Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
20 Agustus 2026
A A
ilustrasi ketua pemuda

ilustrasi-perfeksionis (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menduduki jabatan sebagai ketua pemuda itu memang terdengar gagah dan kharismatik. Namun, dibalik itu ada perasaan ngenes karena dianggap bisa menyelesaikan semua masalah yang terjadi di kampung. 

***

Iklan

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di kampung cukup majemuk di daerah Gamping Sleman, menjadikan diri saya memiliki jiwa sosial yang tinggi. 

Sudah nyaris 5 tahun saya menduduki jabatan yang cukup bergengsi di kampung ini. Secara kultural, jabatan ketua pemuda di kampung saya itu nyaris setara dengan Dukuh atau kepala Dusun. 

Bedanya, kalau secara administratif memang pemimpin tertinggi adalah Dukuh, namun secara sosial bisa jadi saya setara dengan Dukuh.

Jadi ketua pemuda itu modalnya bisa srawung dan kuat mental

Dulu, ketika pemilihan ketua pemuda, saya diajukan secara voting. Dari seratus lebih anggota pemuda, 75 persen lebih anggota memilih saya menjadi ketua. Jelas saya menjadi ketua terpilih mutlak. 

Alasan teman-teman memilih saya karena mereka melihat saya memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa saya memang suka “srawung”, nyaris semua warga kampung saya tahu nama dan rumahnya.

Modal sosial yang saya miliki memang diwariskan dari orang tua. Bapak dan ibu saya aktif di perkumpulan tahlilan dan pengajian, juga acara kampung lainnya. Praktis sebagai anaknya saya mewarisi kemampuan srawung tersebut.

Seiring berjalannya masa jabatan, saya menyadari bahwa modal sosial saja tidak cukup. Bisa srawung saja tidak menjadi jaminan saya menjadi ketua pemuda yang baik. Memiliki mental yang kuat tentu adalah modal selanjutnya.

Mental yang kuat diperlukan ketika menghadapi beberapa masalah di kampung, mulai dari perkelahian antar pemuda, hingga urusan yang cukup menyita banyak waktu.

Apapun masalahnya, ketua pemuda pasti punya solusinya

Menjadi ketua pemuda berarti bersedia dianggap sebagai orang yang bisa menyelesaikan hampir semua masalah.

Lampu penerangan mati? Tanya saya.

Anak-anak muda mulai jarang berkumpul? saya harus bergerak.

Ada lomba Agustusan? Ya, siapa lagi kalau bukan saya?

Lama-lama saya merasa jabatan ini seperti tombol darurat. Selama masih ada masalah yang belum selesai, tombolnya bisa ditekan kapan saja.

Padahal ketua pemuda juga manusia. Punya pekerjaan, punya urusan sendiri, punya hari ketika ingin pulang ke rumah lalu rebahan tanpa harus memikirkan urusan kampung.

Rasanya, jabatan sosial di kampung itu tidak mengenal jam kerja.

Srawung bukan sembarang srawung

Srawung bukan sekadar datang ke acara lalu duduk sebentar. Di dalamnya ada kewajiban untuk hadir, mengenal, menyapa, ikut membantu, dan menunjukkan bahwa kita masih menjadi bagian dari lingkungan.

Iklan

Bagi orang yang tidak terbiasa hidup dalam lingkungan kampung, mungkin itu terdengar sederhana.

Padahal tidak sesederhana itu. Ada semacam hutang sosial yang tidak pernah ditulis di buku kas. Ketika tetangga punya hajatan, kita datang. Ketika ada orang meninggal, kita melayat. Ketika kampung kerja bakti, kita ikut. Ketika ada rapat, setidaknya wajah kita pernah terlihat.

Semua itu seperti tabungan sosial.

Kita tidak pernah tahu kapan membutuhkan bantuan orang lain. Karena itu, srawung menjadi cara masyarakat kampung menjaga hubungan. 

Masalahnya, menjadi ketua pemuda membuat hutang sosial itu terasa lebih besar.

Kalau anak muda lain tidak datang rapat, mungkin hanya dianggap sedang sibuk. Kalau ketua pemuda tidak datang, pertanyaannya bisa berbeda.

“Ketua pemudanya mana?”

Satu pertanyaan pendek yang kadang mampu membuat kepala terasa lebih berat.

Agustus adalah puncak kemumetan saya

Semua kemumetan ketua pemuda itu mencapai puncaknya setiap bulan Agustus.

Bulan kemerdekaan bagi sebagian orang adalah bulan memasang bendera, menikmati lomba, makan bersama, lalu melihat anak-anak berlarian membawa hadiah.

Bagi saya, Agustus adalah bulan ketika kalender terasa sangat pedih. Ada rapat, ada membentuk panitia, ada mencari dana, ada kerja bakti, ada lomba, dan ada malam perayaan kemerdekaan.

Agustus membuat saya berubah menjadi manusia dengan kemampuan multitasking yang tidak pernah tercantum dalam surat keputusan.

Yang paling lucu, semua pekerjaan itu sering terlihat seperti kegiatan bersenang-senang.

Di titik tertentu saya mulai memahami bahwa menjadi ketua pemuda bukan soal siapa yang paling pandai memimpin. Kadang jabatan itu hanya diberikan kepada orang yang dianggap masih punya tenaga, masih mau bergerak, dan—yang paling berbahaya—masih sulit mengatakan tidak. 

Ketua pemuda memang gagah, tapi tidak semua masalah kampung bisa diselesaikan sendiri 

Namun mungkin sudah waktunya kita mengakui bahwa kerja sosial tetaplah kerja. Ketua pemuda boleh gagah ketika berdiri di depan warga. Tetapi saya juga boleh capek. Boleh bingung. Boleh tidak tahu harus mencari uang dari mana. Boleh punya urusan pribadi. 

Sebab di balik jabatan yang kelihatannya sederhana itu, ada banyak pekerjaan yang tidak masuk hitungan. Ada waktu saya yang hilang, tenaga yang habis, uang yang kadang keluar dari kantong sendiri, dan ada hutang sosial yang terus berjalan.

Jabatan ketua pemuda memang gagah. Tapi kalau semua masalah dianggap tanggung jawab saya, jabatan itu juga bisa sangat ngenes.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Agustus 2026 oleh

Tags: Agustusankampungkarang tarunaketua pemudasrawung
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Artikel Terkait

Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Pamer Harta Sudah Ketinggalan Zaman: Tren Terbaru Ibu-Ibu Gang Kampung Adalah Flexing Utang Bank Emok. MOJOK.CO

Pamer Harta Sudah Ketinggalan Zaman: Tren Terbaru Ibu-Ibu Gang Kampung Adalah Flexing Utang Bank Emok

22 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
fisiologi pohon, walhi kerusakan lingkungan mojok.co

Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis

13 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun MOJOK.CO

Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun

14 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.