Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
3 Februari 2026
A A
kos di jakarta.MOJOK.CO

Ilustrasi - dihajar realitas Jakarta (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tinggal satu kos bareng sepupu yang masih nganggur itu rasanya sangat tidak enak. Salah satunya dirasakan Abra, perantau asal Solo yang ngekos di Jakarta. Ia merasa sangat terbebani, tapi kalau mengeluh karena bakal dianggap “jahat”.

***

Bagi banyak perantau di Jakarta, kamar kos bukan sekadar tempat untuk merebahkan badan setelah delapan jam bertarung dengan tumpukan pekerjaan. Kamar kos wujud kebebasan.

Kos-kosan adalah satu-satunya ruang di mana seseorang bisa menjadi diri sendiri, tanpa perlu takut mendapat omelan orang tua. 

Tidak usah hal ekstrem, kebebasan itu bisa dari yang paling sederhana sekalipun. Misalnya, di kos, kita begadang sampai pagi, menumpuk pakaian kotor berhari-hari, atau sekadar malas-malasan di akhir pekan. Di rumah, melakukan hal tersebut seperti berdosa.

Namun, bagi Abra (28), perantau asal Solo yang kini ngekos di kawasan Setiabudi, kebebasannya sebagai anak kos perlahan sirna dalam lima bulan terakhir. Kebebasan yang ia bangun selama tiga tahun, terampas oleh kehadiran sepupunya sendiri.

Sepupu tersebut adalah anak dari tantenya–kakak kandung dari ibunya. Secara trah, karena memegang erat prinsip Jawa, sepupu itu ia panggil “Mas” meski usianya lima tahun lebih muda darinya. Sepupunya itu baru lulus kuliah, dan konon sedang menunggu panggilan kerja di Jakarta, kala itu.

Niat hati bantu saudara hingga harus nambah uang kos

Awalnya, niat Abra sangat tulus. Sang sepupu baru saja lulus kuliah dan berniat mencari peruntungan di Jakarta. 

“Kasian juga soalnya di Jakarta nggak punya siapa-siapa,” kata Abra, Minggu (1/2/2026).

“Apalagi dia juga bilangnya sementara waktu aja. Kalau sudah dapat kerja dan dapat gaji, dia bakal ganti semua biaya kosnya,” imbuhnya.

Abra pun tak mempermasalahkannya. Ia tak keberatan berbagi ruang yang tak seberapa luas itu. Meski secara finansial, ada konsekuensi yang harus ditanggung. 

Kamar kos yang awalnya disewa Abra seharga Rp750.000 per bulan, kini membengkak menjadi Rp950.000 karena aturan penghuni tambahan. Selisih Rp200.000 itu tentu harus dibayar Abra.

“Tapi ini bukan soal uang ya. Aku saat itu juga nggak masalah kalau nggak diganti.”

Makin tidak nyaman karena kelakuan yang sembarangan

Dua bulan pertama tinggal di kos bareng sepupu, berjalan tanpa hambatan berarti. Sang sepupu masih tahu diri. Ia rajin menyapu lantai, merapikan kasur, bahkan sesekali mentraktir Abra makan saat mendapat kiriman uang dari orang tua. Abra merasa keputusannya menampung sepupu adalah tindakan mulia yang tak merugikannya.

Iklan

Namun, memasuki bulan ketiga, kehidupannya mulai terusik. “Panggilan kerja” yang sejak awal digembar-gemborkan itu tak kunjung menjadi nyata. 

Sebagai orang yang sudah lebih dulu merasakan pahit manis mencari kerja di Jakarta, Abra mulai mencium aroma ketidakjujuran. Instingnya mengatakan bahwa sepupunya tidak benar-benar berusaha mencari kerja. Kabar tentang “sedang menunggu interview” atau “sudah kirim CV” perlahan terdengar seperti omon-omon.

“Aku aslinya tahu dia nggak bener-benar cari kerja. Tapi aku nggak enak buat basa-basi nanya, apalagi nanya soal kerjaannya itu,” kata Abra.

Sialnya, ketidakjelasan status pekerjaan itu dibarengi dengan perubahan perilaku yang menjengkelkan. Sang sepupu mulai menunjukkan “sifat aslinya” yang kurang disiplin. 

Masalah pertama adalah rokok. Abra memang seorang perokok. Namun, ia memiliki prinsip untuk tidak pernah menyalakan api di dalam kamar kos karena benci bau apek yang menempel di sprei dan tirai. 

Sialnya, sang sepupu, dengan santainya, sering mengebulkan asap di dalam kamar saat Abra sedang tidak ada, atau bahkan saat Abra sedang tidur.

Masalah kedua, adalah kebersihan. Bungkus makanan instan atau sisa camilan sering dibiarkan tergeletak berhari-hari hingga dikerubungi semut. Pakaian kotor pun menumpuk, menciptakan aroma tak sedap yang memenuhi ruangan sempit itu. 

Abra yang kerap pulang kerja dalam keadaan lelah sering kali harus mengelus dada melihat pemandangan tersebut. Ia ingin sekali berteriak, tapi selalu sungkan dan nggak enak hati.

“Rasanya pengen aku usir karena nggak betah aku sama orang jorok. Cuma aku masih sadar diri kalau dia masih keluarga besar.”

Niat baiknya malah “dipelintir”

Puncak kekesalan Abra sebenarnya sempat ia salurkan, tapi dengan cara yang sangat sopan. Ia menghubungi tantenya di kampung, ibu dari sang sepupu. Abra bicara dengan hati-hati, menceritakan bahwa mungkin sang sepupu akan lebih mandiri jika memiliki kamar sendiri.

“Kebetulan juga saat itu ada kamar kosong di lantai bawah yang harganya cukup terjangkau,” kata dia.

Namun, niat baik Abra justru berbuah petaka. Tantenya salah menangkap maksud tersebut. Cerita itu sampai ke telinga ibu Abra dengan narasi yang berbeda: Abra dianggap tidak senang dengan kehadiran saudaranya sendiri dan hanya mementingkan uang.

“Memangnya berapa uang yang kamu minta? Nanti pasti diganti kok, jangan perhitungan sama saudara,” begitu balasan yang diterima Abra melalui telepon dari ibunya. 

Kalimat itu seperti tamparan. Bagi Abra, ini bukan lagi soal uang dua ratus ribu atau biaya makan tambahan. Ini soal privasi dan kenyamanan. Sejak saat itu, Abra memilih bungkam. Ia sadar, di mata keluarga besar, ia adalah pihak yang “jahat” jika berani mengeluh.

“Gedebok pisang” yang suka main judi online di kamar kos

Kini, memasuki bulan kelima, situasi semakin memuakkan. Sang sepupu seolah sudah merasa memiliki kamar tersebut sepenuhnya. Ia menjelma menjadi apa yang Abra sebut sebagai “gedebok pisang”.

“Cuma bisa rebahan, ongkang-ongkang kaki, main HP seharian,” ungkapnya kesal.

Yang lebih memprihatinkan, Abra mulai melihat tanda-tanda sang sepupu terjebak dalam lingkaran judi online. Di depan mata Abra, tanpa rasa malu sedikit pun, sang sepupu sering memandangi layar ponsel yang menampilkan mesin slot yang berputar. 

Ia seolah tak sadar bahwa ia sedang menumpang di hidup orang lain yang bekerja keras dari pagi hingga malam.

Melihat sepupunya tidur mendengkur saat ia harus bersiap berangkat kantor, atau melihatnya asyik bermain judi saat Abra sedang pusing dengan laporan bulanan, adalah siksaan batin yang luar biasa. 

Kamar kos yang dulunya adalah tempat pelarian dari penatnya dunia, kini justru menjadi sumber stres baru.

Abra sadar bahwa ia tidak bisa terus-menerus hidup seperti ini. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin ia sendiri yang akan kehilangan kewarasannya. Namun, mengusir secara langsung adalah pilihan yang mustahil dilakukan tanpa menciptakan konflik besar di keluarga besar.

“Aku sih udah muak. Tapi masih nggak nemu cara buat mengusir secara halus.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kerasnya Hidup di Tambora Jakarta Barat, Perantau Berbagi Ruang dengan Tikus dan Kecoa di Kos Kumuh atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2026 oleh

Tags: jakartakehidupan jakartakoskos barengKos Bebaskos di jakartakos murah jakartapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

karet tengsin, jakarta. MOJOK.CO
Urban

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat MOJOK.CO
Sehari-hari

Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat

2 Februari 2026
Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis MOJOK.CO
Sehari-hari

Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis

31 Januari 2026
Cara Pamit Megadeth Agak Cringe, Tapi Jadi Eulogi Manis Buat Menutup Perjalanan Empat Dekade di Skena Thrash Metal.MOJOK.CO
Catatan

Album “Pamitan” Megadeth Jadi Eulogi Manis dan Tetap Agresif, Meskipun Agak Cringe

30 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
Tabungan likuid untuk jaga-jaga pas kehilangan pekerjaan (PHK) memang penting. Tapi banyak pekerja Indonesia tak mampu MOJOK.CO

Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup

29 Januari 2026
Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja.MOJOK.CO

Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

29 Januari 2026
guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
guru BK.MOJOK.CO

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
kentucky, rocket chicken mojok.co

“Kentucky” Pinggir Jalan: Makanan Biasa-Biasa Saja yang Terasa Mewah, Menyadarkan Betapa Miskinnya Saya Dulu

29 Januari 2026

Video Terbaru

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026
Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.