Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Mengenang Bioskop Senopati Jogja: Saat Asmara dan Gairah Mudaku Bertemu di Surganya Film Panas Jogja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Februari 2024
A A
Mengenang Bioskop Senopati Jogja: Saat Asmara dan Gairah Mudaku Bertemu di Surganya Film Panas Jogja.mojok.co

Ilustrasi Mengenang Bioskop Senopati Jogja: Saat Asmara dan Gairah Mudaku Bertemu di Surganya Film Panas Jogja (Mojok)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kota Jogja dulu punya Bioskop Senopati yang kini beralih rupa menjadi shopping center. Bioskop yang punya julukan “surganya film panas” ini pernah jadi tempat “bentroknya” strata sosial anak muda Jogja.

Hampir sejam saya berkeliling-keliling tanpa tujuan di lapak buku shopping center Jogja. Entah, apa yang bikin saya datang ke tempat tersebut sore itu. Padahal, Jogja sedang diguyur hujan lebat sejak siang. Artinya, secara teori itu bukan momen yang tepat buat jalan-jalan. Apalagi ke suatu tempat tanpa tahu harus ngapain di sana.

Sayangnya, teori itu hanya mental saja. Setelah turun dari Trans Jogja jalur 3A di depan Benteng Vredeburg sekitar pukul 15.00 WIB, saya langsung berjalan cepat menembus butiran air hujan. Tidak basah kuyup, sih, tapi cukup bikin badan menggigil. Sialnya lagi, tak ada pedagang wedang ronde yang biasa mangkal di depan Taman Pintar.

Menemukan sisi lain shopping center selain buku

Sore itu, Kamis (4/1/2024), hanya ada puluhan kios buku di hadapan saya. Satu per satu pedagang menyapa; menanyakan buku apa yang sedang saya cari. Tetapi saya hanya melintas tanpa memberi respons. 

Ribuan buku yang berjejer sama sekali tak menarik minat saya sore itu. Agaknya saya seperti orang linglung. Untung saja tangga dekat lorong di lantai satu dan sebatang kretek menyelamatkan saya dari kelinglungan.

Sambil duduk yang menghembuskan asap demi asap dari mulut, saya mulai mengamati beberapa pedagang yang mulai menutup lapak. Agaknya hujan bikin jualan mereka sepi hari itu. Atau memang sudah sepi sejak hari-hari sebelumnya? Entahlah. Saya masih berpikir sesuatu yang bisa saya jadikan tulisan di sana.

“Musim hujan bikin pedagang shopping center merana? Duh, klise,” kata saya dalam hati.

Ya, hampir tak ada hal lain yang bisa ditulis selain “buku” dari shopping center. Sejak lama, tempat itu memang sudah jadi rujukan orang-orang yang mau berburu buku. Dari yang bajakan, asli, buku-buku lawas hingga baru, semua ada di sini. Namun, sekali lagi, saya sedang tidak mau menulis soal buku.

Mengenang Bioskop Senopati Jogja: Saat Asmara dan Gairah Mudaku Bertemu di Surganya Film Panas Jogja.mojok.co
Shopping Center yang kini jadi lapak jualan buku ternyata dulunya adalah

Lapak buku ini dulunya adalah bioskop terkenal di Jogja

Dalam lamunan, tiba-tiba saya teringat dengan cerita salah satu kenalan saya, Deni Respati (58), yang dulu punya banyak kenangan di tempat ini. Mungkin dari anak tangga yang saya duduki ini, dulu Deni merayakan masa mudanya. 

Apalagi bangunan besar di belakang gedung tempat saya duduk, dulunya adalah salah satu bioskop yang kondang di Jogja. Namanya Bioskop Senopati.

Perkenalan saya dengan Deni cukup unik. Pada suatu siang di tahun 2023, sebenarnya saya sedang liputan soal Angkringan Majas yang unik itu. Namun, di tengah obrolan saya dengan Mbak Dian, pemilik kedai angkringan, Deni tiba-tiba nimbrung obrolan kami. 

Saya ingat betul, saat itu kami sedang mengobrol soal Jogja tempo dulu. Deni, warga asli Jogja yang kini menetap di Magelang, tiba-tiba nyeletuk soal tongkrongan favoritnya pada 1980-an dulu.

“Bioskop Senopati. Sekarang jadi Taman Pintar, lapak buku [shopping center] itu. Dulu mau cari film panas, kaset, pacar, bahkan nyari musuh, ada di sana semua,” ujarnya kepada saya.

Bioskop Senopati lokasinya sangat stategis

Jujur, sebagai orang yang baru menetap di Jogja pada 2017 lalu, saya terkejut. Ternyata ada bioskop selegendaris itu di Jogja. Maklum, saya tahunya hanya bioskop-bioskop yang sudah ada sekarang ini.

Iklan

Bioskop Senopati sendiri terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 1, Ngupasan, Kapanewon Gondomanan, Kota Jogja–persis di lokasi Taman Pintar saat ini.

Dahulu di lokasi tersebut terdapat dua theater yang berdampingan. Pertama, Theater Senopati atau Bioskop Senopati itu sendiri dan yang kedua, Yogya Theater. Pada era 1980-an sampai akhir 1990-an, tempat tersebut jadi spot nongkrong paling favorit para remaja di Jogja. Wajar saja, lokasi memang strategis; dulu di dekat bioskop ada terminal angkot dan pasar sayur.

Sayang sekali, sinar Bioskop Senopati meredup pada awal akhir 1990-an seiring dengan masifnya industri bioskop di Jogja. Pada awal 2000an bioskop ini berhenti beroperasi. Bangunannya dirobohkan pada 2003 dan setahun kemudian dibangun Taman Pintar di sana.

Kendati bangunan fisik sudah hilang dan telah berubah rupa, kenangan masa muda di tempat itu masih membekas di ingatan Deni.

Surganya film panas di Jogja pada masanya

Sekolah Deni, sejak SMP hingga SMA, lokasinya dekat dengan Bioskop Senopati. Kebiasaan bolos pun tak terhindarkan, dan itu sering Deni lakukan bersama teman-temannya. Paling tidak hal itu bisa mengusir rasa bosannya dari pelajaran sekolah yang melelahkan. Lagi pula, aksi nakal itu tak ia lakukan tiap hari.

“Tahu waktu juga lah, hanya kalau lagi bosan saja melipir ke Senopati,” ujarnya membela diri.

Deni mengakui, salah satu daya tarik Bioskop Senopati kala itu adalah film-film yang ditayangkan. Ya, bioskop ini memang terkenal sebagai surganya film panas. Baik yang produksi dalam negeri maupun mancanegara. Sekadar informasi saja, pada masa Orde Baru, film-film panas memang bebas beredar. Pendeknya, ia sedang dalam masa keemasan.

Hal itu bahkan sudah kelihatan dari penjudulan film. Seperti “Bebas Bercinta”, “Rahasia Rumah Bordil”, “Ranjang yang Ternoda”, “Gairah Malam”, hingga “Kenikmatan Tabu”. Poster-posternya juga menunjukkan kalau itu adalah film-film erotis. Hebatnya, film-film tersebut bebas beredar di bioskop-bioskop pada 1980 sampai dengan 1990-an meski Orde Baru lagi masif-masifnya dengan kampanye “film harus memberikan pesan moral dan menciptakan rasa taqwa kepada Tuhan”. Cukup aneh memang.

Nonton film panas dengan penuh perjuangan

Deni sendiri cukup menikmati tren tersebut. Terlebih ia berada di tempat yang tepat. Kepada saya, ia bercerita film panas pertama yang ia tonton di Bioskop Senopati berjudul “Call Girls” buatan luar negeri. Namun, film itu ia tonton dengan penuh perjuangan.

“Seingat sayaharga tiketnya dulu Rp750. Buat anak SMA miskin kayak saya, itu uang yang besar. Makanya saya dan teman-teman kudu tabung terlebih dahulu,” akunya.

Alhasil, Deni bersama tiga temannya yang lain harus menabung. Selama seminggu mereka berhemat. Mulai dari mengurangi jajan di sekolah sampai beberapa kali pulang sekolah berjalan kaki karena uang transport harus ditabung.

Mengenang Bioskop Senopati Jogja: Saat Asmara dan Gairah Mudaku Bertemu di Surganya Film Panas Jogja.mojok.co
Deni harus berjuang keras untuk bisa nonton film panas. Salah satunya dengan nyogok petugas penjaga. (Mojok)

Ketika uang sudah terkumpul pun masalah baru muncul. Saat itu, untuk film-film erotis dibatasi bagi penonton berusia 18+ saja. Sementara Deni dan kolega masih 17 tahun.

“Mau enggak mau kita kudu patungan lagi buat beli rokok sama minum [alkohol], buat nyogok penjaganya. Lama-lama malah akrab, jadi kalo ada film esek-esek lagi gampang kita nontonnya,” kisah Deni.

Tempat yang menunjukkan kelas sosial dan kenakalan remaja

Selain film-film panas, satu hal yang diingat Deni tentang Bioskop Senopati adalah tempat “bentroknya” remaja-remaja jelata dengan anak orang kaya. Kata dia, antara anak-anak prasejahtera seperti dia dengan anak-anak orang berada bisa dilihat hanya dengan tempat nongkrongnya saja.

“Dulu di lantai 2 juga ada wahana mainan. Lagi ngetren-ngetrennya dingdong waktu itu. Sekali main Rp150 seingatku. Nah, yang main di situ udah jelas anaknya orang kaya. Kita yang jelata-jelata di lantai 1 aja, lihat-lihat kaset,” kata Deni.

Tak hanya menunjukkan kelas sosial para remaja di masanya, Bioskop Senopati juga jadi tempat di mana para muda-mudi merayakan kenakalan mereka. Deni bercerita kalau berbagai hal yang ilegal sekalipun, bisa dijumpai di sini.

“Pil-pilan [narkoba] gampang banget pindah tangan. Sudah jadi rahasia umum juga kala itu. Banyak orang tahu tapi diam saja,” ujarnya.

Pria yang kini tinggal di Magelang ini mengaku, kalau untuk narkoba untungnya dia bisa terselamatkan. Deni bersyukur ia dan teman-temannya tak ada yang punya niat mengonsumsi barang haram tersebut. Hal-hal nakal yang ia pelajari  dari Bioskop Senopati, paling mentok adalah belajar ngerokok, minum-minuman keras, dan bercumbu bersama pasangan.

“Dulu itu minuman keras bebas dijualin, angkringan-angkringan sekitar Senopati nyediain semua. Kalau malam itu anak-anak muda pada minum-minum di sana.”

Cinta pertama yang jadi teman hidup

Deni pun berkisah, momen paling tak terlupakan yang ia rasakan di Bioskop Senopati adalah penemuan cinta pertamanya. Ya, pacar pertama Deni yang kebetulan sekarang jadi istrinya, ia temukan di Bioskop Senopati.

“Kita dulu beda sekolah, tapi saya sering melihatnya main di sekitaran Senopati,” kisah Deni.

Waktu beberapa kali bertemu, Deni mengaku sempat ragu untuk berkenalan. Takut kalau ternyata perempuan itu orang berada. Jelas levelnya berbeda, pikir Deni. Namun, teman-temannya terus mendorongnya untuk berani berkenalan. Dan setelah tahu kalau perempuan tadi ternyata juga kalangan jelata seperti dia, nyalinya pun muncul.

“Setelah beberapa kali jalan, pacaran lah kita. Ya namanya anak muda, kalau pacaran ya ngapain sih. Apalagi di Senopati yang remajanya bandel-bandel,” ujarnya yang diikuti gelak tawa.

Deni mengaku pacaran cukup lama. Meski sempat berpisah karena pacarnya pindah ke Kota Magelang, mereka akhirnya menikah pada 1997. 

“Pokonya Bioskop Senopati itu menjadi tempat yang enggak bakal saya lupakan di Jogja.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Riwayat 5 Bioskop Mati di Jogja, Ada yang Berubah Jadi Teras Malioboro

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2024 oleh

Tags: bioskopfilm panasJogjapilihan redaksisejarah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Menormalisasi memberi bintang 5 ke driveri ojek online (ojol) meski tidak memuaskan. Bintang 1 bikin rezeki mereka seret MOJOK.CO
Catatan

Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga

2 Mei 2026
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh MOJOK.CO
Esai

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

1 Mei 2026
kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO
Catatan

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa

Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

29 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Pelari kalcer, fenomena olahraga lari

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.