Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Hutan Kota GBK Tempat Merenung Terbaik Para Pekerja SCBD Jakarta, Obat Stres Termanjur Meski Kadang Kesal dengan Kelakuan Pengunjungnya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
18 Februari 2026
A A
Pekerja Jakarta merenung di hutan kota GBK.MOJOK.CO

Ilustrasi - pekerja merenung (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi sebagian pekerja Jakarta seperti Utami dan Elia, Hutan Kota GBK adalah tempat merenung terbaik. Di sana ketenangan didapatkan. Setidaknya, mereka bisa mengobati stres pekerjaan yang menumpuk.

***

Jakarta Pusat, khususnya kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), identik dengan ritme hidup yang serba cepat. Di sana, pemandangannya cuma deretan gedung pencakar langit, orang-orang dengan pakaian necis yang berjalan terburu-buru, serta kemacetan yang seolah tak ada habisnya. 

Bagi para pekerjanya, tekanan bukan hanya datang dari jalanan, tapi juga dari dalam kantor. Mulai dari deadline yang menumpuk, target tinggi, hingga lingkungan kerja yang terkadang tidak sehat alias toksik.

Dalam kondisi stres seperti itu, banyak pekerja Jakarta bingung harus lari ke mana. Pilihan paling lazim adalah masuk ke mal atau kafe. 

Namun, di Jakarta, nongkrong di kafe berarti harus siap merogoh kocek minimal Rp50.000 hingga Rp100.000 hanya untuk segelas kopi dan suasana tenang. Untungnya, tepat di jantung kota ini, ada satu tempat yang menawarkan ketenangan secara gratis: Hutan Kota GBK.

Hutan Kota GBK, andalan warga ketika mencari “yang hijau-hijau” di tengah kota

Hutan Kota GBK, atau sering disebut sebagai Hutan Kota Plataran, adalah area terbuka hijau seluas sekitar 4 hektare yang berada di dalam kompleks Gelora Bung Karno.

Lokasinya sangat strategis, tepat di seberang deretan gedung tinggi Sudirman. 

Taman ini memiliki hamparan rumput gajah mini yang luas, kolam ikan, serta jalur pejalan kaki yang rapi.

Bagi saya pribadi, tempat ini adalah tempat yang menyenangkan. Bukan kategori hidden gem, sih. Namun, bagi saya yang jarang ke Jakarta, healing ke tempat ini selalu saya rindukan.

Saya sendiri memang baru dua kali mampir ke sini. Dua-duanya saat sedang menghadiri konser musik yang digelar di area GBK. 

Bagi saya, di tengah bisingnya suara kendaraan dan kerumunan orang, masuk ke area taman ini rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda. 

Udaranya terasa sedikit lebih sejuk karena banyak pohon, dan pandangan mata jadi lebih segar karena didominasi warna hijau.

Tempat terbaik melepas stres pekerjaan

Namun, bagi Utami (31), Hutan Kota GBK tak sekadar lahan hijau biasa. Karyawan swasta yang berkantor di kawasan Sudirman ini mengaku bahwa tempat ini sudah seperti obat stres yang harus diminum rutin. 

Iklan

Setiap kali merasa jenuh dengan rutinitas kantor yang monoton, atau lelah menghadapi bos yang banyak maunya, ia akan menyempatkan diri ke sini sore hari sebelum pulang ke kos.

“Ya, kadang sih nggak ngapa-ngapain. Bengong aja, sambil nikmatin kopi yang aku bawa di tumbler,” ujarnya, Senin (16/2/2026). 

Di Hutan Kota GBK, Utami biasanya tidak melakukan aktivitas yang berat. Ia hanya duduk di atas rumput, membuka sepatu, dan membiarkan kakinya menyentuh tanah atau rumput secara langsung. 

Kadang ia juga membawa buku, tapi lebih sering ia hanya melamun sambil mendengarkan musik lewat earphone.

“Di sini saya bisa merasa kalau hidup itu bukan cuma soal kerjaan. Melihat pohon dan langit sore itu bikin pikiran saya yang tadinya ruwet jadi agak plong,” kata Utami. 

Baginya, akses yang mudah–hanya perlu berjalan kaki sedikit dan 5 menit naik MRT ke kos–membuat taman ini jadi pilihan paling logis untuk healing murah meriah.

Hutan Kota GBK, saksi tangis para pekerja Jakarta

Jika Utami datang untuk sekadar melamun, lain lagi ceritanya dengan Elia (26). Baginya, Hutan Kota GBK adalah tempat yang paling aman untuk menjadi diri sendiri, termasuk saat ia sedang merasa hancur.

Elia bercerita tentang pengalamannya menghadapi lingkungan kantor yang toksik. Ada kalanya ia merasa sangat lelah karena sering disalahkan atas pekerjaan orang lain atau mendapat tekanan mental dari rekan kerja. 

Di kantor, ia harus tetap profesional, tersenyum, dan mengerjakan tugas seolah tidak terjadi apa-apa.

“Saya nggak mungkin menangis di kantor, nanti jadi omongan. Menangis di transportasi umum juga nggak nyaman. Jadi, saya biasanya mampir ke Hutan Kota GBK. Saya cari sudut yang agak sepi, lalu menangis saja di sana,” aku Elia.

Menurut Elia, menangis di taman ini rasanya melegakan karena tidak ada yang peduli. Di antara banyaknya orang yang lalu-lalang atau duduk-duduk, ia merasa menjadi orang asing yang tidak dihakimi. 

Setelah air matanya kering dan perasaannya lebih stabil, barulah ia melanjutkan perjalanan pulang dengan perasaan yang lebih ringan.

Dalam dua kali kunjungan saya ke Hutan Kota GBK, orang-orang seperti Elia ini kerap saya jumpai. Mereka biasanya duduk menyendiri sambil menangis, tanpa perlu merasa aneh di mata orang yang lewat.

Menenangkan, tapi terkadang juga mengesalkan

Keindahan Hutan Kota GBK memang tidak perlu diragukan. Di media sosial seperti TikTok atau Instagram, tempat ini sering disebut-sebut sebagai “Central Park”-nya Jakarta. 

Foto-fotonya selalu terlihat estetik, terutama saat golden hour atau menjelang magrib, ketika lampu-lampu gedung mulai menyala.

Namun, kepopuleran ini membawa dampak negatif yang sering dikeluhkan pengunjung lain, termasuk Elia dan Utami. Banyak orang datang demi konten semata tanpa memedulikan aturan atau kenyamanan orang lain. 

Di media sosial, sering viral video yang menunjukkan sampah plastik berserakan di area rumput padahal tempat sampah sudah disediakan.

Selain masalah sampah, gangguan suara juga sering terjadi. Tidak jarang ada kelompok pengunjung yang membawa speaker portabel dan menyetel musik dengan volume keras, atau rombongan yang berteriak-teriak saat membuat konten video. 

Hal ini tentu mengganggu orang-orang seperti Utami dan Elia yang datang justru untuk mencari ketenangan.

“Pernah sekali waktu saya lagi ingin tenang, di sebelah saya ada rombongan yang heboh banget bikin konten tari-tarian buat medsos. Bukannya jadi tenang, saya malah makin pusing,” keluh Elia. 

Hal-hal seperti inilah yang terkadang membuat momen “merenung” di Hutan Kota GBK menjadi sedikit terganggu. Meski, menurut Elia, ini tak mengurangi nilai magis tempat ini.

Pada akhirnya, Hutan Kota GBK adalah bukti bahwa warga Jakarta, khususnya para pekerja keras di SCBD, sangat membutuhkan ruang terbuka hijau yang aksesibel. Tempat ini menjadi bukti bahwa untuk merasa bahagia atau tenang, kita tidak selalu harus mengeluarkan banyak uang. 

Cukup duduk di bawah pohon sambil melihat gedung-gedung tinggi dari kejauhan, stres rasanya sudah berkurang sedikit.

“Kadang, kroco-kroco kayak kita ini cuma perlu sendiri biar nggak stres-stres amat,” pungkas Elia.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2026 oleh

Tags: GBKhutan kotahutan kota gbkhutan kota gbk jakartajakartapekerja jakartapekerja scbdSCBDsenayan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO
Urban

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Kurir Alfagift, layanan Alfamart penyelamat pekerja Jakarta
Urban

Alfagift, Penyelamat Pekerja Jakarta dari “Mati” Kelaparan karena Kelelahan dan Tak Punya Teman Makan

4 Maret 2026
Pekerja Jakarta vs pekerja Jogja yang slow living
Urban

Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai

2 Maret 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026
Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.