Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
9 Agustus 2026
A A
GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua Mojok.co

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Punya anak kecil itu menggemaskan. Setiap hari ada saja polah mereka yang bikin orang tua jadi nyengir. Tapi, tunggu sampai mereka melancarkan aksi Gerakan Tutup Mulut alias GTM. Beuh, tak ada lucu-lucunya sama sekali. Sungguh.

GTM di kalangan orang tua, terlebih ibu-ibu muda, bukanlah istilah yang asing lagi. GTM digunakan untuk menggambarkan kondisi anak yang menutup rapat mulut mereka tiap kali disuapi makan. Sekalinya mulut dibuka, makanan yang masuk tidak langsung dikunyah. Makanan hanya didiamkan lama sekali di dalam mulut. Kalau sudah begitu, orang tua mana yang tidak gemas?

ADVERTISEMENT

Saking gemasnya, segala cara dilakukan agar anak mau membuka mulut. Mulai dari yang biasa-biasa saja seperti diajak makan sambil jalan-jalan di sekitar rumah, hingga memanfaatkan mainan sebagai sendok agar anak mau makan.

GTM anak dan kekhawatiran yang bisa dimengerti

Dua anak saya waktu masih kecil juga pernah melakukan gerakan tutup mulut ini. Kala itu, segala cara juga saya lakukan agar makanan bisa masuk. 

Saya pernah pura-pura menyuapi satu per satu mainan demi anak mau buka mulut. Pernah pula nyuapin sambil berbusa-busa cerita soal apa saja. Maksudnya sih biar anak lengah karena keasyikan dengar cerita saya, trus tanpa sadar mereka membuka mulut. Banyak caralah pokoknya.

Itu sebabnya, kalau lihat ada video perjuangan ibu-ibu merayu anaknya supaya mau buka mulut, saya merasakannya juga. Pasti ibu-ibu itu merasa frustasi. Iya kan, Bu? Sama, saya juga dulu begitu. Sini-sini, kita gandengan bareng. Mari kita abaikan orang yang bilang kalau rasa frustasi yang dirasakan oleh emak-emak kala anaknya GTM itu lebay.

Lebay apaan? Ibu yang frustasi karena anaknya GTM itu bukan lebay. Itu adalah kekhawatiran yang sangat bisa dimengerti, sebagai bentuk cinta seorang ibu untuk buah hatinya. Ya kan kalau anak nggak mau makan, pasti ada perasaan takut mereka akan kekurangan nutrisi, terlambat tumbuh kembangnya, hingga jatuh sakit. Yang seperti itu kok dibilang lebay. No no, ya~

Tak ada usaha yang sia-sia

Sejujurnya, saya salut loh sama ibu-ibu yang usahanya luar biasa demi anak mau membuka mulut. Kalau bisa, ingin rasanya saya peluk mereka satu per satu sambil pukpuk pundaknya dan bilang, “Makkkk!! Kamu hebat banget, loh!”

Baca Juga:

Pesan dari orang tua untuk sesama orang tua, stop paksa anak yang baru masuk SD jadi juara kelas

Orang tua masa kini lebih percaya sekolah swasta daripada sekolah negeri

Terutama, pada emak-emak yang seniat itu bikin kreasi menu makanan. Ada nasi dibentuk beruang, wortel potong bintang, hingga warna-warni piring yang menggugah selera. Nggak mudah loh bikin semua itu. Apalagi setelah itu harus lanjut dengan mendongeng, bernyanyi, hingga mondar-mandir berkeliling halaman demi membujuk si kecil makan. Salut bener dah pokoknya!

Padahal, segala daya dan upaya yang mereka lakukan belum tentu sukses bikin anak buka mulut. Tapi, para ibu ini menolak untuk menyerah. Hari ini gagal, besoknya cari cara lain lagi. Begitu seterusnya.

Dan apakah itu artinya usaha mereka sia-sia? Karena anak tetap saja GTM?

Kalau fokusnya ke hasil jangka pendek, jawabannya iya. Namun, coba lihat efek jangka panjangnya dong. Lewat kegagalan demi kegagalan yang dialami saat proses menyuapi anak itulah seorang ibu justru semakin memahami si anak. Apa yang mereka sukai, apa yang tidak disukai, suasana apa yang mereka sukai, dsb. Artinya apa, Bun? Terbentuklah ikatan batin yang kuat antara ibu dan anak. Wow, selamat, ya!

Ibu bahagia itu yang utama

Lebih lanjut soal GTM, berdasarkan pengalaman pribadi (dan saya yakin ibu yang lain juga setuju), ada yang lebih bikin gerah daripada anak yang enggan buka mulut. Yaitu, komentar julid dari ibu lain atau orang-orang sekitar. 

Kalimat seperti, “Kok anaknya kurus banget? Nggak dikasih makan, ya?”, “Ibunya pasti nggak telaten nih kalau nyuapi”. Beuh … kalau ada yang komentar seperti itu, rasanya pengen ngoles sambal ke mulutnya. Belum tahu saja mereka betapa jungkir baliknya usaha bikin anak mangap.

Cara terbaik untuk melawan omongan-omongan itu adalah tidak memedulikannya. Sebab, semakin dipedulikan akan semakin stres. Ending-nya, muncul perasaan gagal sebagai seorang ibu yang akhirnya bikin uring-uringan. Padahal, anak membutuhkan kehadiran ibu yang bahagia.

Solusinya, dibikin santai saja, Bund. Yakin saja bahwa ibu bukanlah satu-satunya ibu di muka bumi yang anaknya GTM. Kalau saat ini anaknya memang lagi nggak mau makan, ya sudah, biarkan dulu. Ibunya saja yang makan duluan. Kalau perut ibu kenyang, pikiran jadi tenang, hati ikut riang. Energi positif pun akan memancar ke seisi rumah. Siapa tahu saat melihat ibu makan dengan lahap dan santai, si kecil justru terpancing untuk ikut mendekat dan mencicipi makanan dari piring ibunya.

Kalau hal itu tidak terjadi, nggak masalah. Toh, satu atau dua hari anak-anak menolak makan tidak serta-merta membuat tubuhnya langsung kekurangan gizi akut. Anggap saja ketika anak GTM, mereka itu sedang belajar mengenali sinyal tubuh dan emosi mereka sendiri.

Semangat ya ibu-ibu yang sedang berada di fase menyuapi anak. Pada akhirnya fase itu akan terlewati juga, kok.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Agustus 2026 oleh

Tags: Anak-AnakGerakan tutup mulutGerakan tutup mulut anak.GTMIbuIbu MudaOrang TuaParenting
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

anak pancingan new normal mojok

Istilah Anak Pancingan Sebaiknya Nggak Perlu Digunakan Lagi

16 Juli 2021
parenting MOJOK

Belajar Ilmu Parenting dan Kehidupan dari Film Taare Zameen Par

4 Juli 2020
warisan balas budi kepada orang tua mojok

Kita Tidak Perlu Sok Dewasa di Depan Orang Tua

24 November 2020
warisan balas budi kepada orang tua mojok

Insiden Anak Minta Warisan dan Pentingnya Kesiapan Saat Memutuskan Punya Anak

2 Agustus 2021
child sex tourism pelecehan anak mojok

Child Sex Tourism, Fenomena Bejat yang Luput dari Perhatian Media Indonesia

8 Agustus 2020
anak bungsu tidak enak rentan stres dimaki kakak orang tua wfh disuruh-suruh mojok

Siapa yang Bilang Jadi Anak Bungsu Enak? Maju Sini

22 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026
Kontroversi [arfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

Kontroversi parfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

4 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara dangdut D’Academy Mojok.co

Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara Dangdut Academy

5 Agustus 2026
Ketika Buku Menebang Pohon

Ketika buku menebang pohon

4 Agustus 2026
Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

3 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.