Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Maret 2026
A A
Lebaran.MOJOK.CO

Ilustrasi - Momen lebaran. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tak sedikit orang merasa lebaran menjadi momen penuh rasa trauma dan kesedihan. Kalau bisa, bahkan mereka ingin menghilangkan momen setahun sekali ini dari kalender.

***

Lebaran selalu identik dengan kebahagiaan. Kalau kita lihat iklan-iklan di TV, gambaran hari raya selalu seragam: keluarga utuh yang berkumpul di ruang tamu, memakai baju seragam, makan ketupat dan opor ayam sambil tertawa lepas. 

Ada tradisi sungkeman yang diakhiri dengan pelukan hangat, tangis haru, dan saling memaafkan. Masyarakat kita seolah punya standar baku bahwa Lebaran adalah hari kemenangan yang wajib dirayakan dengan suka cita bersama keluarga besar di kampung halaman.

Bagi sebagian besar orang, gambaran itu memang nyata dan ditunggu-tunggu. Tapi sadar atau tidak, standard kebahagiaan ini diam-diam jadi beban tersendiri buat mereka yang keadaan keluarganya tidak lagi utuh. 

Tidak semua orang suka Lebaran

Ekspektasi untuk tampil bahagia dan harmonis saat Lebaran sering kali terasa seperti paksaan yang melelahkan. Apalagi, kalau kenyataan di rumah justru berbanding terbalik dengan kehangatan ala iklan di televisi.

Coba saja buka media sosial seperti TikTok atau Threads menjelang hari raya. Pemandangannya bisa berbeda 180 derajat. Di sana, banyak orang yang terang-terangan mengaku malas, cemas, atau bahkan takut menyambut datangnya Lebaran.

Di TikTok, tidak sulit menemukan konten curhat dari anak-anak muda yang berasal dari keluarga broken home. Bagi mereka, Lebaran sudah kehilangan makna sakralnya. Kumpul keluarga hanya jadi ajang pamer pencapaian atau justru memicu keributan lama dengan orang tua yang tak kunjung usai. 

Sementara di Threads, banyak juga pengguna yang bercerita betapa sepinya suasana Lebaran setelah mereka menjadi yatim piatu. Pulang ke kampung halaman tak lagi punya tujuan karena rumah sudah kosong tanpa kehadiran orang tua. 

Di ruang-ruang digital inilah mereka menemukan teman senasib. Mereka saling memvalidasi perasaan bahwa tidak apa-apa kalau tidak merasa bahagia saat Lebaran. Hari raya ternyata bisa jadi momen yang paling ingin dihindari oleh banyak orang.

Lebaran jadi momen penuh trauma sejak ibu tiada

Salah satu orang yang menganggap Lebaran sebagai momen penuh trauma adalah Elsa (26), salah satu kawan baik saya. Bagi perempuan asal Sukabumi ini, Lebaran adalah satu hari dalam setahun yang paling ingin dia “skip” atau lewati begitu saja dari kalender hidupnya.

Semua cerita pahit ini bermula pada tahun 2023. Saat itu, Elsa harus menerima kenyataan berat karena ibunya meninggal dunia akibat sakit. Elsa adalah anak perempuan yang amat sangat dekat dengan ibunya. Alhasil, kehilangan itu membuat dunianya seakan berhenti berputar. 

“Sepanjang hidup aku bahkan nggak pernah membayangkan kalau ibu bakal pergi secepat ini, bahkan di saat sebentar lagi aku wisuda,” kata dia, Kamis (5/3/2026).

Hari-harinya diisi dengan usaha keras untuk berdamai dengan keadaan, mencoba menata hati, dan membiasakan diri hidup tanpa tempatnya bercerita.

Iklan

Namun, ujian terberatnya justru datang saat Lebaran 2024. Waktu itu, baru sekitar tujuh bulan sejak sang ibu berpulang. Bagi Elsa, waktu tujuh bulan adalah proses yang terlalu singkat untuk bisa sembuh dari luka kehilangan. 

Namun, ternyata hal itu tidak berlaku bagi ayahnya. Tepat di momen Lebaran itu, sang ayah justru memperkenalkan calon istri barunya. Perempuan itu tidak datang sendiri, tetapi sudah membawa dua anak dari pernikahan sebelumnya.

“Apa nggak gila, belum kering makam ibu, bapak udah cari wanita lain aja,” kesalnya.

Elsa syok luar biasa. Lebaran yang seharusnya jadi momen saling menguatkan bagi ayah dan anak setelah ditinggal sang ibu, malah berubah jadi kejutan yang menyakitkan. 

Hatinya belum selesai berduka, tapi ia dipaksa menerima kehadiran orang-orang baru yang tiba-tiba diizinkan masuk ke dalam rumahnya. Sejak hari itu, hubungan Elsa dan ayahnya berubah dingin. Lebaran 2024 bagi Elsa menjadi peristiwa traumatis yang menggoreskan luka baru.

Tak ada lagi kehangatan di rumah

Trauma dan rasa tidak nyaman itu terus berlanjut ke tahun berikutnya. Pada Lebaran 2025, suasana rumah Elsa sudah sepenuhnya berubah menjadi asing. 

Hubungannya dengan sang ayah semakin berjarak. Sementara itu, interaksinya dengan ibu tiri dan dua saudara barunya murni sebatas orang-orang yang kebetulan berbagi ruang di bawah atap yang sama. 

Nggak ada obrolan hangat, apalagi bonding emosional layaknya sebuah keluarga. Mereka lebih mirip sekelompok orang asing yang terpaksa tinggal di satu rumah.

“Nggak sudi aku ngobrol sama mereka,” kata Elsa.

Namun, hal yang paling membuat Elsa muak dan sedih saat Lebaran 2025 bukanlah kehadiran keluarga baru tersebut. Hal terberatnya adalah hilangnya memori tentang ibu kandungnya. 

Di hari raya itu, suasana terasa sangat hambar. Tidak ada satu pun orang di rumah yang menyebut nama ibunya, mendoakannya, atau sekadar mengenang kebiasaannya. 

Ayahnya tampak sudah sangat sibuk dan nyaman dengan keluarga barunya, seolah sosok ibu kandung Elsa tidak pernah ada dan hidup di rumah tersebut. Kenyataan bahwa ibunya begitu cepat dilupakan membuat Elsa merasa terasing di rumah masa kecilnya sendiri.

Menetap di perantauan lebih tenang daripada harus pulang

Kini, di tahun 2026, Lebaran sudah kembali di depan mata. Setelah melewati dua kali hari raya yang menguras emosi dan mentalnya secara habis-habisan, Elsa akhirnya membuat keputusan tegas: tahun ini ia tidak akan mudik.

Bagi Elsa, yang kini telah bekerja di Jogja, pulang kampung hanya akan menyiksa dirinya sendiri. Bertemu dengan ayah yang kini terasa asing, serta melihat ibu tiri dan saudara tiri yang tak punya ikatan batin dengannya, hanya akan membangkitkan trauma dan kesedihan. 

Ia memutuskan untuk tetap tinggal di kota perantauannya, memilih melewati hari Lebaran sendirian di kamar kos.

Ia sadar, mungkin keputusannya ini akan dicap egois atau tidak pantas oleh orang-orang yang masih memegang teguh tradisi kumpul keluarga. Namun, bagi Elsa, ini adalah cara terbaiknya untuk mempertahankan kewarasan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2026 oleh

Tags: ibuidulfitriLebaranlebaran 2026momen lebaranMudikpilihan redaksipulang kampungsilaturrahmisungkeman
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Festival Jamu Nusantara di Pasar Ngasem, Kota Jogja: ruang regenerasi dan edukasi konsumen muda MOJOK.CO

Festival Jamu Nusantara di Kota Jogja: Sadarkan Anak Muda Jamu Bukan Minuman Kuno, Tapi Gaya Hidup Sehat Lintas Generasi

6 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

6 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.