pinggang, terbahak-bahak saat berhasil menjahili teman, dan masih banyak lagi lainnya. Tinggal kalian pikir sendiri kira-kira yang seperti itu pantas tidak ditiru oleh anak-anak.

Upin Ipin menormalisasi casual bullying

Bukan hanya itu saja. Kalau kalian pernah nonton serial Upin Ipin, kalian pasti ngeh bahwa di serial ini seringkali ada adegan bullying.

Ingat nggak waktu Ehsan kacamatanya pecah? Ehsan tidak bisa melihat sekeliling dengan jelas. Ehh, teman-temannya malah menertawakannya. Pernah pula Fizi ngata-ngatain Upin Ipin botak hingga nggak bisa masuk surga karena nggak punya ibu lah, dll.

Dan, di situlah masalahnya. Anak-anak jadi meniru, seolah menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Saya jadi ingat dengan teori Albert Bandura, psikolog terkenal yang teori-teorinya banyak berseliweran ketika saya belajar tentang ilmu pendidikan. Lewat teori Social Learning-nya, Albert Bandura ini bilang kalau anak belajar perilaku sosial dengan cara meniru apa yang mereka lihat. 

Artinya, kalau yang diamati setiap hari adalah adegan meledek yang berujung tawa… ya, jangan heran kalau si kecil mulai ikut-ikutan. Ada temannya jatuh bukan ditolong, malah diketawain sambi ditunjuk-tunjuk. Ada keinginan yang tidak terpenuhi, langsung merajuk seperti saat Upin Ipin merajuk.

Kak Ros dan transfer energi agresif

Lainnya, perhatikan pula bagaimana cara Kak Ros berkomunikasi dengan adik kembarnya. Dia itu seringkali marah, berteriak, berkacak pinggang, mengancam, bahkan melakukan kekerasan fisik. 

Ya, kita paham sih, kalau Kak Ros ini representasi kakak sulung yang stres karena harus mengurus dua adik kembar yang super aktif sambil kuliah atau jualan. Asli, relate.

Akan tetapi, bagi penonton balita, ini jelas bawa pengaruh yang tidak baik. Lewat karakter Kak Ros yang temperamental itu, tanpa sadar anak sedang belajar bahwa kemarahan dan teriakan adalah validasi terbaik untuk menyelesaikan masalah, menunjukkan otoritas, atau sekadar melampiaskan emosi.

Lagi-lagi, jangan kaget kalau anak tantrum di rumah, dan setelah dilihat-lihat kok polahnya mirip dengan Kak Ros pas lagi kumat. Ya karena itulah yang mereka lihat sehari-hari.

Jadi, salah Les’ Copaque?

Nggak juga. Studio animasinya nggak salah. Toh, kartun ini memang menggambarkan realitas dunia anak-anak dengan sangat jujur, termasuk sisi-sisi nakal mereka. Beberapa episode juga harus diakui punya banyak nilai positif, seperti persahabatan, hormat kepada guru, hingga semangat belajar. 

Masalah terbesar dari efek buruk tontonan ini justru datang dari orang dewasa yang kehilangan perannya. Alih-alih mendampingi anak-anak menonton serial ini supaya bisa menyaring mana perilaku yang boleh ditiru mana yang tidak tidak, eh si bocah malah ditinggal nonton sendirian. Ya, terjadilah anak menelan mentah-mentah apa yang mereka lihat.

Pada akhirnya, perkembangan anak tidak bisa dilepaskan dari peran orang dewasa. Televisi, video YouTube, HP, tidak bisa menggantikan kehadiran orang dewasa. Anak-anak kecil itu masih butuh kita. 

Mereka butuh kita untuk melihat dunia dengan lebih terang, bukan sekadar dari apa yang mereka lihat. Dan, menonton Upin Ipin tanpa pendampingan orang dewasa, hanya akan membawa efek buruk untuk perkembangan mereka.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Seandainya Bau Badan Karakter di Serial Upin Ipin Bisa Tercium, Mungkin Akan seperti Ini. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Juni 2026 oleh

Tags: Anak-AnakIndonesiaIpinMalaysiaserial TV anak-anaktontonan anak-anakUpinupin-ipin
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Cikgu Melati dalam Serial Upin Ipin Perlu Introspeksi Diri. Kasih Tugas Boleh, tapi yang Masuk Akal

Cikgu Melati dalam Serial Upin Ipin Perlu Introspeksi Diri. Kasih Tugas Boleh, tapi yang Masuk Akal

3 Maret 2024
5 Destinasi Wisata Menarik di Indonesia dan Hal-hal yang Harus Dihindari Saat Berkunjung ke Sana Terminal Mojok

5 Destinasi Wisata Menarik di Indonesia dan Hal-hal yang Harus Dihindari Saat Berkunjung ke Sana

9 Desember 2022
Tadika Mesra Harusnya Mengajarkan Upin Ipin dan Kawan-kawannya 5 Pelajaran Ini. Anak-anak Jangan Disuruh Menangkap Hewan dan Bikin Maket Terus!

Tadika Mesra Harusnya Mengajarkan Upin Ipin dan Kawan-kawannya 5 Pelajaran Ini. Anak-anak Jangan Disuruh Menangkap Hewan dan Bikin Maket Terus!

19 Juni 2024
propaganda malaysia nasi kandar FAM Malaysia PSSI sepak bola Mojok

FAM Kok Udah Memulai Kompetisi Musim Baru sih? Contoh PSSI dong!

24 Desember 2020
Nurul Bikin Kaget Penonton Serial Upin Ipin, Tampil Beda Jadi Glow Up

Nurul Bikin Kaget Penonton Serial Upin Ipin, Tampil Beda Tiba-tiba Jadi “Glow Up”

7 Mei 2025
Mengenang Band Indonesia One Hit Wonder di Era 2000-an

Mengenang Band Indonesia One Hit Wonder di Era 2000-an

9 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Layanan Perpusda Kota Malang Payah, Bikin Pengunjung Kecewa dan Nggak Nyaman Mojok.co

Layanan Perpustakaan Kota Malang Payah, Bikin Pengunjung Kecewa dan Nggak Nyaman

3 Juli 2026
5 jajanan yang menyadarkan saya kalau Tegal lebih dari sekadar sate kambing Mojok.co

5 jajanan yang menyadarkan saya kalau Tegal lebih dari sekadar sate kambing

8 Juli 2026
Pantai Semilir Tuban, Tetap Menawan di Tengah Kepungan Industri

Pantai Semilir Tuban, Tetap Menawan di Tengah Kepungan Industri

9 Juli 2026
Maganghub Kemnaker, program waras pemerintah yang layak dipertahankan Mojok.co

Maganghub Kemnaker, program waras pemerintah yang layak dipertahankan 

8 Juli 2026
Pengalaman Menjadi Penulis Novel Online Lebih dari 3 Tahun: Kalah sama Cerita Panas, Karier Jalan di Tempat

Pengalaman Menjadi Penulis Novel Online Lebih dari 3 Tahun: Kalah sama Cerita Panas, Karier Jalan di Tempat

9 Juli 2026
5 Dosa Penjual Ketoprak Jakarta yang Membuat Pembeli Tidak Nafsu Makan Mojok.co cirebon

Jangan Asal Klaim, Ketoprak Itu Warisan Kuliner Betawi Jakarta, Bukan Cirebon

6 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.