Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
24 Agustus 2026
A A
dukuh muda di kampung

ilustrasi-dukuh muda (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada banyak jalan yang bisa ditempuh anak muda untuk mencari masa depan. Bekerja di kantor, menjadi pekerja lepas, mengejar karir sebagai ASN, atau membuka usaha sendiri. Namun ada yang memilih jalan yang agak berbeda dengan menjadi dukuh duka.

***

Iklan

Banyak anak muda punya bayangan karier yang kurang lebih sama: bekerja di kantor, menjadi ASN, mengejar jabatan, atau menjadi gig worker sambil menikmati kebebasan menentukan jam kerja.

Bandung Febriansyah (27) memilih jalan yang berbeda.

Alih-alih sibuk mengejar karir yang membuatnya bisa bekerja di luar kampung, ia justru mengambil pekerjaan yang membuat warga kampung bisa dengan mudah mencarinya.

Bandung menjadi Dukuh Jatirejo, Sendangadi, Mlati, Sleman. Ia resmi dilantik pada 1 Oktober 2025, menggantikan Marjiyana.

Usianya masih muda. Konsekuensinya juga jelas bahwa menjadi dukuh muda berarti harus berhadapan dengan warga yang sebagian usianya jauh lebih tua.

Di sinilah pekerjaan Bandung menjadi menarik.

“Mas Dukuh” dan ego orang-orang sepuh

Ada keuntungan menjadi dukuh yang mungkin tidak tertulis dalam surat keputusan yakni dipanggil “Mas Dukuh”.

Panggilan itu membuat Bandung mendapatkan penghormatan. Tetapi penghormatan tidak otomatis membuat semua perkataannya diterima.

Dalam sebuah percakapan, saya mencoba menggoda Bandung tentang posisinya sebagai anak muda yang harus memimpin orang-orang yang lebih tua.

“Masih muda kok sudah jadi dukuh, nggak takut dianggap belum pengalaman?”

Bandung tertawa. Dalam obrolan, ia mengakui bahwa menjadi pemimpin warga tidak cukup bermodal usia muda atau jabatan.

Masalahnya justru ketika berhadapan dengan orang yang merasa lebih senior.

Di titik itu, Bandung harus belajar membedakan antara mempertahankan pendapat dan mempertahankan ego. 

Sebab kalau dua-duanya dilakukan bersamaan, rapat warga bisa lebih panjang daripada sinetron.

Fenomena ini sebenarnya bukan semata perkara usia. Perbedaan generasi memang kerap membawa perbedaan cara memandang pekerjaan dan kepemimpinan. 

Generasi yang lebih muda cenderung menuntut ruang aktualisasi, fleksibilitas, dan keseimbangan hidup, sementara pola kerja generasi sebelumnya lebih sering dibangun dari loyalitas, hierarki, dan ketahanan terhadap pekerjaan.

Iklan

Bandung berada tepat di tengah persimpangan itu.

Ia harus membawa cara berpikir anak muda tanpa membuat warga sepuh merasa sedang diajari oleh anak kemarin sore.

Jabatan yang berwibawa namun konsekuensinya juga nyata

Menjadi dukuh muda juga membuat Bandung kehilangan satu kemewahan yang sering dicari anak muda yakni waktu pribadi.

Pekerjaan kantoran punya jam pulang. Pekerja gig bisa menekan tombol berhenti menerima pesanan. Bandung tidak selalu punya kemewahan tersebut.

Ada warga yang perlu dilayani. Ada kegiatan kampung, rapat, hajatan, dan persoalan yang muncul ketika ia sedang tidak ingin bekerja.

“Kalau jadi dukuh, liburnya kapan?” saya bertanya.

Jawaban Bandung dalam obrolan kami kurang lebih sederhana 

“urusan warga tidak selalu mengenal hari libur.” Ujarnya (24/08/2026)

Lucunya, menjadi dukuh muda justru membuatnya semakin mudah ditemukan.

Kalau dulu orang mencari Bandung sebagai teman, sekarang sebagian warga mencarinya sebagai “Mas Dukuh”.

Ada kebanggaan dari panggilan itu. Namun ada pula tagihan tanggung jawab yang mengikutinya.

Jabatan tersebut membuat kenyamanan pribadi harus beberapa kali dikalahkan atas nama pengabdian.

Menjadi dukuh muda di tengah arus mundurnya ASN

Pilihan Bandung terasa semakin menarik ketika pekerjaan sebagai ASN juga sedang ramai diperbincangkan.

BKN pada Agustus 2026 meluruskan data 2.722 orang yang disebut mengundurkan diri dari ASN pada semester I 2026. Ternyata hanya 384 orang yang benar-benar keluar dari ASN tanpa hak pensiun. 

Sebanyak 1.147 orang berpindah dari PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu, sedangkan 962 lainnya merupakan administrasi pensiun dini.

Jadi, tidak tepat mengatakan ASN sedang ditinggalkan secara massal.

Namun BKN juga mencatat alasan orang benar-benar keluar dari ASN antara lain ingin fokus pada pekerjaan lain, persoalan keluarga, lokasi kerja yang terlalu jauh, kondisi kesehatan, dan keinginan mengembangkan usaha.

Artinya, pilihan karir anak muda memang semakin beragam.

Bandung memberi contoh lain bahwa pengabdian tidak harus menunggu menjadi ASN.

Ia bisa dimulai dari kampung sendiri.

Menjadi dukuh muda, modal sosialnya adalah srawung

Pekerjaan Bandung tidak bisa hanya dipahami lewat meja administrasi. Ada satu modal yang jauh lebih penting yakni srawung.

Di Jatirejo, menjadi pemimpin berarti hadir di tengah warga. Bertemu, menyapa, ikut kegiatan, mendengarkan keluhan, bahkan bersedia terlibat dalam obrolan yang kadang tidak ada hubungannya dengan urusan pemerintahan.

Pemerintah DIY sendiri menempatkan nilai kemasyarakatan, gotong royong, kebersamaan, dan hubungan sosial sebagai bagian dari tata nilai budaya Yogyakarta. 

Praktik kesenian dan kegiatan masyarakat juga kerap dipahami sebagai sarana membangun hubungan sosial atau srawung yang guyub dan rukun.

Maka, kepemimpinan Bandung tidak cukup hanya menjadi “Gen Z yang punya ide”.

Ia harus bisa srawung dengan orang yang mungkin tidak sepaham dengannya.

Barangkali di situlah pelajaran penting dari seorang dukuh muda: menjadi pemimpin bukan soal paling muda, paling tua, paling pintar, atau paling banyak pengalaman.

Kadang-kadang, menjadi pemimpin hanya soal siapa yang bersedia tetap datang ketika yang lain sudah pulang.

Bandung memilih jalan itu.

 

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Program KKN yang Benar Terasa Manfaatnya dan Bisa Bikin Warga Nangis Kalau Mahasiswanya Pergi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2026 oleh

Tags: ASNboomerdukuhdukuh mudafreelanceGen Zpadukuhanpekerjapekerja kantorsleman
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Artikel Terkait

ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
Saat Kemerdekaan RI Belum Bisa Dirasakan Buruh. MOJOK.CO

Saat Kemerdekaan Belum Bisa Dirasakan Kelompok Buruh dan Pekerja

17 Agustus 2026
Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

12 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.