Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Lahirnya Bukit Nusantara di Wonogiri dan Pohon Pusaka yang Membuka Siklus 500 Tahunan

Doel Rohim oleh Doel Rohim
19 September 2023
A A
Lahirnya Bukit Nusantara di Wonogiri dan Pohon Pusaka yang Membuka Siklus 500 Tahunan MOJOK.CO

Ilustrasi Lahirnya Bukit Nusantara di Wonogiri dan Pohon Pusaka yang Membuka Siklus 500 Tahunan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pohon pusaka yang membuka siklus 500 tahunan zaman kejayaan Nusantara

 Menariknya, Kiai Jadul menyatakan bahwa makna dari arti kata kencana yaitu “keemasan” dan wungu adalah “bangun/bangkit”. Dari pemaknaan simbolik wilayah Pracimantoro dan nama situs gua Kencana Wungu. Kiai Jadul memaknai peristiwa ini sebagai satu batas antara bangkitnya zaman keemasan bangsa Nusantara.

Maka acara doa bersama dengan menanam pohon merupakan respon atas akan datangnya zaman keemasan, yang Kiai Jadul meyakini memang sudah jadi kehendak alam untuk merestui acara ini bisa terjadi.

Iklan

Jika ingin menarik pemaknaan simbolik dari apa yang Kiai Jadul lakukan tersebut, maka akan mendapatkan konteks relevansinya diperkembangan wacana nasional saat ini. Kita tahu banyak pakar dan ahli ekonomi dunia memprediksi, bahwa Indonesia akan menyongsong zaman keemasannya yang puncaknya pada tahun 2045.

Sedangkan dalam kacamata lain, banyak orang Jawa yang “waskita”(mempunyai penglihatan lebih atas kenyataan), juga menyatakan bahwa tahun ini merupakan titik pembuka siklus 500 tahunan yang diyakini sebagai pembuka zaman baru dari Indonesia emas. 

Pohon sebagai simbol doa yang keramat

Bagi bangsa Nusantara, melihat sebuah pohon tidak hanya dari bentuk materinya semata. Lebih dalam dari hal itu, pohon mempunyai makna simbolik dan spiritual yang dalam. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa praktik masyarakat Nusantara yang sampai hari ini masih meyakini adanya pohon-pohon keramat. 

Tidak hanya itu dalam tradisi agama-agama beberapa jenis pohon juga memiliki makna spiritual yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Dalam tradisi agama Budha misalnya kita mengenal pohon Bodhi yang menjadi pohon suci, tempat Sidharta Gautama menerima cahaya spiritual. Begitu juga dalam agama Hindu mengenal pohon Kalpataru atau Kalpawreksa yang memiliki arti sama dengan pohon beringin. 

Menurut kepercayaan agama Hindu ada lima jenis pohon yang mereka yakini sebagai pohon kahyangan yaitu: hancandana vrksa, kalpa vrksa, mandana vrksa, parijata vrksa dan santanu vrksa. 

Bahkan Dalam Islam, pentingnya menanam pohon ada dalam sebuah hadits Nabi: “Jika esok hari terjadi hari kiamat sedangkan di tangan salah seorang kalian ada sebuah tunas (bibit), maka tanamlah jika ia mampu menanamnya sebelum hari kiamat” (HR. Bukhari & Akhmad).

Begitu juga yang tertuang dalam Al Qur’an. Pohon menjadi perumpamaan atas diri seorang muslim yang memiliki iman kuat seperti pohon yang baik. Yang memiliki akar kuat menghujam ke tanah, batang dan dahannya menjulang ke langit dan memberikan buahnya untuk kehidupan sepanjang musim (QS Ibrahim 24).

Ritual menanam pohon untuk membangun hubungan manusia dan alam

Terlepas dari kepercayaan masyarakat atas jenis-jenis pohon dan mitos yang mengitarinya. Atau dalam konteks kepercayaan keagamaan narasi tentang pohon ternyata memiliki pijakan yang begitu argumentatif dan mendasar. 

Penanaman pohon pusaka di tempat yang kemudian diberi nama Bukit Nusantara di Pracimantoro, Wonogiri MOJOK.CO
Penanaman pohon pusaka di tempat yang kemudian diberi nama Bukit Nusantara di Pracimantoro, Wonogiri. (Doel Rohim/Mojok.co)

Artinya tidak salah jika seharusnya peristiwa menanam pohon tidak hanya sebagai sebuah selebrasi atau seremoni berbasis kepentingan semata. Tetapi lebih jauh dari hal itu, tindakan menanam merupakan sebuah laku rohani yang lekat kaitannya dengan kesadaran spiritual seseorang. 

Dari hal itulah saya jadi memahami, bahwa acara penanaman pohon dan temu tokoh adat Nusantara jadi satu upaya untuk menjadikan ritual membangun hubungan antara manusia dan alam.

Ibarat sebuah pohon yang tinggi menjulang, peristiwa menanam pohon ini bisa menjadi monumen kebudayaan yang akarnya tetap berpijak pada kearifan tradisi masyarakat Nusantara. Dan pohon-pohon yang ditanam dan tumbuh selalu memberi nafas panjang bagi kehidupan.

Penulis: Doel Rohim
Editor: Agung Purwandono

Iklan

BACA JUGA Misteri Suara Andong Dini Hari di Jogja dari Kesaksian Warga hingga Kusir Andong Malioboro

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 20 September 2023 oleh

Tags: bukit nusantaralesbuminupohon keramatpohon pusakawonogiri
Doel Rohim

Doel Rohim

Doel Rohim Lahir di Pati sekarang domisili di Yogyakarta. Bekerja di beberapa event literasi dan seni sambil terus mengembangkan hobinya menulis.

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO
Kabar

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026
ilustrasi - PSEL DIY di dekat TPA Piyungan. MOJOK.CO

Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan

11 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.