Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
16 Juli 2026
A A
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

ilustrasi - milenial ramaikan tagar #KaburAjaDulu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di antara fresh graduate yang menghadiri Job Fair Kota Yogyakarta 2026, beberapa milenial tampak memadati booth yang menawarkan kerja di luar negeri (LN). Mereka mengklaim, kerja di luar negeri lebih worth it dibandingkan kerja di Indonesia.

***

Iklan

Lagu Sarjana Muda karya Iwan Fals mengalun sendu di Auditorium Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Kampus Yogyakarta pada Rabu (16/7/2026) siang. Di tengah Job Fair Kota Yogyakarta 2026 tersebut, tak sedikit job seeker yang duduk di hadapan panggung untuk mengistirahatkan kaki sejenak. Salah satunya milenial bernama Della*. 

Alih-alih sedih dengan lirik “engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja,”, Della hanya menatap kosong ke depan panggung untuk mengistirahatkan badannya yang lelah, setelah berpindah dari satu booth ke booth lainnya.

Perempuan berusia 32 tahun itu mengaku tidak terlalu relate dengan lirik tersebut, karena masa-masa sulit mencari kerja setelah lulus sarjana sudah pernah dilaluinya. Hanya saja, begitu lirik “empat tahun lamanya, bergelut dengan buku, ‘tuk jaminan masa depan’,” berbunyi, Della langsung termenung.

Nekat bolos kerja demi ke Job Fair Kota Yogyakarta

Sebagai guru kontrak di salah satu sekolah di Jogja, Della paham betul rasanya bekerja tapi tidak digaji layak. Tugas bejibun mengurus siswa dan tuntutan besar mencerdaskan anak bangsa, nyatanya tak sebanding dengan kesejahteraan yang dia terima.

Dengan gaji tak sampai UMR Jogja, Della harus menekan biaya hidupnya sehari-hari. Beruntung, dia masih tidak ada tanggungan untuk membiayai keluarga. Meski begitu, Della merasa tidak cukup. Saat gajinya pas-pasan, harga kebutuhan pokok justru semakin meningkat. Di titik itulah Della merasa lelah.

“Kemarin sepulang mengajar aku ke sini tapi terlambat. Ternyata acaranya sudah selesai. Makanya, hari ini aku nekat bolos kerja demi datang ke job fair,” kata Della saat ditanya Mojok, Rabu (16/7/2026).

Melirik peluang kerja di luar negeri 

Informasi soal Job Fair Kota Yogyakarta 2026 sebelumnya dia dapat dari media sosial. Dari 3 ribu lowongan kerja lebih yang tersedia, ada beberapa booth yang paling menarik minatnya karena menawarkan kerja di luar negeri. 

“Kalau kerja di sini, aku nggak yakin dengan gaji yang diberikan, karena berdasarkan pengalamanku, rasanya tabungan terus habis walaupun sudah kerja selama ini,” ujar Della.

Para job seeker. MOJOK.CO
Para pencari kerja mengerubungi booth BP3MI di Job Fair Kota Yogyakarta 2026. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Selain itu, banyak lowongan kerja di Indonesia yang membatasi usia maksimal 30 sampai 35 tahun. Jadi kayak menutup kesempatan kami,” lanjutnya.

Della pun cukup lama nangkring di booth Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) untuk bertanya banyak hal. Sebab selama ini, dia mengaku awam dan belum punya banyak pengalaman.

“Ini pengalaman pertamaku langsung ke job fair, sebelumnya nggak pernah. Jujur agak menyesal, kenapa nggak dari dulu,” ucapnya.

Selama ini, Della hanya berkutat mencari kerja di media sosial atau dari mulut ke mulut. Namun, ada banyak berita job scam yang membuatnya gusar. Apalagi, pekerjaan impiannya ada di luar negeri yang punya risiko lebih besar.

Iklan

Oleh karena itu, Della tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya untuk langsung bertanya, mulai dari modal yang harus dikumpulkan untuk pelatihan, sekaligus perusahaan mana saja yang terpercaya dan sudah bekerja sama dengan BP3MI.

Wujudkan mimpi yang tertunda, kerja di luar negeri

Selain Della, Nur Cholis (37) tak kalah antusias saat berada di booth BP3MI dan LPK yang ada di Job Fair Kota Yogyakarta 2026. Senada dengan Della, Cholis, sapaan akrabnya mengaku termotivasi kerja di luar negeri agar bisa menabung.

“Saya tuh punya tetangga yang sudah kerja di luar negeri, lumayan sukseslah hidupnya. Dia sempat kerja di sini, tapi terus balik lagi ke luar negeri. Mungkin karena tabungannya sudah habis,” kata Cholis terkekeh.

Nur Cholis cari kerja. MOJOK.CO
Nur Cholis (37) di Job Fair Kota Yogyakarta 2026. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Semasa duduk di bangku SMK, Cholis sebenarnya pernah dua kali mendaftar untuk magang ke luar negeri tapi gagal. Dia pun belum punya cukup modal untuk mengikuti pelatihan mandiri yang biayanya terbilang mahal.

“Sekarang saya jadi ingin lagi kerja di luar negeri, karena rasanya kok sudah lama bekerja tapi ekonomi terus pas-pasan,” ucap milenial itu.

Selama ini, Cholis sudah mencoba banyak pekerjaan. Mulai dari pegawai di perusahaan garmen, otomotif, cuci motor, hingga sekarang freelance di service panggilan. Bahkan, 4 tahunnya pernah dia habiskan di Jakarta sebagai kota dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) tertinggi di Indonesia. Meski begitu, gajinya selalu numpang lewat.

“Rasanya cuma buat hidup di hari ini dan hanya cukup untuk diri sendiri. Saya juga ingin sekali-kali bisa belikan hadiah untuk keponakan,” ujar Cholis.

Muak dengan gaji mungil Yogyakarta

Nur Cholis pun tak menampik, mencari kerja di Indonesia tidaklah mudah apalagi di usianya yang hampir menginjak kepala 4. Selain harus bersaing dengan fresh graduate, dia juga harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. 

“Pengalaman saya yang sudah bertahun-tahun kerja sepertinya tidak terlalu menarik HR. Walaupun peluangnya mungkin ada, tapi balik lagi, saya nggak bisa menabung,” kata Cholis.

Belakangan ini, jagat media sosial memang ramai dengan tagar #KaburAjaDulu. Tagar ini menjadi wadah bagi generasi muda termasuk milenial dan Gen Z untuk meluapkan keresahan mereka tentang susahnya bertahan hidup secara finansial di Indonesia.

Salah satu alasannya seperti yang dirasakan Nur Cholis dan Della: gaji selalu habis dan tidak bisa menabung, walaupun sudah bekerja mati-matian. Tak pelak, kedua milenial itu tergiur untuk kerja di luar negeri.

Namun, baik Nur Cholis maupun Della menegaskan, setelah diterima kerja di luar negeri dan berhasil mengumpulkan banyak uang, mereka bakal kembali ke Indonesia. Sebab bagaimanapun, keduanya tak bisa lama-lama jauh dari keluarga.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2026 oleh

Tags: cari kerjajob fairJogjakabur aja dulukerja di LNkerja di luar negerilowongan kerjalowongan kerja di jogjaYogyakarta
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO
Kabar

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.