Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
23 April 2026
A A
Tongkrongan gen Z di coffee shop

Ilustrasi - Tongkrongan gen Z di coffee shop (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Salah seorang teman mengatakan dirinya menemukan serombongan tongkrongan anak muda berkisaran usia 20-an, berarti gen Z, yang menciptakan kebisingan di coffee shop di Jogja. 

Ujarnya, anak-anak ini bertingkah seakan tidak tahu tempat. Mereka merasa berada di rumahnya sendiri. Kemudian, tidak peduli dengan sekitarnya yang terganggu.

Iklan

Padahal, coffee shop adalah ruang umum.

Memang harus diakui, kalangan semacam ini ada. Namun, tidak dapat digeneralisasi—disamaratakan, sebab gen Z sesungguhnya terbagi dalam beberapa kelompok dalam budaya tongkrongan.

Setidaknya, mengamati pola nongkrong gen Z yang masih berstatus mahasiswa, kelompok ini terbagi menjadi empat.

#1 Tongkrongan gen Z canggung satu sama lain

Kelompok pertama adalah gen Z yang tidak saling mengenal satu sama lain. Biasanya, mereka terpaksa nongkrong bersama untuk sebuah misi yang ingin dicapai. Misal, bekerja kelompok yang pembentukan kelompoknya dipilih secara acak atau oleh dosen.

Dalam kondisi ini, mereka bisa jadi tidak terlalu akrab satu sama lain. Atau, bahkan, baru saling mengenal. 

Jadilah, percakapan yang terjadi hanya berputar dalam pembahasan mengenai tugas kuliah. Percakapan lainnya juga tidak akan menyinggung terlalu dalam mengenai kisah personal satu sama lain. Sebab, masih ada ketakutan kalau akan menyakiti perasaan orang lain kalau-kalau salah kata.

“Kamu jadinya asal mana?”

“Di sini, ngekos di mana?”

Percakapan itu dilontarkan dengan nada canggung yang kentara, serta keingintahuan yang tidak terlalu tinggi. 

Alasan lain, tongkrongan ini tidak akan terlalu berisik adalah tidak adanya kecocokan sedari awal. Mulai dari penentuan tempat saja, kecanggungan ini bisa menyebabkan beberapa di antara yang berada dalam kelompok itu merasa tidak nyaman karena kesalahan pemilihan tepat.

Survei tempat nongkrong favorit gen Z
Survei tempat nongkrong favorit gen Z (Sumber: StatsMe)

Data menunjukkan bahwa gen Z lebih menyukai kafe sebagai tempat nongkrong. Namun pemilihan kafe ini juga, mempunyai pertimbangan mendalam berdasarkan beberapa faktor yang subjektif.

Kalau banyak perbedaan pendapat, sudah pasti rasa tidak nyaman membuat tongkrongan semakin senyap.

#2 Nggak nge-date, tapi gen Z nongkrong dengan menyisipkan agenda catch up

Tipikal yang kedua datang dari yang dilakukan lebih sedikit orang, tetapi bisa menciptakan kebisingan melebihi beberapa orang dari kelompok sebelumnya. Sebab, tongkrongan gen Z ini dilakukan oleh mereka yang sudah memiliki ikatan yang kuat.

Artinya, bukan berarti kegiatan nongkrong ini dilakukan oleh lawan jenis dalam artian nge-date. Kegiatan ini juga bisa dilakukan oleh sesama perempuan, ditujukan untuk menyelesaikan tugas bersama sekaligus ngobrol, serta menyisipkan agenda catch up.

@the.catchupclub @SIVIA tuh tipe yang saklek banget. Baru 1 minggu pacaran udah nanya: “kita ini mau serius apa nggak?” ga pake lama, maunya yang pasti-pasti aja. Plot twist-nya ini kejadian pas masih kelas 2 SMA hahaha #TheCatchUpClub ♬ original sound – The Catch Up Club

Kelompok nongkrong yang satu ini mempunyai pola obrolan yang cukup terbaca. Misal, pada beberapa menit awal kedatangan, mereka akan sibuk mengatur posisi duduk dengan nyaman terlebih dahulu.

Iklan

Beberapa menit berikutnya, pola yang akan berlangsung adalah ngobrol singkat, lalu kembali pada pekerjaan, minum kopi atau minuman yang dipesan, mencoba fokus, gagal, kembali ngobrol, dan seterusnya.

Oleh karena itu, tingkat kebisingan yang diciptakan seharusnya tidak begitu mengganggu. Namun juga, tidak mungkin terlalu lama saling diam. 

#3 Level kebisingan nyaris maksimal, nongkrong dengan teman satu lingkar pertemanan

Selanjutnya, inilah kelompok yang cukup meresahkan sebagian orang. Mereka berasal dari sirkel pertemanan yang sama sehingga mengatur waktu untuk nongkrong.

Dalam kesempatan itu, banyak hal bisa terjadi. Mulai dari menghabiskan waktu hanya untuk duduk dan mengobrol di coffee shop, atau menyempatkan mengerjakan pekerjaan lain—yang kerap berujung terabaikan karena terlalu asyik mengobrol. 

Karena itulah, tongkrongan gen Z ini menempati posisi dengan kadar berisik menengah hingga atas. 

Dipengaruhi oleh banyaknya anggota dalam percakapan yang bergabung sampai dengan tingkat kedekatan yang membuat obrolan dilakukan dengan semangat tinggi, serta rasa penasaran yang tidak ada habisnya, tongkrongan ini bukan tidak mungkin akan tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Dalam istilah lain, dunia terasa seperti milik mereka sendiri.

Kehadiran kelompok ini di coffee shop mengakibatkan sebagian pengunjung akan mempertimbangkan ada atau tidaknya kelompok tongkrongan gen Z seperti ini di kafe yang ingin dikunjungi. 

“Tapi, berisik gak?” begitu kira-kira bentuk pertanyaannya.

Apabila iya, kata “berisik” itu merujuk pada adanya sekumpulan gen Z yang terlalu heboh hingga membuat suasana tidak terlalu nyaman. Begitu pula dengan jawaban yang tidak mengiyakan, jawaban tersebut merujuk pada suasana yang kondusif berkat pengunjungnya tidak termasuk kelompok ini.

#4 Mahasiswa dari jurusan “bergengsi”

Kelompok terakhir datang dari mereka yang berasal dari jurusan kuliah yang spesifik. Jurusan kuliahnya tergolong bergengsi, dibandingkan jurusan lain sehingga ada “nilai” yang bisa dipamerkan.

hasil seleksi jalur SNBP 2026
Ilustrasi – Hasil seleksi jalur SNBP 2026 (dok. Panitia SNPMB)

Jurusan Kedokteran menduduki peringkat ke-3 dan ke-7 dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang berbeda. Hal ini menunjukkan minat terhadap jurusan tersebut yang tinggi. Di sisi lain, hal ini juga mencerminkan gengsi yang bisa didapatkan dari status sebagai mahasiswa jurusan ini.

Kenia (31) mengatakan, dirinya beberapa kali menemui tongkrongan gen Z yang berisi mahasiswa Jurusan Kedokteran di coffee shop. Mereka memang tidak terlalu banyak bicara santai, melainkan lebih fokus dalam mengerjakan tugas kuliah bersama.

Masalahnya adalah pengerjaan tugas yang dilakukan juga menyertakan percakapan dengan suara yang lantang dan tidak ada habisnya. Belum lagi, obrolan semacam ini seakan-akan menekankan status mereka sebagai mahasiswa Jurusan Kedokteran.

“Tampak seru, karena mereka diskusi patah tulang gitu-gitu lho. Suaranya kedengeran aja gitu,” kata dia kepada Mojok, Kamis (23/4/2026).

Mencoba memahaminya, Kenia bilang, alasan mereka mau tidak mau berisik adalah dilibatkannya praktik dalam diskusinya. Sebagai contoh, ia pernah melihat mahasiswa Jurusan Kedokteran yang duduk secara terpisah di kursi coffee shop. Mereka membagi duduk menjadi dua orang per meja, kemudian belajar bersama untuk praktikum.

“Aku heran mereka tuh jadi kayak latihan berdua, tanya jawab gitu, terus bawa stetoskop gitu kayak lucu aja sih,” kata dia.

Namun barang tentu, kegiatan ini juga mengharuskan mereka berbicara dalam volume suara yang tidak kecil.

Pada satu waktu, saya juga pernah mengalami hal serupa dengan mahasiswa yang diduga berasal dari jurusan bergengsi ke-9 dan ke-10 berdasarkan daftar jurusan PTN paling banyak diminati.

“Jadi, pasal ini….”

Berdasarkan percakapan yang nyaring dan berulang di salah satu ruang indoor di coffee shop yang berlokasi di Palagan, Jogja, itu, bisa ketahui mereka berasal dari Jurusan Hukum. Beberapa kali, dalam percakapannya, hal-hal mengenai himpunan juga disebutkan untuk menegaskan asal-usul mereka.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nongkrong di Coffee Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 April 2026 oleh

Tags: gaya hidup gen zGen ZGen Z di coffee shopgen z indonesiamahasiswa gen Zpreferensi gen Zsirkel gen Ztongkrongantongkrongan di coffee shoptongkrongan gen z
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.