Terintimidasi dan terhina di tengah tongkrongan iPhone
Dengan kondisi hp android Samsung A50-nya yang seperti itu, jelas saja Nasicha kerap merasa terintimidasi dan terhina setiap kali nongkrong. Baik nongkrong dengan teman kerja, teman semasa kuliah dulu, hingga teman-teman rumah.
“Edan, sekarang di tongkrongan mana pun pasti iPhone,” ucap Nasicha.
Jelas Nasicha merasa terintimidasi. Pertama, tiap ada sesi foto-foto dan saling lempar iPhone siapa yang akan digunakan untuk mengambil gambar, Nasicha yang ciut. Sebab, tidak mungkin dong ia menawarkan hp-nya.
Dulu kamera hp-nya memang terkesan sudah paling oke. Tapi kini, orang jelas akan meragukan kalau sebuah momen dipotret dengan menggunakan hp android. Walaupun sebenarnya makin banyak juga hp android dengan kamera bersaing. Itu lah kenapa Nasicha juga mengaku belakangan agak melirik Samsung Galaxy S26.
“Kedua, dalam setiap obrolan, itu pasti ada saja sesi khusus buat review iPhone masing-masing. Terus berbagi info soal iPhone serie terbaru,” kata Nasicha.
Di antara tongkrongan Nasicha, rasa-rasanya hanya Nasicha yang tidak pernah percaya diri mengeluarkan hp di meja tongkrongan. Rasa-rasanya pula hanya dia yang tidak pernah memiliki satu pun hasil mirror selfie di cermin toilet umum.
iPhone tidak akan berhenti memperdaya penggunanya!
Hp android Samsung Galaxy A50 Nasicha memang sudah usang dan tertinggal dari tren. Nasicha bukannya tidak tergiur untuk memiliki iPhone. Toh misalnya ada keluaran serie terbaru, harga iPhone series sebelumnya umumnya bisa menjadi rendah.
Akan tetapi, Nasicha menolak didikte dan diperdaya iPhone. Sebab, ponsel pintar ini seperti tidak akan berhenti menjejali penggunanya dengan gengsi.
Bagaimana tidak. Serie satu baru saja rilis di Indonesia. Eh tidak lama kemudian sudah rilis lagi serie baru secara global yang kemudian dinanti-nanti kapan bakal masuk Indonesia.
“iPhone itu tidak hanya memperdaya cewek, tapi cowok juga loh. Aku ada teman cowok yang gila banget sama iPhone. Dia itu setiap ada keluaran baru, pasti langsung beli, terus yang serie sebelumnya langsung dijual,” beber Nasicha.
“Saat kutanya kenapa sampai segitunya? Jawaban dia: biar nggak ketinggalan, biar jadi orang paling update perihal tren iPhone. Tapi memang anak orang kaya sih,” sambungnya.
Bahkan, saat Nasicha benar-benar tergoda dengan Samsung Galaxy S26, ia memilih bertahan dengan hp bututnya. Sepanjang masih bisa difungsikan. Kalau ada kerusakan minor masih bisa diperbaiki dengan biaya minim. Jadi tidak alasan untuk beli hp baru: sekalipun iPhone dan Samsung Galaxy S26 tampak mengedip-ngedipkan mata dan melambaikan tangan, menggoda.
Sebab, Nasicha mengajak dirinya sendiri untuk hidup dalam fungsi. Bukan dalam gengsi dan standar hidup ala TikTok. Menuruti gengsi dan standar hidup TikTok tidak akan memberi kelegaan, tapi justru siksaan karena selalu merasa kurang. Sialnya, standar tersebut seperti tidak ada habisnya: dari zaman ke zaman selalu ada saja standar baru yang menuntut diikuti untuk memberi makan ego dan gengsi.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mahasiswa PTN Bohongi Orang Tua, Mengaku Baik-Baik Saja padahal 4 Tahun Kuliah Menderita karena HP Kentang dan Laptop Bobrok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














