User kereta api kerap beranggapan bahwa perjalanan jauh antarkota lebih nyaman naik kereta api, sekalipun kelas ekonomi seperti KA Sri Tanjung dengan “siksaan” yang sudah menjadi rahasia umum. User Sri Tanjung baru disadarkan bahwa anggapannya itu tidak sepenuhnya benar ketika terpaksa menjajal bus PATAS Eka. Berawal dari keterpaksaan malah menjadi ketagihan.
War ticket: bagian menyebalkan saat ingin naik kereta api (KA) Sri Tanjung
Awal mulanya adalah pada Ramadan edisi 2024 silam. Itu tahun pertama Wiratama (27), pemuda asal Solo, Jawa Tengah, bekerja di Surabaya, Jawa Timur.
Selama kuliah dan menjajal kerja di Jogja, jelas Wiratama menjadi user KRL. Karena lebih akrab dengan stasiun ketimbang terminal, dalam perjalanan Solo-Surabaya (atau sebaliknya), ia lebih nyaman menggunakan kereta api ketimbang bus.
Sampai akhirnya, menjelang mudik lebaran 2024, ia terpaksa untuk pertama kalinya naik bus gara-gara kalah war ticket kereta api ekonomi (KA) Sri Tanjung. “Baru aku ngerti kemudian, ternyata kalau mau naik Sri Tanjung memang bener-bener harus war. Nggak cuma di momen mudik lebaran, tapi momen akhir pekan atau libur panjang juga,” ujar Wiratama, Minggu (1/3/2026).
Masalahnya, jam keberangkatan KA Sri Tanjung memang terbatas. Dari arah Solo hanya di pagi hari. Kalau dari arah Surabaya tersedia di siang hari. Sedangkan jika ingin naik kereta lain, agak sayang karena harga tiketnya Rp200 ribuan.
“Waktu itu, ada kereta tambahan lebaran juga udah penuh. Jadi kehabisan opsi selain bus,” ungkap Wiratama.
Pertama kali naik bus PATAS Eka, overthinking sejak sebelum naik
Melalui obrolan dengan seorang teman yang lebih terbiasa naik bus, Wiratama memutuskan untuk naik bus PATAS Eka.
“Nggak apa-apa lah, Rp100 ribuan. Cuma selisih dikit dari Sumber Selamat yang kelas ekonomi (Rp90 ribuan),” ujar Wiratama.
Wiratama tidak punya keberanian untuk naik bus ekonomi Sumber Selamat. Tentu saja menimbang rekam jejak bus berlogo lumba-lumba tersebut yang ugal-ugalan di jalur selatan.
Itupun, karena jarak Surabaya-Solo yang amat panjang, tetap saja membuat perjalanan dengan bus ekonomi Sumber Selamat itu akan terasa sangat lama (melewati Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kertosono, Caruban, Mediun, Magetan, Ngawi, dan Srgaen).
“Tapi mau naik bus Eka, biarpun PATAS, itu juga tetep bikin waswas. Karena meskipun PATAS ya, nyatanya aku udah sering denger kasus kehilangan tas dan barang berharga di bus itu,” ucap Wiratama.
Bahkan sebelum naik, ia sudah overthinking lebih dulu. Tapi bagaimana lagi. Tidak ada pilihan lain selain naik bus tersebut. Untuk PATAS, sebenarnya ada pilihan populer lain: Sugeng Rahayu. Tapi, karena berasal dari PO yang sama, Sugeng Rahayu ibarat Sumber Selamat versi bus PATAS. Ah, mending tidak.
User kereta api (KA) Sri Tanjung naik bus PATAS Eka, lah kok lebih nyaman?
Jujur saja, kesan pertama Wiratama berada di dalam bus PATAS Eka penuh kekhawatiran. Apalagi saat itu, kursi-kursi bus terisi penuh oleh para pemudik. Takut kalau-kalau, di antara para penumpang itu, ada pengutil yang sedang mengincar barang bawaan Wiratama.
Namun, nyatanya toh hal buruk itu tidak terjadi pada Wiratama. Justru kesan nyaman lah yang ia dapatkan selepas perjalanan dengan bus PATAS Eka itu. Jauh lebih nyaman ketimbang naik Sri Tanjung.
“Pertama, kursi jelas nggak hadap-hadapan. Tapi lebih penting dari itu, kursi bisa nyender, nggak tegak lurus 90 derajat. Punggung nggak tersiksa lah. Empuk juga,” ujar Wiratama.
“Kedua, AC-nya enak. Dan yang lebih penting, ada toilet juga buat sekadar buang air kecil. Kan nggak jauh berbeda dengan Sri Tanjung.
Jika di kereta api ekonomi Sri Tanjung ada kantin kereta untuk membeli makan, bus PATAS Eka juga punya restoran pemberhentian di Ngawi, Jawa Timur. Jadi, membeli karcis bus memang sudah sepaket dengan kupon makan.
Kupon makan itu bisa digunakan untuk menukar menu makanan di restoran pemberhentian. Selain bisa makan, waktu berhenti yang relatif senggang (tidak terlalu singkat) memungkinkan penumpang seperti Wiratama bisa menikmati rokok sejenak.
Dari keterpaksaan menjadi ketagihan, walaupun tetap tak bisa tenang
Momen pertama kali seorang user KA Sri Tanjung naik bus PATAS Eka itu justru berubah dari keterpaksaan menjadi ketagihan. Sebab, setelahnya, Wiratama justru lebih sering naik bus Eka ketimbang Sri Tanjung.
“Kalau masih dapat tiket ya tetep Sri Tanjung. Tapi kalau nggak, ya ke bus Eka aja. Kalau Sumber Selamat memang belum berani coba hehe,” ungkap Wiratama.
Jika kehabisan tiket Sri Tanjung, misalnya dari Solo hendak ke Surabaya, ia tinggal menuju Terminal Tirtonadi. Setidaknya hingga di jam-jam setelah isya, masih ada bus Eka yang beroperasi.
Begitu juga untuk perjalanan dari arah Surabaya ke Solo. Tinggal ke Terminal Bungurasih, lalu jujuk ke jalur keberangkatan bus Eka. “Tapi memang harus pinter-pinter mengelabui calo. Kecuali kalau udah terbiasa ngadepin calo dan nggak tertipu,” ucap Wiratama.
Waktu tempuh bus PATAS Eka imbang-imbangan dengan Sri Tanjung dan tentu lebih ringkas daripada Sumber Selamat. Sebab, bus Eka ini mengambil rute full tol. Dari Solo langsung bablas Surabaya. Paling turun di Ngawi untuk kemudian naik lagi dari Kertosono.
Begitu juga sebaliknya. Dari Surabaya langsung full tol hingga turun di Sragen atau Solo sekalian.
“Jelas aku bisa tidur. Karena punggung bisa nyender, to. Bangun-bangun udah mau masuk Tirtonadi. Cuma kalau tidur, ya kuamankan dulu tasku. Syukur aku belum pernah ngalami kehilangan di bus itu. Tapi kan isu kehilangan di bus Eka sudah sangat umum, jadi perlu hati-hati,” beber Wiratama.
“Di sisi ini, jenis penumpang Sri Tanjung memang lebih baik dari bus Eka. Karena di kereta api aku nggak khawatir kehilangan barang. Barang ditaruh di bagasi atas, udah aman. Kalau di bus, sekalipun sudah didekep, tetep aja waswas. Jadi seolah siksaan punggung pindah ke pikiran karena overthinking,” sambungnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














