Ada banyak jalan yang bisa ditempuh anak muda untuk mencari masa depan. Bekerja di kantor, menjadi pekerja lepas, mengejar karir sebagai ASN, atau membuka usaha sendiri. Namun ada yang memilih jalan yang agak berbeda dengan menjadi dukuh duka.
***
Banyak anak muda punya bayangan karier yang kurang lebih sama: bekerja di kantor, menjadi ASN, mengejar jabatan, atau menjadi gig worker sambil menikmati kebebasan menentukan jam kerja.
Bandung Febriansyah (27) memilih jalan yang berbeda.
Alih-alih sibuk mengejar karir yang membuatnya bisa bekerja di luar kampung, ia justru mengambil pekerjaan yang membuat warga kampung bisa dengan mudah mencarinya.
Bandung menjadi Dukuh Jatirejo, Sendangadi, Mlati, Sleman. Ia resmi dilantik pada 1 Oktober 2025, menggantikan Marjiyana.
Usianya masih muda. Konsekuensinya juga jelas bahwa menjadi dukuh muda berarti harus berhadapan dengan warga yang sebagian usianya jauh lebih tua.
Di sinilah pekerjaan Bandung menjadi menarik.
“Mas Dukuh” dan ego orang-orang sepuh
Ada keuntungan menjadi dukuh yang mungkin tidak tertulis dalam surat keputusan yakni dipanggil “Mas Dukuh”.
Panggilan itu membuat Bandung mendapatkan penghormatan. Tetapi penghormatan tidak otomatis membuat semua perkataannya diterima.
Dalam sebuah percakapan, saya mencoba menggoda Bandung tentang posisinya sebagai anak muda yang harus memimpin orang-orang yang lebih tua.
“Masih muda kok sudah jadi dukuh, nggak takut dianggap belum pengalaman?”
Bandung tertawa. Dalam obrolan, ia mengakui bahwa menjadi pemimpin warga tidak cukup bermodal usia muda atau jabatan.
Masalahnya justru ketika berhadapan dengan orang yang merasa lebih senior.
Di titik itu, Bandung harus belajar membedakan antara mempertahankan pendapat dan mempertahankan ego.
Sebab kalau dua-duanya dilakukan bersamaan, rapat warga bisa lebih panjang daripada sinetron.
Fenomena ini sebenarnya bukan semata perkara usia. Perbedaan generasi memang kerap membawa perbedaan cara memandang pekerjaan dan kepemimpinan.
Generasi yang lebih muda cenderung menuntut ruang aktualisasi, fleksibilitas, dan keseimbangan hidup, sementara pola kerja generasi sebelumnya lebih sering dibangun dari loyalitas, hierarki, dan ketahanan terhadap pekerjaan.
Bandung berada tepat di tengah persimpangan itu.
Ia harus membawa cara berpikir anak muda tanpa membuat warga sepuh merasa sedang diajari oleh anak kemarin sore.
Jabatan yang berwibawa namun konsekuensinya juga nyata
Menjadi dukuh muda juga membuat Bandung kehilangan satu kemewahan yang sering dicari anak muda yakni waktu pribadi.
Pekerjaan kantoran punya jam pulang. Pekerja gig bisa menekan tombol berhenti menerima pesanan. Bandung tidak selalu punya kemewahan tersebut.
Ada warga yang perlu dilayani. Ada kegiatan kampung, rapat, hajatan, dan persoalan yang muncul ketika ia sedang tidak ingin bekerja.
“Kalau jadi dukuh, liburnya kapan?” saya bertanya.
Jawaban Bandung dalam obrolan kami kurang lebih sederhana
“urusan warga tidak selalu mengenal hari libur.” Ujarnya (24/08/2026)
Lucunya, menjadi dukuh muda justru membuatnya semakin mudah ditemukan.
Kalau dulu orang mencari Bandung sebagai teman, sekarang sebagian warga mencarinya sebagai “Mas Dukuh”.
Ada kebanggaan dari panggilan itu. Namun ada pula tagihan tanggung jawab yang mengikutinya.
Jabatan tersebut membuat kenyamanan pribadi harus beberapa kali dikalahkan atas nama pengabdian.
Menjadi dukuh muda di tengah arus mundurnya ASN
Pilihan Bandung terasa semakin menarik ketika pekerjaan sebagai ASN juga sedang ramai diperbincangkan.
BKN pada Agustus 2026 meluruskan data 2.722 orang yang disebut mengundurkan diri dari ASN pada semester I 2026. Ternyata hanya 384 orang yang benar-benar keluar dari ASN tanpa hak pensiun.
Sebanyak 1.147 orang berpindah dari PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu, sedangkan 962 lainnya merupakan administrasi pensiun dini.
Jadi, tidak tepat mengatakan ASN sedang ditinggalkan secara massal.
Namun BKN juga mencatat alasan orang benar-benar keluar dari ASN antara lain ingin fokus pada pekerjaan lain, persoalan keluarga, lokasi kerja yang terlalu jauh, kondisi kesehatan, dan keinginan mengembangkan usaha.
Artinya, pilihan karir anak muda memang semakin beragam.
Bandung memberi contoh lain bahwa pengabdian tidak harus menunggu menjadi ASN.
Ia bisa dimulai dari kampung sendiri.
Menjadi dukuh muda, modal sosialnya adalah srawung
Pekerjaan Bandung tidak bisa hanya dipahami lewat meja administrasi. Ada satu modal yang jauh lebih penting yakni srawung.
Di Jatirejo, menjadi pemimpin berarti hadir di tengah warga. Bertemu, menyapa, ikut kegiatan, mendengarkan keluhan, bahkan bersedia terlibat dalam obrolan yang kadang tidak ada hubungannya dengan urusan pemerintahan.
Pemerintah DIY sendiri menempatkan nilai kemasyarakatan, gotong royong, kebersamaan, dan hubungan sosial sebagai bagian dari tata nilai budaya Yogyakarta.
Praktik kesenian dan kegiatan masyarakat juga kerap dipahami sebagai sarana membangun hubungan sosial atau srawung yang guyub dan rukun.
Maka, kepemimpinan Bandung tidak cukup hanya menjadi “Gen Z yang punya ide”.
Ia harus bisa srawung dengan orang yang mungkin tidak sepaham dengannya.
Barangkali di situlah pelajaran penting dari seorang dukuh muda: menjadi pemimpin bukan soal paling muda, paling tua, paling pintar, atau paling banyak pengalaman.
Kadang-kadang, menjadi pemimpin hanya soal siapa yang bersedia tetap datang ketika yang lain sudah pulang.
Bandung memilih jalan itu.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Program KKN yang Benar Terasa Manfaatnya dan Bisa Bikin Warga Nangis Kalau Mahasiswanya Pergi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

















