Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
3 Agustus 2026
A A
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

ilustrasi - menemukan kedamaian di Muhammadiyah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lahir dan besar di lingkungan desa yang kental dengan tradisi keagamaan, tidak lantas membuat perjalanan spiritual beberapa pemuda ini berjalan mulus. Berawal dari krisis identitas dan fenomena “Islam KTP”, mereka memilih belajar lebih dalam soal Islam terutama ajaran Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai organisasi terbesar di Indonesia.

Berat hati pergi ke langgar untuk mengaji

Ibarat sinetron religi “Para Pencari Tuhan”, Ayut (22) melihat sendiri fenomena aneh di keluarganya yang menyandang status “Islam KTP”. Istilah ini muncul bagi orang yang memiliki status agama Islam di KTP tapi tidak rajin menjalankan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. 

Iklan

Bagaimana tidak, Ayut yang terlahir dari keluarga Islam, melihat sendiri bagaimana bapaknya tidak pernah salat di rumah. Begitu pula ibunya, yang salat masih bolong-bolong dan neneknya yang salat tapi belum berjilbab dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi ya nggak bisa dibilang agamis. Nggak bisa juga dibilang anggota NU atau Muhammadiyah walaupun sejak kecil aku banyak menyerap ajaran NU,” tegas Ayut saat dihubungi Mojok, Minggu (2/8/2026).

Masalahnya, Ayut yang sejak kecil belajar di madrasah dituntut untuk melaksanakan salat sebagai tiang agama. Tidak hanya salat lima waktu, dia juga disuruh pergi ke langgar tidak peduli hujan, mati lampu, atau gelap saat malam. 

“Sepulang sekolah aku selalu disuruh ke madrasah yang kental dengan ajaran NU, mulai dari jam 14.00 WIB sampai 17.00 WIB. Aku nggak boleh nonton TV atau main di rumah. Pokoknya harus salat dan mengaji,” ucapnya.

Hilang arah saat remaja hingga mengenal Muhammadiyah

Bukannya semakin taat beribadah, Ayut justru kehilangan arah saat remaja. Bahkan dia ragu dengan ajaran agama Islam yang dia pelajari selama ini. Ayut yang lahir di lingkungan pedesaan dengan tradisi keagamaan yang kuat, terkadang merasa kurang nyaman dengan sentimen warganya terhadap orang yang memiliki cara ibadah berbeda.

Misalnya begini, ada tetangganya yang selesai salat berjamaah di masjid tidak ikut zikir bersama dan langsung pulang. Sontak, tetangganya itu langsung dicap aneh oleh warga desa karena tidak melakukan ibadah seperti mayoritas warga di sana.

Namun, Ayut sendiri tidak tahu pasti tentang status tetangganya itu, apakah dia pengikut NU atau Muhammadiyah. Yang jelas, kata Ayut, dia tidak suka dengan penilaian organisasi tertentu untuk mendiskreditkan organisasi lainnya. 

Tak jarang, Ayut merasa miris saat mendengar berita tentang oknum pemuka agama yang terjerat kasus hukum atau pelanggaran moral, seperti korupsi maupun kasus kekerasan seksual yang terjadi di pesantren. Hal itu membuatnya semakin kritis terhadap institusi agama.

“Dari sanalah aku penasaran untuk mempelajari agamaku lebih dalam, baik itu ajaran NU atau Muhammadiyah,” kata Ayut.

Kagum dengan kontribusi Muhammadiyah

Ayut bukannya menuduh jelek salah satu organisasi Islam tertentu. Namun berdasarkan pengalaman spiritualnya, dia menimbang, ada rasa syukur saat mengenal ajaran Muhammadiyah bahkan ketika orang tuanya sempat menentang.

Di tengah berbagai dinamika umat Islam, Ayut merasa bersyukur menemukan pandangan baru saat mengenal ajaran Muhammadiyah. 

“Mereka concern betul dengan riset dan pendidikan, bahkan yang aku tahu ada Muhammadiyah Australia College (MAC) di Melbourne,” kata Ayut.

Iklan

Selain itu, sebagai organisasi Islam kedua terbesar di Indonesia setelah NU, Muhammadiyah pernah meraih Zayed Award for Human Fraternity 2024 atas kontribusinya dalam perdamaian dan kemanusiaan global. 

Mereka juga mengelola banyak jaringan rumah sakit, lembaga amil zakat atau Lazismu, hingga Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Dari situlah Ayut makin tertarik.

“Aku belum bisa mengklaim diri sebagai anggota Muhammadiyah atau nggak bisa dibilang juga anggota NU karena aku masih betul-betul belajar. Namun, aku nggak bisa memungkiri kalau Muhammadiyah berhasil mengubah mindset aku tentang Islam sebelum aku benar-benar ingin murtad,” tutur Ayut.

Adem ayem ikut pengajian Muhammadiyah

Perjalanan mengenal ajaran NU versus Muhammadiyah di masa remaja tak hanya dialami Ayut, tapi juga Regy (25) yang lahir dan besar di keluarga NU. Regy mengaku baru tertarik dengan Muhammadiyah pada tahun 2024.

“Aku punya teman yang notabenenya Muhammadiyah dan dia ngajak pengajian saat Ahad pagi di salah satu Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM),” kata Regy dikonfirmasi Mojok, Minggu (2/8/2026).

Regy yang mulanya ragu akhirnya mau-mau saja ikut kajian tersebut karena gabut. Toh, dia sebenarnya juga penasaran. Dari pengalaman pertama itu lah, dia mendapatkan kesan yang bagus.

“Pengajiannya adem ayem dan yang paling penting bebas asap rokok,” ujarnya terkekeh, “sejak saat itu saya jadi tertarik sampai mendaftar jadi anggota di tahun 2025 lalu,” kata Regy.

Keputusan itu bukanlah hal yang mudah, sebab sama seperti Ayut, orang tua Regy juga sempat menentang. Namun lambat laun, baik orang tua Ayut maupun Regy akhirnya membolehkan. Toh, keduanya sudah dewasa dan berhak memilih.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2026 oleh

Tags: ajaran MuhammadiyahBelajar AgamaIslamlazismuMDMCmencari jati diriMuhammadiyahnuorganisasi islampengajian Muhammadiyahpengalaman spiritualprestasi Muhammadiyah
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO
Sekolahan

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sombongkan IPK dan gelar sarjana cumlaude dari PTS Jogja. Optimis pikat HRD perusahaan incaran tapi ujungnya lontang-lantung bawa lamaran pekerjaan MOJOK.CO

Dulu “Sombongkan” IPK dan Gelar Sarjana Cumlaude, Kini Malu Lontang-lantung Cari Kerja karena Tren HRD Tak Terpikat IPK

29 Juli 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Putusan MK Perlu Diapresiasi, tapi Anggaran MBG Harus Tetap Keluar dari Dana Pendidikan Mulai 2027

30 Juli 2026
Caffino Srikandi Merdeka Cup: turnamen sepak bola putri internasional di Kudus, momentum bakat muda Indonesia unjuk kualitas MOJOK.CO

Srikandi Merdeka Cup: Turnamen Sepak Bola Putri U-16 Level Internasional di Kudus, Momentum Unjuk Kualitas untuk Tembus Timnas

3 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
Penggagalan perdagangan ilegal burung di Tanjung Perak Surabaya. Satwa dilindungi dimasukkan boks sampai ada yang mati MOJOK.CO

Penggagalan Perdagangan Ilegal Burung di Tanjung Perak Surabaya, Satwa Dilindungi Dimasukkan Boks sampai Ada yang Mati

30 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.