Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Maret 2026
A A
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO

Ilustrasi - Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di kalangan anak-anak perantauan, ungkapan “Rindu masakan ibu” menjadi ungkapan populer untuk menggambarkan betapa kangen untuk pulang ke rumah.

Alasannya, pertama, saat di rumah anak perantauan tidak perlu bingung mencari makanan yang murah atau sesuai selera. Sebab, kala bangun tidur, ibu sudah menghidangkan makanan di meja. 

Iklan

Kedua, ada tipikal anak perantauan yang memang benar-benar hanya cocok dengan masakan ibu. Contohnya saya sendiri. Sesederhana apapun masakan ibu, di lidah saya itu tetaplah makanan terbaik dan terenak. 

Saya tidak pernah kehilangan mood makan walaupun yang terhidang hanya sambal terong dan telur dadar. Berbeda kalau di perantauan. Meski banyak pilihan makanan, nyatanya tetap membenturkan saya pada kebosanan yang berujung pada tidak selera makan. 

Namun, dalam sebuah obrolan di Threads yang saya ikuti pada Rabu (11/3/2026) dini hari, ternyata ada anak perantauan yang mengakui kalau “Rindu masakan ibu” kerap kali hanya slogan semata: untuk membahasakan “Pengin pulang” atau “Kangen rumah” secara lebih puitis. 

Masakan ibu yang “itu-itu saja” di rumah merusak mood

Misalnya yang diakui oleh Zabila (24), perempuan asal Sukabumi yang merantau di Kota Bandung, Jawa Barat. 

Zabila sebenarnya tidak menampik kalau sekali waktu ia benar-benar rindu dengan masakan ibu. Terutama saat rasa kangen pada rumah sudah memuncak sementara musim liburan masih jauh. 

Hanya saja kalau ditanya, ia tidak bisa mendeskripsikan, masakan ibu seperti apa yang ia rindukan. Pokoknya kangen saja dengan aroma dapur saat ibu memasak. 

Masalahnya kemudian, kendati sudah pulang ke rumah, antusiasme untuk makan masakan ibu hanya terjadi sehari/dua hari saja. Selebihnya adalah kebosanan. 

“Kayak nggak mood aja lihat makanan yang itu-itu saja. Nggak tahu ini problem umumnya cewek atau nggak ya. Tapi aku suka gitu. Soal makan mood-moodan,” ucap Zabila. 

Begitu juga dengan Elham (26), pemuda asal Tulungagung yang merantau di Gresik, Jawa Timur. Kalau kata Elham: “Pas jauh dari rumah ngiler membayangkan wujud dan aroma dapur. Tapi pas sudah di rumah, malah enek dan nggak selera karena menunya (apalagi menu desa sebagaimana tempat tinggal Elham) yang membosankan dan nggak variatif.”

Lebih pilih nyari makan di luar atau bikin mie instan daripada masakan ibu karena membosankan

Jika sudah begitu, Zabila biasanya lebih sering memilih mencari makan di luar. Pada akhirnya tidak jauh berbeda dengan aktivitas di perantauan: nyari makan di luar. 

Elham pun sama. Tapi kalau tidak sedang ingin keluar rumah, ia dengan sadar dan sengaja membeli dua bungkus mie instan di warung tetangga. Lalu dengan tanpa berdosa pula memasaknya dengan sepengetahuan ibu. 

“Ibu tanya sih, ‘Loh, udah dimasakin kok bikin mie?’. Dulu aku jawab terus terang, lagi nggak tertarik aja sama menunya,” ungkap Elham. 

Iklan

Elham tidak memperhatikan ekspresi wajah sang ibu mendengar jawaban tersebut, karena Elham sibuk memasak mie instan. Namun, yang ia tahu, ibunya langsung diam. Itu artinya, sebenarnya tidak terjadi apa-apa dari urusan lebih memilih memasak mie instan saat masakan ibu banyak terhidang di meja makan. 

Diam-diam ibu tersakiti dan memendam duka mendalam

Seiring waktu, Zabila dan Elham akhirnya sadar kalau tindakannya yang terkesan “menyepelekan” masakan ibu tersebut ternyata membuat ibu diam-diam tersakiti dan memendam duka mendalam. 

Kesadaran itu Zabila dapat justru dari media sosial. Sebuah konten pernah melintas di beranda Instagramnya. Isinya: masakan ibu sering kali bukan perkara rasa. Tapi kasih sayang besar pada anak-anaknya. 

“Kalau anak ngabari mau pulang ke rumah, ibu itu sangat semangat dan antusias buat masakin. Bagi dia masakannya bakal disukai. Karena sedari anak kecil, ya masakan-masakan dari tangan ibu pasti masuk di mulut anak,” tutur Zabila mencoba menjelaskan apa yang ia tangkap dari konten tersebut. 

Sehingga, ketika tiba-tiba (seiring waktu) anak merasa “enek” dan bosan dengan masakan ibu, diam-diam ada perasaan sedih dalam hati ibu. Di kepala ibu berdentang-dentang pertanyaan: “Kira-kira harus masak model apa ya agar anak makan di rumah?”

Sedangkan kesadaran Elham didapat dari cerita adiknya. Sepengakuan sang adik, tiap kali masakan tidak habis dan harus dibuang, tampak jelas dari wajah ibu kalau perempuan itu amat nelangsa. 

Ya siapa yang tidak nelangsa melihat masakan yang dimasak sungguh-sungguh untuk menyenangkan anak justru harus berakhir menjadi sampah. Bahkan sama sekali tidak disentuh oleh sang anak. 

“Adikku katanya juga beberapa kali ibu ngeluh, ‘Lah iya sudah dimasakin tenanan (sunggung-sungguh), tapi masmu nggak mau makan.’,” kata Elham. 

Lidah kita banyak gaya usai terpapar perantauan

Kalau Zabila dan Elham mencoba mengingat-ingat: Iya juga ya, bertahun-tahun sebelum menjadi anak perantauan, bagi lidah mereka tidak ada yang lebih enak selain masakan ibu. 

Dulu apapun yang ibu masak, sama sekali tidak mengesankan membosankan meskipun cenderung itu-itu saja masakannya. 

Renungan Zabila dan Elham: Lama menjadi anak perantauan membuat lidah mereka menjadi banyak gaya setelah mengenal Richeese Factory, Mie Gacoan, menu Jejepangan, nasi padang terkenal, dan macam-macam. 

Mereka akhirnya menyadari, referensi kuliner itu lantas membuat lidah mereka menjadi asing dan enggan saat berhadapan dengan masakan ibu yang amat sederhana dan “ndeso”. 

“Aku sampai “ditampar” seorang mutual pas ngobrolin ini di medsos. Dia bilang, ‘Kak, kakak pulang ke rumah itu nggak lama. Nanti juga bakal balik lagi ke kota. Maka kalau di rumah, hargai masakan ibu. Toh hanya sebentar aja kok di rumahnya. Nanti kan kalau balik ke perantauan, masih bisa makan makanan yang enak menurut kakak.’ Itu membuatku tertampar banget,” tutup Zabila. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2026 oleh

Tags: anak perantauandapur ibukangen masakan ibukangen rumahmasakan ibuperantauanpulangpulang ke rumahrindu masakan iburumah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ujian keuangan di kota perantauan gara-gara masalah tidak terduga yang datang keroyokan, bikin gagal punya tabungan MOJOK.CO
Urban

Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan

24 Juni 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO
Cuan

Cara Generasi Sandwich Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun

26 Mei 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO
Sehari-hari

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.