Fenomena “Bouquet for Myself” makin digandrungi Gen Z. Bukan untuk pasangan atau orang terkasih, melainkan membeli bunga untuk self reward di tengah perubahan sosial: ekonomi sulit, krisis global, masalah pribadi, dan masa depan yang tak pasti.
***
Seorang pedagang bunga dengan leher dan lengan tangan penuh tato menghampiri saya untuk membeli bunga di tokonya, sebelum saya beralih ke toko sebelah. Kalimatnya terdengar basa-basi tapi cukup menarik perhatian saat kala itu.
“Beli bunga yuk, Kak, untuk self reward!” kata dia di sebuah toko bunga Jalan Merbabu, Kotabaru, Jogja pada Jumat sore (6/2/2026).
Jauh dari perawakannya yang garang, pedagang itu cukup ramah sehingga meyakinkan saya dan salah satu kru Mojok untuk membeli bunga di sana. Kami memang berniat melihat-lihat, syukur-syukur ada bunga yang cocok untuk diletakkan di kantor.
“Ada bunga lily juga Kak, untuk self reward mungkin?” kata dia lagi, mengulang dua kalimat sama: self reward.
Barangkali, dia sudah menduga tujuan kami membeli bunga karena rata-rata pelanggan di sana biasanya membeli bunga bersama pasangan. Sementara saya dan kru Mojok adalah dua perempuan yang sebetulnya hanya ingin ngonten.
Alfath, nama pedagang bunga itu, berujar dia sudah terbiasa melihat gerak-gerik dan tujuan dari pelanggan. Biasanya, kata dia, cewek-cewek yang datang berdua seperti kami ini membeli bunga untuk self reward sebagai bentuk mencintai diri sendiri.
Banyak orang membeli bunga untuk self reward
Tapi jujur saja, Alfath yang belum setahun ini menjadi pegawai bunga ikut kebingungan saat pelanggan bertanya soal filosofi bunga. Jawabannya pun hanya standar kalau ada yang meminta rekomendasi, tergantung tujuan dari membeli bunga itu sendiri.
“Biasanya nih Kak menjelang Hari Valentine seperti ini, kebanyakan belinya mawar merah untuk pacar. Of course karena mereka sudah tahu mawar merah itu simbol cinta, kasih sayang,” jelas Alfath.

“Nah yang bikin bingung kalau mereka tanya ke saya, enaknya mau beli bunga apa. Saya sih kasih saran asal saja, bisa mawar, bunga matahari, atau yang paling mahal bunga lily,” kelakarnya.
Menurut Alfath, bisnis bunga sekarang berpeluang ramai karena alasan orang membeli bunga bermacam-macam. Tak hanya dari instansi yang memerlukan bunga sebagai dekorasi ruangan atau mahasiswa yang membeli buket untuk hadiah, tapi juga muda-mudi (Gen Z) yang menginginkan bunga sebagai self reward.
Fenomena ini sejalan dengan laporan Arizton Advisory & Intelligence, sebuah perusahaan riset dan pasar intelijen bisnis global. Dia mengungkap bahwa pasar floral gifting secara global tumbuh pesat karena tren memberi hadiah untuk diri sendiri (self reward).
Bunga membawa energi positif
Pernyataan Alfath pun terbukti, tak lama setelah melayani kami memilih bunga, Alfath kedatangan dua orang pelanggan yang merupakan mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Keduanya mengaku sudah dua kali ini datang ke toko Alfath sebelum perayaan Hari Valentine.
Chilla (19), salah satu mahasiswa Jurusan Perancis itu berujar awalnya ingin membeli bunga untuk kakak tingkatnya yang baru seminar proposal (sempro) Namun, dia dan temannya jadi tertarik membeli bunga untuk dirinya sendiri.
“Sebetulnya aku baru-baru ini beli bunga waktu merantau ke Jogja untuk kuliah. Buat self reward juga sebagai bentuk mencintai diriku sendiri (self love),” kata Chilla.

Begitu pula teman Chilla yang akhirnya membeli dua tangkai bunga pikok berwarna putih dan ungu. Sementara Chilla membeli setangkai bunga matahari seharga Rp15 ribu. Menurutnya, selain indah, bunga matahari juga melambangkan kebahagiaan dan optimisme.
“Jadi nanti aku taruh tangkainya (bunga matahari) di dalam vas, terus aku kasih air,” kata Chilla.
“Aku taruh vas itu di meja belajar biar bisa aku lihatin. Senang aja gitu lihatnya, bikin hariku lebih semangat dan nambah energi positif,” lanjutnya.
Lebih dari sekadar dekorasi, bunga kini beralih fungsi
Sebuah studi international dari Fresh Produce Association (2025) mencatat ada sekitar 73 persen orang kini rutin membeli bunga. 50 persen diantaranya membeli bunga untuk diri mereka sendiri (self reward), bukan sebagai hadiah.
Julie Campbell selaku asisten profesor yang berfokus pada hortikultura konsumen dan perilaku konsumen di Departemen Hortikultura University of Georgia mengungkap, tren ini muncul tepat sebelum pandemi Covid-19. Alasannya pun sederhana, salah satunya seperti yang dikatakan Chilla tadi bahwa bunga dapat meningkatkan mood serta mengurangi stres.
“Orang-orang mulai menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang mereka nikmati, dan hidup ini terlalu singkat. Anda bisa memiliki bunga,” kata Campbell, “bunga membuat Anda bahagia, dan orang-orang bisa melakukan ini.”

Artinya, orang-orang makin tertarik dengan bunga karena peralihan fungsi. Tak bisa dipungkiri, pandemi bukan hanya berdampak secara ekonomi melainkan psikis seseorang.
Apalagi, Gen Z juga dikenal sebagai generasi yang rentan kesepian. Data Campaign to End Loneliness & Gallup menyebutkan 25 persen anak muda usia 15-18 tahun merasa sangat atau cukup kesepian.
Bunga punya “daya tawar” tinggi bagi Gen Z sebagai objek self reward
Kesepian pada Gen Z juga tak terlepas dari fenomena digital fatigue. Fenomena ini menjelaskan bahwa Gen Z rentan mengalami kondisi kelelahan fisik, mental, serta emosional akibat dari paparan teknologi yang berlebihan.
Banyaknya waktu berselancar di media sosial, bikin mereka seolah terputus dari dunia nyata (digital disconnect). Oleh karena itu, sekarang mereka lebih suka mencari pelarian pada objek fisik yang lebih jelas seperti tanaman atau bunga.
Bukan mustahil bagi Gen Z membeli bunga sebagai pelarian dari stres, rasa cemas, dan ketidakpastian masa depan karena mereka cenderung doom spending. Artinya, mereka lebih suka membeli barang non-pokok demi kebahagiaan instan.

Jadi alih-alih membeli rumah untuk masa depan misalnya, bunga jauh lebih penting untuk masa kini. Sebab bagi mereka, bunga, bisa memberikan kebahagian singkat, menurunkan stres, meningkatkan mood, sekaligus mengendalikan pikiran, bahwa mereka sedang berada di dunia nyata karena digital disconnect tadi.
Lebih lanjut, penelitian dari Rutgers University menjelaskan bunga sebagai bagian dari tumbuhan atau makhluk hidup, juga memiliki ikatan emosional dengan manusia. Saat bunga mekar, sengaja atau tidak, kita ikut merasakan keindahan dan aromanya.
Saat itu lah bunga memberikan kenyamanan singkat yang kita cari. Secara tidak langsung, hormon-hormon kebahagiaan pun ikut meningkat dalam diri.
Pada akhirnya, ketika masyarakat di sekitar kita berubah: ekonomi sulit, krisis global, masalah pribadi, atau masa depan yang tidak pasti, kita cenderung mencari kebahagiaan. Sekecil apa pun itu. Salah satunya dengan melihat bunga.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Selalu Pelit ke Diri Sendiri demi Hidupi Keluarga, Tiap Mau Self Reward Pasti Merasa Berdosa padahal Tak Seberapa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














