Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
16 Februari 2026
A A
Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO

Ilustrasi - Ngekos di Jogjangekos setelah menikah, tinggal bareng mertua, kesehatan mental pasangan baru, biaya ngekos di Jogja, ngekos, pasangan baru, kesehatan mental, pilihan redaksi (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mamad memilih ngekos setelah menikah daripada harus tetap tinggal bersama mertuanya di desa. Memang, di perantauan finansialnya begitu empot-empotan. Namun, bagi dia, tantangan hidup di Jogja jauh lebih ringan daripada harus mengorbankan kesehatan mentalnya.

***

Iklan

Di banyak desa di Indonesia, khususnya di Jawa, ada sebuah hukum tidak tertulis yang diamini banyak orang tua. Ya, anak yang baru menikah sebisa mungkin tetap tinggal di rumah orang tua atau mertua. 

Alasannya beragam, mulai dari dalih “biar ada yang menemani”, hingga urusan bakti anak kepada orang tua. Namun, bagi Muhammad (27), atau yang akrab disapa Mamad, tradisi ini ternyata memiliki harga yang harus dibayar mahal: kesehatan mental.

Mamad adalah seorang pemuda yang bekerja di sektor swasta di Jogja. Sudah satu setengah tahun ia mengarungi bahtera rumah tangga. Namun, perjalanannya tidak langsung mulus. Enam bulan pertama pernikahannya dihabiskan dengan tinggal di rumah mertuanya di Kebumen, Jawa Tengah, sebelum akhirnya ia sadar bahwa ngekos setelah menikah adalah jalan keluar yang ia butuhkan.

Sebelum itu, Mamad memilih menjadi “pejuang laju”. Setiap hari Senin subuh, ia berangkat dari Kebumen menuju Jogja untuk bekerja, lalu kembali pulang pada akhir pekan. Istrinya, yang merupakan ibu rumah tangga, tetap tinggal di rumah atas permintaan sang mertua.

Baginya, keputusan untuk ngekos setelah menikah bukan berarti lari dari tanggung jawab, melainkan cara untuk membangun pondasi keluarga yang lebih mandiri.

Tinggal bareng ortu/mertua bikin mental ambyar

Di media sosial seperti TikTok atau Twitter, curhatan tentang nggak enaknya tinggal bersama mertua sering kali viral. Banyak orang menganggap itu berlebihan. Namun, bagi mereka yang belum bisa ngekos setelah menikah seperti Mamad, tekanan batin itu sangat nyata 

Memang, sih, tidak ada kekerasan fisik, atau tindakan ekstrem lain. Tetapi, yang ia rasakan adalah tekanan batin.

“Tinggal di rumah orang lain, meskipun itu mertua sendiri, rasanya seperti bertamu yang nggak ada selesainya,” kenang Mamad, Minggu (16/2026). “Tahu kan rasanya bertamu gimana? Kadang resah, kadang pengen cepet pulang.”

Sebagai lelaki yang sudah mengepalai keluarga sendiri, Mamad merasa privasinya terkikis. Segala hal kecil dalam rumah tangga mereka tak luput dari pengawasan dan komentar mertua. Mulai dari urusan bangun pagi, menu makanan, hingga cara mereka berinteraksi sebagai suami-istri. 

Ada rasa sungkan yang terus-menerus menggelayuti. Ia cuma bisa memendam rasa tidak nyaman karena merasa harus selalu tampil “sempurna” sebagai menantu.

Kondisi ini diperparah dengan fakta ilmiah. Secara psikologis, tinggal bersama mertua dapat memicu stres interpersonal yang kronis. Bagi seorang istri, rasa tidak berdaulat di dapur atau rumah sendiri bisa meningkatkan hormon stres.

Mamad pun menyadari bahwa tantangan ekonomi saat ngekos setelah menikah bakal jauh lebih ringan daripada mengorbankan kesehatan mental dia dan istrinya.

Iklan

Memilih boyong istri ke kos sederhana di Jogja

Setelah enam bulan penuh tekanan, Mamad mengambil keputusan besar. Ia memilih memboyong istrinya ke Jogja. Keputusan ini bukan tanpa tentangan, karena mertua awalnya masih ingin anaknya tetap di rumah. 

Namun, Mamad teguh. Ia lebih memilih dompetnya yang menangis daripada batin istrinya yang tersiksa.

“Awalnya ya sedikit conflicted. Tapi sebagai suami harus tegas ambil keputusan,” ungkapnya. “Bagiku sih lebih baik membayar biaya sewa daripada kesehatan mental berantakan jika terus menunda buat ngekos setelah menikah.”

Mamad menyewa sebuah kamar kos campur di tengah Kota Jogja dengan harga Rp850 ribu per bulan. Kamar itu sangat sederhana. Jauh dari kata mewah, bahkan mungkin terlihat sempit bagi sebagian orang. Namun, bagi Mamad dan istrinya, kamar itu mereka rasakan sebagai kebebasan.

Secara matematis, pilihan ini sangat berisiko. Gaji Mamad hanya Rp3,2 juta per bulan. Jika dipotong biaya kos sebesar Rp850 ribu, maka sisa uang mereka tinggal Rp2,35 juta untuk kebutuhan makan, listrik, transportasi, dan tabungan. Jumlah ini tentu sangat pas-pasan untuk hidup berdua di kota seperti Jogja.

Apalagi, harga rumah di Jogja saat ini terus meroket. Kenaikan harga properti di Jogja bisa mencapai 10 hingga 15 persen per tahun, jauh melampaui kenaikan upah minimum (UMK) yang rata-rata hanya merangkak di angka 5 sampai 7 persen.

Bagi buruh seperti Mamad, menabung untuk membeli rumah sendiri terasa seperti mengejar mimpi yang terus menjauh.

“Banyak orang bilang, lebih baik tinggal bareng mertua biar bisa nabung buat beli rumah. Tapi buat apa punya tabungan banyak kalau tiap hari istri saya stres dan kami sering berantem karena tekanan orang tua? Rumah bisa dicari nanti, tapi kesehatan mental istri saya tidak ada cadangannya,” ujar Mamad mantap.

Ngekos setelah menikah dan cara self-reward sederhana di tengah keterbatasan

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari yang semakin mencekik, Mamad tidak tinggal diam. Selepas pulang kerja kantoran, ia tidak lantas beristirahat. Ia memakai jaket hijaunya dan mulai menarik ojek online (ojol). Ia mengakui bahwa manajemen keuangan saat ngekos setelah menikah memang menantang, sehingga narik ojol menjadi napas tambahan bagi keuangan mereka.

Hasil dari aspal Jogja itu ia gunakan untuk hal-hal yang ia sebut sebagai “self-reward”. Kadang, uang hasil ojol ia pakai untuk mengajak istrinya makan enak di warung favorit atau sesekali menonton film di bioskop.

“Itu cara kami merayakan kebebasan. Meskipun cuma makan sate atau nonton film, rasanya beda kalau uangnya hasil usaha sendiri dan makannya tanpa rasa sungkan ditanya-tanya mertua,” katanya sambil tersenyum.

Kini, kebahagiaan mereka terasa makin lengkap. Istri Mamad sedang hamil. Di kamar kos yang sederhana itu, Mamad merasa bisa menjadi suami yang lebih perhatian. Ia bisa mengelus perut istrinya, mengobrol tentang masa depan calon anak mereka, atau sekadar membantu pekerjaan rumah tangga tanpa harus merasa diawasi atau dinilai oleh orang lain.

Kemesraan mereka justru tumbuh subur di tengah keterbatasan ekonomi. Tanpa campur tangan mertua, Mamad dan istrinya belajar menjadi dewasa bersama.

“Finasial memang agak empot-emptan, tapi semua bakal ada jalan. Yang penting sekarang, mental health aman,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2026 oleh

Tags: biaya ngekos di Jogjakesehatan mentalkesehatan mental pasangan barungekosngekos setelah menikahpasangan barupilihan redaksitinggal bareng mertua
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Pelajaran mahal setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI MOJOK.CO

Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain

9 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.