Susahnya dianggap punya power besar untuk bantu atasi banyak persoalan
Lebih ribet lagi, Shofa dianggap punya power besar. Padahal hanya pegawai biasa. Misalnya, ada saja orang yang datang minta dicari-carikan pekerjaan yang berhubungan dengan Pemda.
“Ada loh yang datang minta bantuan biar bisa masuk SPPG di dapur MBG. Lah apa urusannya denganku?” Kata Shofa.
“Pokoknya dikira aku punya jaringan banyak. Jadi dikira bisa dijadikan sebagai orang dalam. Jadi beberapa kali orang nelepon atau datang ke rumah minta dicari-carikan pekerjaan. Kan repot jawab dan menjelaskannya gimana,” sambungnya.
Karena menganggap Shofa bisa dijadikan sebagai orang dalam, yang tidak kalah repot adalah ada saja yang minta bantuan-bantuan teknis-administratif. Misalnya, mengurus sertifikat tanah yang bermasalah, minta dibantu bikin SIM tanpa tes, bahkan ada juga yang minta bantuan agar anggota keluarganya yang sedang dipenjara bisa dikeluarkan tanpa harus membayar tebusan.
Bahkan ada loh, orang tua yang ingin menguliahkan anaknya di sebuah universitas, datang ke Shofa agar dibantu masuk ke universitas incaran.
Tentu saja permohonan bantuan tersebut Shofa tolak. Karena semua itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan status PNS/ASN Shofa. Apalagi ia kan seorang penghulu KUA biasa. Tugasnya mengakadkan orang dan mencatat pernikahan.
“PNS/ASN rendahan itu. Wong tidak bisa bantu-bantu urusan beginian. Tidak bisa diandalkan.” Begitu selentingan-selentingan yang Shofa dengar.
Gaya hidup dipantau, harus “lebih” dari warga desa pada umumnya
Masalahnya lagi, standar hidup sukses di desa tidak berhenti pada urusan jabatan/status sosial. Tapi juga gaya hidup yang ditunjukkan.
Asumsi orang-orang di desa: karena gaji PNS/ASN besar, harusnya Shofa sudah bisa mewujudkannya dalam bentuk barang mewah. Rumah harusnya lebih besar atau lebih bagus dari rumah di desa pada umumnya, harusnya punya mobil bagus, motor bagus, berangkat haji, dan lain-lain.
“Gara-gara itulah, banyak PNS/ASN yang akhirnya tergoda gadai SK. Jujur, aku juga terdorong buat gadai SK. Tapi masih ketahan-ketahan karena banyak juga yang bercerita nyesel sudah gadai SK hanya karena pengin menuruti tuntutan gaya hidup dan standar hidup sukses di desa,” ucap Shofa.
Ada saja saudara yang nyeletuk, “Masa sudah jadi ASN tapi ke mana-mana nggak pakai mobil.”
“Termasuk kalau keluargaku punya hajat, misalnya tahlilan, atau syukuran tertentu, itu ekspektasi orang di desa itu menu dan berkatannya isinya ya lebih mewah lah. Kalau bikin acara juga harus gede-gedean lah,” kata Shofa.
Itu yang membuat Shofa pusing. Ia berencana menikah awal 2027 nanti. Ia sebenarnya ingin menikah secara sederhana. Namun, diskusi di keluarganya sudah mengarah pada menjawab ekspektasi orang di desa: acara resepsinya nanti harus lebih mewah dari umumnya warga desa biasa selama ini. Jancuk tenan!, batin Shofa.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














