Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Gen Z Lebih Suka Beli Bunga untuk Self Reward daripada Stres Nggak Mampu Beli Rumah untuk Masa Depan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
16 Februari 2026
A A
Gen Z mending beli bunga daripada rumah untuk self reward. MOJOK.CO

ilustrasi - membeli bunga adalah bentuk self reward Gen Z daripada stres nggak bisa beli rumah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Fenomena “Bouquet for Myself” makin digandrungi Gen Z. Bukan untuk pasangan atau orang terkasih, melainkan membeli bunga untuk self reward di tengah perubahan sosial: ekonomi sulit, krisis global, masalah pribadi, dan masa depan yang tak pasti.

***

Seorang pedagang bunga dengan leher dan lengan tangan penuh tato menghampiri saya untuk membeli bunga di tokonya, sebelum saya beralih ke toko sebelah. Kalimatnya terdengar basa-basi tapi cukup menarik perhatian saat kala itu.

“Beli bunga yuk, Kak, untuk self reward!” kata dia di sebuah toko bunga Jalan Merbabu, Kotabaru, Jogja pada Jumat sore (6/2/2026).

Jauh dari perawakannya yang garang, pedagang itu cukup ramah sehingga meyakinkan saya dan salah satu kru Mojok untuk membeli bunga di sana. Kami memang berniat melihat-lihat, syukur-syukur ada bunga yang cocok untuk diletakkan di kantor.

“Ada bunga lily juga Kak, untuk self reward mungkin?” kata dia lagi, mengulang dua kalimat sama: self reward. 

Barangkali, dia sudah menduga tujuan kami membeli bunga karena rata-rata pelanggan di sana biasanya membeli bunga bersama pasangan. Sementara saya dan kru Mojok adalah dua perempuan yang sebetulnya hanya ingin ngonten.

Alfath, nama pedagang bunga itu, berujar dia sudah terbiasa melihat gerak-gerik dan tujuan dari pelanggan. Biasanya, kata dia, cewek-cewek yang datang berdua seperti kami ini membeli bunga untuk self reward sebagai bentuk mencintai diri sendiri.

Banyak orang membeli bunga untuk self reward

Tapi jujur saja, Alfath yang belum setahun ini menjadi pegawai bunga ikut kebingungan saat pelanggan bertanya soal filosofi bunga. Jawabannya pun hanya standar kalau ada yang meminta rekomendasi, tergantung tujuan dari membeli bunga itu sendiri.

“Biasanya nih Kak menjelang Hari Valentine seperti ini, kebanyakan belinya mawar merah untuk pacar. Of course karena mereka sudah tahu mawar merah itu simbol cinta, kasih sayang,” jelas Alfath.

Pedagang bunga. MOJOK.CO
Pedagang bunga di Jalan Merbabu, Kotabaru, Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Nah yang bikin bingung kalau mereka tanya ke saya, enaknya mau beli bunga apa. Saya sih kasih saran asal saja, bisa mawar, bunga matahari, atau yang paling mahal bunga lily,” kelakarnya. 

Menurut Alfath, bisnis bunga sekarang berpeluang ramai karena alasan orang membeli bunga bermacam-macam. Tak hanya dari instansi yang memerlukan bunga sebagai dekorasi ruangan atau mahasiswa yang membeli buket untuk hadiah, tapi juga muda-mudi (Gen Z) yang menginginkan bunga sebagai self reward.

Fenomena ini sejalan dengan laporan Arizton Advisory & Intelligence, sebuah perusahaan riset dan pasar intelijen bisnis global. Dia mengungkap bahwa pasar floral gifting secara global tumbuh pesat karena tren memberi hadiah untuk diri sendiri (self reward). 

Bunga membawa energi positif 

Pernyataan Alfath pun terbukti, tak lama setelah melayani kami memilih bunga, Alfath kedatangan dua orang pelanggan yang merupakan mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Keduanya mengaku sudah dua kali ini datang ke toko Alfath sebelum perayaan Hari Valentine.  

Iklan

Chilla (19), salah satu mahasiswa Jurusan Perancis itu berujar awalnya ingin membeli bunga untuk kakak tingkatnya yang baru seminar proposal (sempro) Namun, dia dan temannya jadi tertarik membeli bunga untuk dirinya sendiri.

“Sebetulnya aku baru-baru ini beli bunga waktu merantau ke Jogja untuk kuliah. Buat self reward juga sebagai bentuk mencintai diriku sendiri (self love),” kata Chilla. 

bunga untuk self reward. MOJOK.CO
Bunga memberikan kebahagiaan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Begitu pula teman Chilla yang akhirnya membeli dua tangkai bunga pikok berwarna putih dan ungu. Sementara Chilla membeli setangkai bunga matahari seharga Rp15 ribu. Menurutnya, selain indah, bunga matahari juga melambangkan kebahagiaan dan optimisme. 

“Jadi nanti aku taruh tangkainya (bunga matahari) di dalam vas, terus aku kasih air,” kata Chilla.

“Aku taruh vas itu di meja belajar biar bisa aku lihatin. Senang aja gitu lihatnya, bikin hariku lebih semangat dan nambah energi positif,” lanjutnya.

Lebih dari sekadar dekorasi, bunga kini beralih fungsi

Sebuah studi international dari Fresh Produce Association (2025) mencatat ada sekitar 73 persen orang kini rutin membeli bunga. 50 persen diantaranya membeli bunga untuk diri mereka sendiri (self reward), bukan sebagai hadiah. 

Julie Campbell selaku asisten profesor yang berfokus pada hortikultura konsumen dan perilaku konsumen di Departemen Hortikultura University of Georgia mengungkap, tren ini muncul tepat sebelum pandemi Covid-19. Alasannya pun sederhana, salah satunya seperti yang dikatakan Chilla tadi bahwa bunga dapat meningkatkan mood serta mengurangi stres.

“Orang-orang mulai menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang mereka nikmati, dan hidup ini terlalu singkat. Anda bisa memiliki bunga,” kata Campbell, “bunga membuat Anda bahagia, dan orang-orang bisa melakukan ini.”

Gen Z beli bunga. MOJOK.CO
Gen Z membeli bunga di Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Artinya, orang-orang makin tertarik dengan bunga karena peralihan fungsi. Tak bisa dipungkiri, pandemi bukan hanya berdampak secara ekonomi melainkan psikis seseorang. 

Apalagi, Gen Z juga dikenal sebagai generasi yang rentan kesepian. Data Campaign to End Loneliness & Gallup menyebutkan 25 persen anak muda usia 15-18 tahun merasa sangat atau cukup kesepian.

Bunga punya “daya tawar” tinggi bagi Gen Z sebagai objek self reward

Kesepian pada Gen Z juga tak terlepas dari fenomena digital fatigue. Fenomena ini menjelaskan bahwa Gen Z rentan mengalami kondisi kelelahan fisik, mental, serta emosional akibat dari paparan teknologi yang berlebihan. 

Banyaknya waktu berselancar di media sosial, bikin mereka seolah terputus dari dunia nyata (digital disconnect). Oleh karena itu, sekarang mereka lebih suka mencari pelarian pada objek fisik yang lebih jelas seperti tanaman atau bunga. 

Bukan mustahil bagi Gen Z membeli bunga sebagai pelarian dari stres, rasa cemas, dan ketidakpastian masa depan karena mereka cenderung doom spending. Artinya, mereka lebih suka membeli barang non-pokok demi kebahagiaan instan.

manfaat bunga. MOJOK.CO
ilustrasi alasan Gen Z beli bunga untuk self reward. (NotebookLM)

Jadi alih-alih membeli rumah untuk masa depan misalnya, bunga jauh lebih penting untuk masa kini. Sebab bagi mereka, bunga, bisa memberikan kebahagian singkat, menurunkan stres, meningkatkan mood, sekaligus mengendalikan pikiran, bahwa mereka sedang berada di dunia nyata karena digital disconnect tadi.

Lebih lanjut, penelitian dari Rutgers University menjelaskan bunga sebagai bagian dari tumbuhan atau makhluk hidup, juga memiliki ikatan emosional dengan manusia. Saat bunga mekar, sengaja atau tidak, kita ikut merasakan keindahan dan aromanya. 

Saat itu lah bunga memberikan kenyamanan singkat yang kita cari. Secara tidak langsung, hormon-hormon kebahagiaan pun ikut meningkat dalam diri. 

Pada akhirnya, ketika masyarakat di sekitar kita berubah: ekonomi sulit, krisis global, masalah pribadi, atau masa depan yang tidak pasti, kita cenderung mencari kebahagiaan. Sekecil apa pun itu. Salah satunya dengan melihat bunga. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Selalu Pelit ke Diri Sendiri demi Hidupi Keluarga, Tiap Mau Self Reward Pasti Merasa Berdosa padahal Tak Seberapa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2026 oleh

Tags: alasan beli bungabeli bungabentuk self rewardGen Zin this economymanfaat bungaself rewardValentine
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Geliat open bo di MiChat saat malam Valentine: pelampiasan lewat layanan "rasa pacar" MOJOK.CO
Lipsus

Geliat Layanan Open BO “Rasa Pacar” di MiChat, Pelampiasan dan Upaya “Laki-laki Gagal” Mencari Validasi

14 Februari 2026
Nyaris dicurigai kumpul kebo di penginapan Jogja saat Valentine. MOJOK.CO
Lipsus

Sisi Gelap Penginapan “Murah” di Jogja, Ramai dan Untung Saat Valentine Berkat Anak Mudanya yang Hobi Kumpul Kebo

14 Februari 2026
Cara Gen Z memulihkan hati dengan lari dan menanam bibit pohon lewat program OAOT. MOJOK.CO
Jagat

Obati Patah Hati dengan Lari 176 km: Cara Gen Z Menebus Dosa Lingkungan Sambil Jadi Pelari Kalcer

14 Februari 2026
Hari Valentine, “Valentine Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai dengan Berhubungan Seks?.MOJOK.CO
Lipsus

“Valentine Bukan Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai Sedangkal Berhubungan Seks?

13 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Gen Z memulihkan hati dengan lari dan menanam bibit pohon lewat program OAOT. MOJOK.CO

Obati Patah Hati dengan Lari 176 km: Cara Gen Z Menebus Dosa Lingkungan Sambil Jadi Pelari Kalcer

14 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Terbaik Toyota dan Zenix Tetap Menyedihkan MOJOK.CO

Innova Reborn Mobil Terbaik Sepanjang Masa, Toyota Saja Tidak Rela Menyuntik Mati dan Zenix Tetap Saja Menyedihkan

10 Februari 2026
Jadi LO sertifikasi kerja rawan bujukan wanita simpanan

Jadi LO Sertifikasi Kerja di Jogja, Kena Modus “Eksplor Jogja” Berujung Bujukan Jadi Wanita Simpanan

12 Februari 2026
Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi jadi tempat jeda selepas lari MOJOK.CO

Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat

9 Februari 2026
Rp100 juta pertama, tabungan bersama pas pacaran itu bikin repot MOJOK.CO

Usia 30 Harus Punya Rp100 Juta Pertama, Tapi Mustahil bagi Sandwich Generation yang Gajinya Pas-pasan dan Sudah Ludes di Tengah Bulan

10 Februari 2026
Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan dan Vita Rilis Video Klip "Rayuanmu" yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!.MOJOK.CO

Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!

9 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.