Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

4 Tahun Pura-pura Jadi Mahasiswa UGM demi Bahagiakan Ortu, padahal Kuliah di Kampus Tak Terkenal Jogja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Juni 2025
A A
kuliah di ugm.MOJOK.CO

Ilustrasi - 4 Tahun Pura-pura Jadi Mahasiswa UGM demi Bahagiakan Ortu, padahal Kuliah di Kampus Tak Terkenal Jogja meskipun Tetap Lulus Cumlaude (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Empat tahun ngaku-ngaku kuliah di UGM, semua dilakukan demi bikin orang tua bangga. Padahal, aslinya kuliah di PTS Jogja yang kurang terkenal.

***

Kemunculan akun TikTok dengan 12 ribu pengikut, @aristyor, bikin ramai jagad media sosial. Pasalnya, ia diketahui bukan merupakan mahasiswa UI, tapi di setiap konten TikToknya selalu ngaku-ngaku seolah sedang kuliah di kampus Depok tersebut.

Ngibulnya pun sangat niat. Mulai dari memakai jas almamater UI, hingga bikin konten di depan bangunan gedung UI. Konten-kontennya pun juga tak jauh-jauh dari overglorifikasi UI, membahas kultur mahasiswanya, hingga membandingkan UI dengan kampus lain.

Sejak kelakuannya viral di medsos dan dilabeli “halu”, ia mengunci akun TikToknya. Pantauan Mojok, per Selasa (10/6/2025), akun TikToknya sudah gembokan.

ini siapa sii, yappingnya memalukan 😭😭😭 pic.twitter.com/F5oOPHXtlR

— Lathif – One State, Palestine! (@laethif) June 7, 2025


Cerita @aristyor mengingatkan saya dengan Deris* (27), lelaki yang empat tahun berpura-pura menjadi mahasiswa UGM. Padahal, selama itu ia berkuliah di kampus swasta Jogja yang kata dia “kurang terkenal”.

Ngotot kuliah di UGM karena ingin bahagiakan orang tua

Ada alasan mengapa Deris ngotot ingin kuliah di UGM. Selama SMA, ia termasuk siswa yang “lumayan”. Meskipun jarang mendapatkan ranking mentereng di sekolah, ia cukup aktif di lingkungan sekitarnya.

“Aku guru ngaji buat bocil-bocil di desa. Sama jadi wakil ketua karang taruna. Ibaratnya kalau ada orang datang ke desa terus nyebut namaku, nggak ada yang nggak tahu,” kisah lelaki asal Jawa Tengah ini, tatkala dihubungi Mojok, Minggu (8/5/2025).

Selain itu, kedua kakaknya juga kuliah di PTN. Meski bukan PTN kenamaan, setidaknya ada kebanggan tersendiri buat mereka.

Maka dari itu, sebagai anak bungsu, ada tuntutan untuk bisa kuliah di kampus yang “lebih besar” dari PTN kakak-kakaknya itu. Orang tuanya pun amat memperjuangkan anaknya agar bisa kuliah di UGM.

“UGM itu kan dianggap kampus paling wow, paling bagus. Jadi ortu mengharapkan aku sebagai bontot, bisa kuliah di kampus terbaik itu,” imbuhnya.

Segala fasilitasnya pun diberikan. Termasuk bimbingan belajar (bimbel) yang mahal, penerapan jam belajar yang ketat, sampai ibunya repot-repot memasak makanan sehat–di luar kebiasaan–untuk memastikan nutrisnya tercukupi.

Tiga kali ditolak UGM, berujung pura-pura kuliah di sana

Sayangnya, upaya-upaya maksimal itu tak membuahkan hasil. Deris gagal di tiga jalur seleksi UGM yang ia ikuti. Mulai dari SNBP (dulu SNMPTN), SNBT (dulu SBMPTN), hingga seleksi mandiri pada 2016 lalu.

“Bahkan yang SBMPTN itu bagiku membekas banget, perjalanan dari kotaku buat ikut SBMPTN yang lokasinya di FIK UNY itu 5 jam perjalanan. Aku motoran, berangkat sebelum subuh dan nyaris telat, itu adrenalin naik banget,” ungkapnya.

Iklan

Deris pun tak berani jujur ke orang tua soal kegagalannya ini. Ia takut ayah dan ibunya kecewa. Sementara kakak-kakaknya, untungnya bisa diajak “kerja sama”. Mereka sepakat untuk membuat skenario bahwa Deris diterima di Fakultas Hukum UGM.

“Jadinya aku kuliah di FH kampus lain, swasta. Bilangnya ke orang tua, aku kuliah di UGM. Termasuk soal biaya kuliah aku juga bohong, ngakunya murah padahal mahal banget. Kakak untungnya bersedia bantu.”

Merasa bersalah karena orang tuanya overproud

Setahun-dua-tahun menjalani skenario kebohongan ini, semua tampak baik-baik saja; berjalan lancar. Deris menjalani perkuliahan sebagaimana mahasiswa umumnya, dan orang tua sama sekali tak menaruh kecurigaan.

Namun, tetap saja, tiap kali kumpul keluarga–misalnya saat lebaran–ada perasaan bersalah menyelimuti dirinya. Pasalnya, orang tuanya sangat bangga akan pencapaiannya. Tiap kali bercerita kepada rekan dan saudara, ayah dan ibunya dengan penuh kebanggaan menggembar-gemborkan capaian anaknya yang kuliah di FH UGM.

“Kalau di situasi kayak gitu, biasanya aku milih melipir karena nggak kuat mendengar kebohongan yang aku ciptain.”

Sebenarnya, Deris termasuk mahasiswa berprestasi di kampus. Ia aktif di UKM, beberapa kali menjadi panitia event kampus, bahkan dua kali menang lomba karya tulis dan debat mahasiswa. Namun, ia selalu mengaku prestasi itu didapat sebagai mahasiswa UGM.

Kebohongan-kebohongan ini berjalan nyaris empat tahun hingga menuju kelulusannya. Tanpa ada sedikitpun kecurigaan dari orang tua.

“Ada untungnya juga ortu gaptek, nggak bisa main medsos. Semua urusan di kampus pun kakakku yang handle, jadinya ya empat tahun itu aman-aman aja.”

“Terselamatkan” pandemi Covid-19 dan gelar cumlaude

Ada satu masalah yang harus diselesaikan Deris dan kakak-kakaknya menjelang kelulusan: tempat wisuda. Jujur saja, kata Deris, ini di luar pertimbangan awal. Sebab, rencananya ketika selesai sidang, ia dan kakaknya akan jujur soal kebohongan yang sudah berjalan empat tahun itu.

Namun, melihat kebahagiaan orang tua yang bangga anaknya bisa kuliah di UGM, ada rasa tak tega jika harus merusak itu semua.

Untungnya, Deris wisuda saat pandemi Covid-19 sedang parah-parahnya. Sehingga, ada alasan buat dirinya tak mengikuti wisuda di kampus. 

Kendati demikian, Deris merasa rahasia besarnya tak bisa selamanya menjadi rahasia. Ada saatnya dia harus jujur soal kuliahnya. 

“Sebelum wisuda, aku berhari-hari diskusi sama kakak, ngobrol dan mantepin niat buat jujur. Siap dengan semua konsekuensi yang bakal kami dapat,” ujarnya.

Akhirnya, sebelum hari H wisudanya, Deris memutuskan buat mengatakan semuanya. Tentu saja, saat itu orang tuanya amat syok karena bertahun-tahun dibohongi. Tangis kekecewaan tak bisa ditahan. 

Selama berhari-hari, rumahnya hidup dalam hening. Ada aktivitas manusia, tapi kata Deris, semua tanpa suara; nyaris tak ada tegur sapa.

“Aku lupa butuh berapa lama hingga akhirnya orang tua bisa menerima semua kebohonganku itu. Mereka pada akhirnya berdamai dengan itu semua. Toh, aku lulus dengan kepala tegak karena cumlaude,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Punya Banyak Prestasi tapi Ditolak UGM lewat Jalur UTBK, Akhirnya Pilih Kampus Swasta hingga Kerja dengan Gaji Melebihi UMR Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 10 Juni 2025 oleh

Tags: kuliah di UGMmahasiswa ugmpilihan redaksiUGMUniversitas Gadjah Mada
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
Beli produk hp Apple, iPhone

Pengguna iPhone Ingin “Naik Kelas” Bikin Muak, Gaya Elite padahal Dompet Sulit

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.