Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
6 Februari 2026
A A
self reward.mojok.co

Ilustrasi Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Self reward bukan sesuatu yang baru. Istilah mudahnya, setelah kamu sudah berjuang mati-matian, kamu berhak mendapatkan hadiah. Itulah gambaran paling mudah memahami self reward. 

Namun masalahnya, self reward ini nggak se-prestise hadiah ulang tahun yang bisa didapatkan hanya setahun sekali untuk merayakan bertambahnya usia, nggak juga bisa dianggap murah karena sering kali biaya yang dikeluarkan nggak sedikit, apa lagi setelah memanipulasi diri berkali-kali tentang perjuangan yang telah dilalui.

Self reward tidak punya ukuran pasti

Ketika bertanya dengan salah seorang pekerja Jakarta, Adine (24), mengatakan bahwa dirinya merupakan salah satu orang yang sering menerapkan self reward. Bukan tanpa alasan, setidaknya menurut dia, sebab Adine menilai dirinya perlu diapresiasi lebih setelah berhasil melalui hari-harinya sebagai pekerja 9-to-5.

Belum lagi, bertahan dalam kondisi yang serba tidak pasti menambahkan beban tersendiri. Oleh karena itu, Adine mengatakan, bernapas saja sudah terasa berat. Dia menilai, untuk ini saja, kita sudah seharusnya mendapatkan reward. 

“Self reward tuh penting. Kupikir karena kita udah struggle buat hidup sehari-hari, seenggaknya buatku, aku perlu untuk selalu mikirin sesuatu yang aku pantas dapetin. Soalnya, bernapas aja udah kayak berjuang kan,” kata Adine, Jumat (6/2/2026).

Bukan cuma Adine yang berpendapat begitu, self reward juga dinilai penting oleh sebagian orang lainnya. Dilansir dari Psychology Today, Steven Stosny yang merupakan seorang psikolog, menyatakan self reward merupakan pengakuan terhadap besaran usaha yang telah diberikan dan pencapaian yang diwujudkan, baik kecil maupun besar.

Mendengar cerita Adine, kiranya “bernapas” sebagai pencapaian, entah kecil atau besar, itu bisa dikatakan juga patut diberikan reward dari pemaknaan self reward yang ada.  Namun dengan ketidakpastian ini, ada satu pertanyaan yang melahirkan kemungkinan. Bagaimana mengukur reward yang memang layak kemudian memungkinkan adanya manipulasi terhadap diri sendiri untuk memberikan apresiasi?

Oleh Adine, kemungkinan ini dibenarkan. Ada ketidaksadaran terhadapnya, tetapi juga kesadaran pada saat yang sama, tetapi tidak benar-benar diacuhkan. “Aku nggak begitu sadar sama pola sabotase diriku. Mungkin, aku menyabotase bujet yang aku punya. Jujur, sampai sekarang aku belum punya budgeting,” katanya.

Nggak ada tolok ukur pasti perjuangan

Mencoba untuk memahami bagaimana setidaknya reward ini bekerja, sebetulnya ada berbagai reward yang bisa diberikan tanpa benar-benar memakan pengeluaran. Mulai dari sekadar waktu untuk menelpon orang terdekat sampai dengan tidak melakukan apa pun terhitung sebagai sebuah penghargaan.

Namun pada taraf lain, yang cenderung membuat self reward tidak mungkin tidak bernilai–tidak menguras dompet–adalah pembelian-pembelian yang terjadi secara impulsif dengan dalih apresiasi diri. Toh, nggak ada tolok ukur soal kapan kamu boleh atau tidak mendapatkannya. 

Bahkan, bagi Adine, pembelian barang-barang yang terhitung hobi, tidak tergolong dalam reward. “Paling, kalau aku, yang paling signifikan bukan untuk makan atau baju karena itu termasuk hobiku,” katanya.

Yang dihitungnya, perubahan dalam bujet adalah bagian dari self reward. Ini terjadi pada saat Adine harus melakukan penyesuaian spontan dalam finansialnya untuk memuaskan diri sendiri yang telah merasa lelah bekerja. 

“Rasa bersalahku buat self reward yang sering muncul tuh karena menyabotase pengeluaran dalam rutinitasku, kayak dalam peak hours buat pulang. Harga transportasi kan bisa naik berkali-kali lipat, tapi aku mikir kayak, ‘bodo amat, aku pantas kok’. Tapi ya, nggak bertanggung jawab juga sebenarnya ya,” akunya.

Anggap aja apresiasi, tapi nggak pernah berhenti

Ada kesadaran yang melintas, Adine segera menampik bahwa dirinya telah benar-benar berniat untuk insaf. Menurutnya, sadar nggak bertanggung jawab tidak sama dengan keputusan untuk berhenti.

Iklan

Alasan utamanya, Adine menilai harus memprioritaskan dirinya untuk tetap waras dan bertahan dalam pekerjaannya. Juga, kehidupannya. Karena itulah, self reward adalah penting dan penyelamat hidup Adine.

“Tapi, apa aku akan berhenti self reward? Nggak juga kayaknya. Seenggaknya buat sekarang sih, karena prioritasku buat tetap waras dan bertahan,” katanya.

Adine nggak sendirian. Riset McKinsey mendukungnya, bukan hanya alasan sesederhana yang Adine sampaikan yang mendorong orang-orang melakukan, bahkan mengambil keputusan impulsif, untuk self reward. Hal ini, apabila ditelusuri lebih lanjut, telah merasuk dalam kultur masyarakat yang mengalami perubahan dalam habit berbelanja tanpa disadari.

Perilaku konsumen Amerika Serikat, sebagai contohnya, menunjukkan bahwa mereka menghabiskan hampir 90 persen dari waktu luangnya untuk aktivitas sendirian, salah satunya berbelanja. Dinilai McKinsey, orang-orang sebenarnya masih resah soal kenaikan harga dan inflasi setelah Covid-19.

Namun, keresahan atas ketidakpastian itu tidak serta-merta menjadi penghalang dalam menghabiskan uang. Lebih parahnya, mereka bisa menurunkan satu standar untuk standar lainnya, seperti makan murah untuk membeli tas mahal. Namanya juga reward, kan.

Ujungnya yang terjadi adalah sabotase self reward

Hasil penelitian McKinsey mengarah pada kemungkinan self reward berubah jadi self-sabotage. Mengutip Money101, istilah ini mengacu pada gagasan perilaku, keyakinan, emosi, atau tindakan dapat berdampak negatif pada keputusan keuangan yang kita buat. Alhasil, ini dapat berubah menjadi pola yang melawan kita, menghasilkan efek negatif yang berpotensi membahayakan keuangan, seperti ketidakmampuan menabung atau pengeluaran berlebih.

Dalam memahami ini, saya bisa membayangkan bahwa ketika kita terbiasa mengafirmasi diri dengan alasan-alasan positif terlalu sering. Suatu hari, nilai positif itu dapat bergeser ke negatif. Sebab, proporsinya mulai tidak sesuai.

Menyadari ini, rasanya celah-celah self reward akan dimasuki oleh sabotase tanpa disadari memang tidak dapat dielak. Namun, peluang itu tidak mengesampingkan pentingnya self reward sebagai alasan untuk bertahan hidup dari ke hari. Kita perlu sesuatu untuk bertahan adalah benar, tapi apabila melibatkan pengeluaran barangkali perlu pengaturan serius agar saldo tidak tergerus?

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA Kata Perencana Keuangan Boleh Hidup Boros dan Nggak Menabung Asal dan liputan Mojok lainnya di rubrik liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2026 oleh

Tags: anak muda pekerjabelanjaborosfinansialpekerjapilihan redaksiself rewardself sabotage
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO
Sehari-hari

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO
Urban

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO
Sekolahan

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO
Urban

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.