Bagi sebagian pekerja Jakarta seperti Utami dan Elia, Hutan Kota GBK adalah tempat merenung terbaik. Di sana ketenangan didapatkan. Setidaknya, mereka bisa mengobati stres pekerjaan yang menumpuk.
***
Jakarta Pusat, khususnya kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), identik dengan ritme hidup yang serba cepat. Di sana, pemandangannya cuma deretan gedung pencakar langit, orang-orang dengan pakaian necis yang berjalan terburu-buru, serta kemacetan yang seolah tak ada habisnya.
Bagi para pekerjanya, tekanan bukan hanya datang dari jalanan, tapi juga dari dalam kantor. Mulai dari deadline yang menumpuk, target tinggi, hingga lingkungan kerja yang terkadang tidak sehat alias toksik.
Dalam kondisi stres seperti itu, banyak pekerja Jakarta bingung harus lari ke mana. Pilihan paling lazim adalah masuk ke mal atau kafe.
Namun, di Jakarta, nongkrong di kafe berarti harus siap merogoh kocek minimal Rp50.000 hingga Rp100.000 hanya untuk segelas kopi dan suasana tenang. Untungnya, tepat di jantung kota ini, ada satu tempat yang menawarkan ketenangan secara gratis: Hutan Kota GBK.
Hutan Kota GBK, andalan warga ketika mencari “yang hijau-hijau” di tengah kota
Hutan Kota GBK, atau sering disebut sebagai Hutan Kota Plataran, adalah area terbuka hijau seluas sekitar 4 hektare yang berada di dalam kompleks Gelora Bung Karno.
Lokasinya sangat strategis, tepat di seberang deretan gedung tinggi Sudirman.
Taman ini memiliki hamparan rumput gajah mini yang luas, kolam ikan, serta jalur pejalan kaki yang rapi.
Bagi saya pribadi, tempat ini adalah tempat yang menyenangkan. Bukan kategori hidden gem, sih. Namun, bagi saya yang jarang ke Jakarta, healing ke tempat ini selalu saya rindukan.
Saya sendiri memang baru dua kali mampir ke sini. Dua-duanya saat sedang menghadiri konser musik yang digelar di area GBK.
Bagi saya, di tengah bisingnya suara kendaraan dan kerumunan orang, masuk ke area taman ini rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda.
Udaranya terasa sedikit lebih sejuk karena banyak pohon, dan pandangan mata jadi lebih segar karena didominasi warna hijau.
Tempat terbaik melepas stres pekerjaan
Namun, bagi Utami (31), Hutan Kota GBK tak sekadar lahan hijau biasa. Karyawan swasta yang berkantor di kawasan Sudirman ini mengaku bahwa tempat ini sudah seperti obat stres yang harus diminum rutin.
Setiap kali merasa jenuh dengan rutinitas kantor yang monoton, atau lelah menghadapi bos yang banyak maunya, ia akan menyempatkan diri ke sini sore hari sebelum pulang ke kos.
“Ya, kadang sih nggak ngapa-ngapain. Bengong aja, sambil nikmatin kopi yang aku bawa di tumbler,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
Di Hutan Kota GBK, Utami biasanya tidak melakukan aktivitas yang berat. Ia hanya duduk di atas rumput, membuka sepatu, dan membiarkan kakinya menyentuh tanah atau rumput secara langsung.
Kadang ia juga membawa buku, tapi lebih sering ia hanya melamun sambil mendengarkan musik lewat earphone.
“Di sini saya bisa merasa kalau hidup itu bukan cuma soal kerjaan. Melihat pohon dan langit sore itu bikin pikiran saya yang tadinya ruwet jadi agak plong,” kata Utami.
Baginya, akses yang mudah–hanya perlu berjalan kaki sedikit dan 5 menit naik MRT ke kos–membuat taman ini jadi pilihan paling logis untuk healing murah meriah.
Hutan Kota GBK, saksi tangis para pekerja Jakarta
Jika Utami datang untuk sekadar melamun, lain lagi ceritanya dengan Elia (26). Baginya, Hutan Kota GBK adalah tempat yang paling aman untuk menjadi diri sendiri, termasuk saat ia sedang merasa hancur.
Elia bercerita tentang pengalamannya menghadapi lingkungan kantor yang toksik. Ada kalanya ia merasa sangat lelah karena sering disalahkan atas pekerjaan orang lain atau mendapat tekanan mental dari rekan kerja.
Di kantor, ia harus tetap profesional, tersenyum, dan mengerjakan tugas seolah tidak terjadi apa-apa.
“Saya nggak mungkin menangis di kantor, nanti jadi omongan. Menangis di transportasi umum juga nggak nyaman. Jadi, saya biasanya mampir ke Hutan Kota GBK. Saya cari sudut yang agak sepi, lalu menangis saja di sana,” aku Elia.
Menurut Elia, menangis di taman ini rasanya melegakan karena tidak ada yang peduli. Di antara banyaknya orang yang lalu-lalang atau duduk-duduk, ia merasa menjadi orang asing yang tidak dihakimi.
Setelah air matanya kering dan perasaannya lebih stabil, barulah ia melanjutkan perjalanan pulang dengan perasaan yang lebih ringan.
Dalam dua kali kunjungan saya ke Hutan Kota GBK, orang-orang seperti Elia ini kerap saya jumpai. Mereka biasanya duduk menyendiri sambil menangis, tanpa perlu merasa aneh di mata orang yang lewat.
Menenangkan, tapi terkadang juga mengesalkan
Keindahan Hutan Kota GBK memang tidak perlu diragukan. Di media sosial seperti TikTok atau Instagram, tempat ini sering disebut-sebut sebagai “Central Park”-nya Jakarta.
Foto-fotonya selalu terlihat estetik, terutama saat golden hour atau menjelang magrib, ketika lampu-lampu gedung mulai menyala.
Namun, kepopuleran ini membawa dampak negatif yang sering dikeluhkan pengunjung lain, termasuk Elia dan Utami. Banyak orang datang demi konten semata tanpa memedulikan aturan atau kenyamanan orang lain.
Di media sosial, sering viral video yang menunjukkan sampah plastik berserakan di area rumput padahal tempat sampah sudah disediakan.
Selain masalah sampah, gangguan suara juga sering terjadi. Tidak jarang ada kelompok pengunjung yang membawa speaker portabel dan menyetel musik dengan volume keras, atau rombongan yang berteriak-teriak saat membuat konten video.
Hal ini tentu mengganggu orang-orang seperti Utami dan Elia yang datang justru untuk mencari ketenangan.
“Pernah sekali waktu saya lagi ingin tenang, di sebelah saya ada rombongan yang heboh banget bikin konten tari-tarian buat medsos. Bukannya jadi tenang, saya malah makin pusing,” keluh Elia.
Hal-hal seperti inilah yang terkadang membuat momen “merenung” di Hutan Kota GBK menjadi sedikit terganggu. Meski, menurut Elia, ini tak mengurangi nilai magis tempat ini.
Pada akhirnya, Hutan Kota GBK adalah bukti bahwa warga Jakarta, khususnya para pekerja keras di SCBD, sangat membutuhkan ruang terbuka hijau yang aksesibel. Tempat ini menjadi bukti bahwa untuk merasa bahagia atau tenang, kita tidak selalu harus mengeluarkan banyak uang.
Cukup duduk di bawah pohon sambil melihat gedung-gedung tinggi dari kejauhan, stres rasanya sudah berkurang sedikit.
“Kadang, kroco-kroco kayak kita ini cuma perlu sendiri biar nggak stres-stres amat,” pungkas Elia.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













