Salah seorang teman mengatakan dirinya menemukan serombongan tongkrongan anak muda berkisaran usia 20-an, berarti gen Z, yang menciptakan kebisingan di coffee shop di Jogja.
Ujarnya, anak-anak ini bertingkah seakan tidak tahu tempat. Mereka merasa berada di rumahnya sendiri. Kemudian, tidak peduli dengan sekitarnya yang terganggu.
Padahal, coffee shop adalah ruang umum.
Memang harus diakui, kalangan semacam ini ada. Namun, tidak dapat digeneralisasi—disamaratakan, sebab gen Z sesungguhnya terbagi dalam beberapa kelompok dalam budaya tongkrongan.
Setidaknya, mengamati pola nongkrong gen Z yang masih berstatus mahasiswa, kelompok ini terbagi menjadi empat.
#1 Tongkrongan gen Z canggung satu sama lain
Kelompok pertama adalah gen Z yang tidak saling mengenal satu sama lain. Biasanya, mereka terpaksa nongkrong bersama untuk sebuah misi yang ingin dicapai. Misal, bekerja kelompok yang pembentukan kelompoknya dipilih secara acak atau oleh dosen.
Dalam kondisi ini, mereka bisa jadi tidak terlalu akrab satu sama lain. Atau, bahkan, baru saling mengenal.
Jadilah, percakapan yang terjadi hanya berputar dalam pembahasan mengenai tugas kuliah. Percakapan lainnya juga tidak akan menyinggung terlalu dalam mengenai kisah personal satu sama lain. Sebab, masih ada ketakutan kalau akan menyakiti perasaan orang lain kalau-kalau salah kata.
“Kamu jadinya asal mana?”
“Di sini, ngekos di mana?”
Percakapan itu dilontarkan dengan nada canggung yang kentara, serta keingintahuan yang tidak terlalu tinggi.
Alasan lain, tongkrongan ini tidak akan terlalu berisik adalah tidak adanya kecocokan sedari awal. Mulai dari penentuan tempat saja, kecanggungan ini bisa menyebabkan beberapa di antara yang berada dalam kelompok itu merasa tidak nyaman karena kesalahan pemilihan tepat.

Data menunjukkan bahwa gen Z lebih menyukai kafe sebagai tempat nongkrong. Namun pemilihan kafe ini juga, mempunyai pertimbangan mendalam berdasarkan beberapa faktor yang subjektif.
Kalau banyak perbedaan pendapat, sudah pasti rasa tidak nyaman membuat tongkrongan semakin senyap.
#2 Nggak nge-date, tapi gen Z nongkrong dengan menyisipkan agenda catch up
Tipikal yang kedua datang dari yang dilakukan lebih sedikit orang, tetapi bisa menciptakan kebisingan melebihi beberapa orang dari kelompok sebelumnya. Sebab, tongkrongan gen Z ini dilakukan oleh mereka yang sudah memiliki ikatan yang kuat.
Artinya, bukan berarti kegiatan nongkrong ini dilakukan oleh lawan jenis dalam artian nge-date. Kegiatan ini juga bisa dilakukan oleh sesama perempuan, ditujukan untuk menyelesaikan tugas bersama sekaligus ngobrol, serta menyisipkan agenda catch up.
@the.catchupclub @SIVIA tuh tipe yang saklek banget. Baru 1 minggu pacaran udah nanya: “kita ini mau serius apa nggak?” ga pake lama, maunya yang pasti-pasti aja. Plot twist-nya ini kejadian pas masih kelas 2 SMA hahaha #TheCatchUpClub ♬ original sound – The Catch Up Club
Kelompok nongkrong yang satu ini mempunyai pola obrolan yang cukup terbaca. Misal, pada beberapa menit awal kedatangan, mereka akan sibuk mengatur posisi duduk dengan nyaman terlebih dahulu.
Beberapa menit berikutnya, pola yang akan berlangsung adalah ngobrol singkat, lalu kembali pada pekerjaan, minum kopi atau minuman yang dipesan, mencoba fokus, gagal, kembali ngobrol, dan seterusnya.
Oleh karena itu, tingkat kebisingan yang diciptakan seharusnya tidak begitu mengganggu. Namun juga, tidak mungkin terlalu lama saling diam.
#3 Level kebisingan nyaris maksimal, nongkrong dengan teman satu lingkar pertemanan
Selanjutnya, inilah kelompok yang cukup meresahkan sebagian orang. Mereka berasal dari sirkel pertemanan yang sama sehingga mengatur waktu untuk nongkrong.
Dalam kesempatan itu, banyak hal bisa terjadi. Mulai dari menghabiskan waktu hanya untuk duduk dan mengobrol di coffee shop, atau menyempatkan mengerjakan pekerjaan lain—yang kerap berujung terabaikan karena terlalu asyik mengobrol.
Karena itulah, tongkrongan gen Z ini menempati posisi dengan kadar berisik menengah hingga atas.
Dipengaruhi oleh banyaknya anggota dalam percakapan yang bergabung sampai dengan tingkat kedekatan yang membuat obrolan dilakukan dengan semangat tinggi, serta rasa penasaran yang tidak ada habisnya, tongkrongan ini bukan tidak mungkin akan tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Dalam istilah lain, dunia terasa seperti milik mereka sendiri.
Kehadiran kelompok ini di coffee shop mengakibatkan sebagian pengunjung akan mempertimbangkan ada atau tidaknya kelompok tongkrongan gen Z seperti ini di kafe yang ingin dikunjungi.
“Tapi, berisik gak?” begitu kira-kira bentuk pertanyaannya.
Apabila iya, kata “berisik” itu merujuk pada adanya sekumpulan gen Z yang terlalu heboh hingga membuat suasana tidak terlalu nyaman. Begitu pula dengan jawaban yang tidak mengiyakan, jawaban tersebut merujuk pada suasana yang kondusif berkat pengunjungnya tidak termasuk kelompok ini.
#4 Mahasiswa dari jurusan “bergengsi”
Kelompok terakhir datang dari mereka yang berasal dari jurusan kuliah yang spesifik. Jurusan kuliahnya tergolong bergengsi, dibandingkan jurusan lain sehingga ada “nilai” yang bisa dipamerkan.

Jurusan Kedokteran menduduki peringkat ke-3 dan ke-7 dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang berbeda. Hal ini menunjukkan minat terhadap jurusan tersebut yang tinggi. Di sisi lain, hal ini juga mencerminkan gengsi yang bisa didapatkan dari status sebagai mahasiswa jurusan ini.
Kenia (31) mengatakan, dirinya beberapa kali menemui tongkrongan gen Z yang berisi mahasiswa Jurusan Kedokteran di coffee shop. Mereka memang tidak terlalu banyak bicara santai, melainkan lebih fokus dalam mengerjakan tugas kuliah bersama.
Masalahnya adalah pengerjaan tugas yang dilakukan juga menyertakan percakapan dengan suara yang lantang dan tidak ada habisnya. Belum lagi, obrolan semacam ini seakan-akan menekankan status mereka sebagai mahasiswa Jurusan Kedokteran.
“Tampak seru, karena mereka diskusi patah tulang gitu-gitu lho. Suaranya kedengeran aja gitu,” kata dia kepada Mojok, Kamis (23/4/2026).
Mencoba memahaminya, Kenia bilang, alasan mereka mau tidak mau berisik adalah dilibatkannya praktik dalam diskusinya. Sebagai contoh, ia pernah melihat mahasiswa Jurusan Kedokteran yang duduk secara terpisah di kursi coffee shop. Mereka membagi duduk menjadi dua orang per meja, kemudian belajar bersama untuk praktikum.
“Aku heran mereka tuh jadi kayak latihan berdua, tanya jawab gitu, terus bawa stetoskop gitu kayak lucu aja sih,” kata dia.
Namun barang tentu, kegiatan ini juga mengharuskan mereka berbicara dalam volume suara yang tidak kecil.
Pada satu waktu, saya juga pernah mengalami hal serupa dengan mahasiswa yang diduga berasal dari jurusan bergengsi ke-9 dan ke-10 berdasarkan daftar jurusan PTN paling banyak diminati.
“Jadi, pasal ini….”
Berdasarkan percakapan yang nyaring dan berulang di salah satu ruang indoor di coffee shop yang berlokasi di Palagan, Jogja, itu, bisa ketahui mereka berasal dari Jurusan Hukum. Beberapa kali, dalam percakapannya, hal-hal mengenai himpunan juga disebutkan untuk menegaskan asal-usul mereka.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Nongkrong di Coffee Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














