ADVERTISEMENT

“Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

Solo date lebih asik daripada nongkrong bareng teman. MOJOK.CO

Tak hanya di Indomaret, pekerja Jogja itu juga sering solo date di kafe. Aktivitasnya bisa macam-macam. Mulai dari baca buku, mindfulness dengan mengamati sekitar, atau sekadar melamun guna introspeksi diri. 

Jurnal berjudul “Pemaknaan Nongkrong bagi Mahasiswa Yogyakarta” pernah menyebut kalau nongkrong bisa menjadi sarana self-healing atau proses pemulihan diri, karena ruang sendiri mampu mempengaruhi kestabilan emosi seseorang. Terlebih jika diselingi dengan white noise.

White noise merupakan  suara-suara  di sekitar  yang  berfrekuensi  rendah  yang mampu  menstabilkan  emosi  seseorang, di mana hal ini dapat ditemukan dari suara halus  mesin  penggiling  kopi,  dentingan gelas,  dan  obrolan  pengunjung  kafe,” ujar Ganistria Marbawani dan Grendi Hendrastomo dikutip dari Jurnal Kajian Sosiologi.

Normalisasi orang usia 25 yang ingin solo date 

Ketika orang lain tidak terbiasa pergi sendiri, Izza mengaku sudah dididik harus mandiri sejak kecil, sebab orang tuanya sibuk bekerja bahkan sampai ia dititipkan ke tetangga. Izza juga sering mendapat penolakan dari orang-orang sekitar saat ingin mengajak mereka pergi bersama.

“Aku sering dikecewain orang, jadinya males ribet. Harus nunggu mereka bisa lah, janjian dulu lah. Apalagi di usia menjelang 25 ini, banyak temanku yang nggak bisa diajak pergi dadakan. Alhasil aku lebih nyaman sendiri, karena nyaman saja. Nggak ada yang bikin buru-buru,” kata Izza.

Namun, bukan berarti dia selalu menolak tiap diajak pergi bersama. Untuk beberapa aktivitas yang serunya baru terasa saat dilakukan ramai-ramai, kata Izza, dia bakalan ikut. Hanya saja, kegiatan yang sifatnya personal, seperti belanja, kerja di kafe, nonton bioskop, lebih suka ia lakukan sendiri.

Bahkan kadang-kadang, dengan solo date, Izza bisa bertemu dengan orang-orang baru. Saling berbagi perspektif dan mengambil pelajaran hidup dari satu sama lain. Pada akhirnya, Izza sadar kalau ternyata hidup nggak harus bergantung ke orang lain. 

Solo date bikin aku lebih peka terhadap sekitarku. Jadi lebih sering ngeliatin keadaan sekitar dan orang-orang dengan kesibukannya, lebih noticing hal detail aja tentang bagaimana dunia ini bekerja,” kata Izza.

Oleh karena itu, Izza berharap orang-orang mulai menormalisasi kegiatan solo date. Tak perlu dikasihani. Bahkan, bisa jadi mereka adalah orang yang sudah berdamai dengan dirinya. Berani dan tangguh secara mental.

Penulis: Aisyah Amira Wakang 

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Baru Deep Talk dengan Bapak di Usia 25, Bikin Sadar kalau Selama Ini Dia Sangat Kesepian dan Pikul Beban Sendirian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 April 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.