Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Kuliah Jadi Ajang Adu Outfit Bikin Mahasiswa Miskin Mau DO di Semester 3, Tak Kuat Diejek hingga Dijauhi karena Pakaian Jelek

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Mei 2025
A A
Mahasiswa baru KIP Kuliah miskin nyaris nekat DO karena malu kuliah adu outfit MOJOK.CO

Ilustrasi - Mahasiswa baru KIP Kuliah miskin nyaris nekat DO karena malu kuliah adu outfit. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kecenderungan “adu outfit” di kalangan mahasiswa belakangan membuat seorang mahasiswa baru miskin penerima KIP Kuliah nyaris memilih DO. Pasalnya, dia makin merasa ciut dengan penampilannya yang sekadarnya. Merasa mengalami diskriminasi sosial.

***

Outfit pada awalnya bukan persoalan yang mengganggu bagi Mudzil (20) ketika awal menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas negeri di Surabaya. Biaya pun tidak. Sebab, dia beruntung menerima beasiswa KIP Kuliah.

Yang Mudzil khawatirkan adalah: Apakah nanti dia bisa bersaing dalam konteks intelektual? Apakah nanti dia bisa konsisten meraih IPK selalu di angka 3? Sebab, yang Mudzil tahu, dunia kuliah adalah dunia adu gagasan. Pertemuan orang-orang pintar denga berbagai level.

Kemeja lusuh saat PBAK

Mudzil sebenarnya mulai merasa agak ciut ketika momen Pengenalan Budaya Akademik (PBAK) pada 2023 lalu. Di antara ribuan mahasiswa baru yang kesemuanya berkemaja putih, Mudzil menjadi mahasiswa dengan kemeja putih lusuh.

Hanya saja, dia tidak terlalu ambil pusing karena toh masih ada beberapa mahasiswa yang tampak berkemaja putih lusuh, sama seperti dirinya.

“Aku juga langsung kenal dengan beberapa orang. Teman sejurusan. Ada mahasiswa KIP Kuliah juga. Jadi aku merasa ada yang senasib,” tuturnya, Senin (19/5/2025) malam WIB.

Mahasiswa KIP Kuliah jadi ceng-cengan karena outfit

Pada awal perkuliahan, Mudzil merasa percaya diri. Lebih-lebih, dia termasuk salah satu mahasiswa baru yang cukup menonjol di kelasnya. Dia aktif bertanya dan tampak betul menguasai materi tiap kali presentasi.

Bahkan, kalau ada tugas kelompokpun, teman sekelompoknya selalu memercayakan konsep atau pengerjaan tugas pada Mudzil.

Namun, seiring waktu, setelah melewati satu semester, beberapa teman kelasnya mulai kebablasan menyinggung soal outfit yang Mudzil kenakan.

“Cok bajumu loh kayak baju 90-an.”

“Sekarang ada yang namanya Uniqlo. Biar kamu nggak kayak orang tua pakai batik mulu.” Begitulah ucapan teman-temannya.

Mudzil mengakui, dia memang kerap memakai kemeja seadanya. Kemeja yang dia beli adalah kemeja murah-murahan di toko pakaian. Dia juga terbilang kelewat sering memakai batik, karena hanya itulah pakaian yang menurutnya bagus dan layak untuk kuliah.

“Tapi mereka memang lebih mbois. Pakai pakaian bermerek. Gayanya skena. Sepatunya juga. Aku kan sepatu hitam New Era sejak zaman SMA,” ucap mahasiswa KIP Kuliah itu.

Iklan

Jadi tertawaan saat nongkrong di coffee shop

Seumur hidup, Mudzil memang tidak pernah nongkrong di coffee shop. Pilihan nongkrongnya tentu saja di warung kopi yang menjual kopi di harga Rp3 ribu-Rp4 ribuan.

Baru ketika makin akrab dengan teman-teman kuliahnya itulah dia mencicipi ngopi di sebuah coffee shop di Surabaya. Itupun berlangsung tidak menyenangkan.

“Ya karena ngopinya habis magriban, di jam-jam setelah kuliah, aku masih pakai batik. Aku nyusul mereka. Langsunglah jadi bahan tertawaan,” kata Mudzil.

“Asu og kamu. Ngopi pakai batik kayak kondangan.”

“Yang modis dikit Lek, kalau gini terus nggak ada cewek mau sama kamu.” Begitu ucapan-ucapan yang Mudzil terima.

Mudzil hanya meringis. Memesan kopi. Lalu pura-pura antusias menyimak obrolan teman-temannya. Sementara batinnya berkecamuk.

Jarang kuliah dan nyaris pilih DO

Awalnya Mudzil memang mencoba tutup telinga. Tapi, lambat laun dia merasa nyesek juga. Kapasitas pengetahuannya ternyata terdegradasi hanya karena persoalan outfit.

Seiring itu, dia mulai jarang mendapat ajakan nongkrong. Itu membuatnya merasa terdiskriminasi.

“Semester 2 semester 3 itu mulai bolong-bolong (kuliah). Bukan karena males, tapi malu aja,” ungkapnya.

Sering ketika bangun pagi dan bersiap hendak berangkat ke kampus, dia menatap cermin lekat-lekat. Mengamati dirinya dari atas hingga bawah. Lama menimbang-nimbang pakaian yang dia kenakan.

Lalu keputusannya, dia memilih kembali ke kasur, meringkuk sembari meratapi nasib. Kalau tidak ya memacu motor bututnya ke warung-warung kopi kecil.

“Warung kopi terasa lebih tulus. Nggak ada orang adu outfit di sana. Nggak ada penghakiman. Adanya orang-orang yang tulus menjalani hidup dan takdir masing-masing. Orang-orang yang berusaha bahagia atas hal-hal sederhana dalam hidup mereka,” beber mahasiswa KIP Kuliah itu.

“Sempet juga berpikir, berhenti kuliah aja (DO) lah. Rasanya nggak diterima apa adanya soalnya,” ucapnya.

Mahasiswa KIP Kuliah tak mau “salahgunakan” uang

Atas “diskriminasi sosial” gara-gara adu outfit, sebagai mahasiswa KIP Kuliah, Mudzil sempat terbersit menggunakan uang beasiswanya untuk memoles diri: Membeli outfit dan barang-barang bermerek terkenal agar dia tidak lagi jadi bahan ceng-cengan.

“Bahkan sempet juga pengin kredit iPhone. Soalnya waktu itu mereka sudah adu iPhone. Sementara hp-ku hp Rp2 jutaan. Itu ya beli hasil nabung,” tutur Mudzil.

Namun, Mudzil mencoba meneguhkan kembali niatnya kuliah. Bukan untuk gagah-gagahan outfit dan atribut fisik lain. Itu hanya artifisial belaka. Baginya, pembuktiannya—seseorang sukses atau tidak—bukan sekarang, tapi kelak.

“Aku nggak bergantung sama orangtua. Jadi uang KIP Kuliah itu bener-bener kugunakan untuk hidup dan keperluan yang primer banget. Kalau outfit, nomor sekian lah,” tegasnya.

Apalagi di saat-saat itu dia makin sering main di kosan salah satu mahasiswa yang dia kenal sejak PBAK. Bukan teman sejurusan, tapi masih satu fakultas.

Teman Mudzil itu bernasib kurang lebih sama seperti Mudzil: penerima KIP Kuliah, berasal dari keluarga miskin, dan kuliah dengan outfit seadanya. Tapi teman Mudzil itu sudah memutuskan “tak punya malu” jika outfit-nya dianggap lusuh dan sejenisnya.

Karena baginya, kuliah bukan ajang adu outfit. Tapi kalau memang mau bersaing, ya bersainglah secara intelektual.

“Gara-gara dia aku menemukan gairah kuliah lagi. Aku ngurang-ngurangi kumpul sama temen sekelas yang suka adu outfit. Kalau jadi ceng-cengan ya kubalas guyon,” tutur Mudzil.

“Selebihnya aku lebih sering nongkrong sama temenku sesama mahasiswa KIP Kuliah. Kami bisa diksusi banyak hal. Tentang ilmu, tentang cita-cita, dan tentang hidup. Selain lebih produktif, itu lebih membuatku percaya diri dan bersyukur,” tutupnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Cerita Mahasiswa Unair Tinggal di Gang Sempit di Tengah Kemewahan Surabaya, Makan dengan Bau Comberan hingga Mandi Air Kuning atau liputan Mojok lainnya Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 20 Mei 2025 oleh

Tags: adu outfitbeasiswaBeasiswa KIP Kuliahkip kuliahmahasiswa kip kuliahmahasiswsa barupbak
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO
Sekolahan

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026
Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO
Sekolahan

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

20 Mei 2026
Deni mahasiswa berprestasi dari UGM berkat puisi. MOJOK.CO
Sekolahan

Balas Budi ke Ibu yang Jual Cincin Berharga lewat Ratusan Puisi hingga Diterima di UGM Berkat Segudang Prestasi

14 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.