Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Maret 2026
A A
Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo.MOJOK.CO

Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Langit Kota Jogja sedang cerah pada Kamis (5/3/2026) sore itu. Padahal, selama tiga hari berturut-turut, hujan deras mengguyur tiap sore hingga malam hari. Suasana berbeda juga dirasakan para pengunjung Plaza Ambarrukmo. Pasalnya, tak ada alunan musik pop kekinian yang lazim diputar di pusat perbelanjaan. Sebagai gantinya, telinga saya dan pengunjung lain langsung disambut oleh tabuhan gamelan yang menggema kencang.

Kirab Bregodo, saat prajurit keraton berarak di tengah mal

Di area mal berlantai tujuh ini, sedang berlangsung sebuah arak-arakan tradisional yang meriah, atau biasa disebut Kirab Bregodo. Pemandangannya sukses membuat siapa saja berhenti melangkah, termasuk saya.

Di tengah lalu-lalang pengunjung dan deretan toko modern, terdapat 40 prajurit keraton berjalan tegap lengkap dengan pakaian adat kebesarannya. Namun, bintang utama dari arak-arakan ini adalah sebuah tumpukan raksasa yang dibawa dengan penuh kehati-hatian.

plaza ambarrukmo.MOJOK.CO
40 pasukan bregada keraton melakukan kirab dengan membawa lebih dari 5.000 legomoro, Kamis (5/3/2026). (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Benda itu adalah Gunungan Legomoro. Legomoro merupakan jajanan tradisional khas Kotagede berbahan dasar ketan yang dibungkus daun pisang. Gunungan ini tidak disusun sembarangan, melainkan berisi tepat 5.306 potong legomoro.

Diiringi kelincahan penari Tari Edan-edanan, gunungan raksasa ini diarak berkeliling dengan target memecahkan Rekor MURI. 

Puncak kemeriahan terjadi ketika prosesi arak-arakan usai. Sesuai tradisi keraton, gunungan tersebut tidak hanya dipajang, melainkan dibagikan kepada warga melalui prosesi rayahan atau rebutan. Ratusan pengunjung mal yang sejak tadi merekam menggunakan ponsel, perlahan maju dan ikut berdesakan ringan untuk mendapatkan bagian dari gunungan tersebut.

Ngalap berkah dengan rebutan 5.306 legomoro

Suasana pun berubah penuh tawa dan sorak-sorai ketika panitia mulai membagikan legomoro. Pengunjung dari berbagai usia, mulai dari anak muda hingga orang tua, tampak antusias menjulurkan tangan.

Di tengah kerumunan yang semarak itu, saya bertemu dengan salah satu pengunjung yang ikut antre. Namanya Disa, seorang mahasiswa yang kebetulan sedang menyempatkan diri ngabuburit ke Plaza Ambarrukmo. Wajahnya tampak semringah sambil memegang “segepok” legomoro di tangannya yang berisi puluhan biji.

“Lumayan buat buka puasa,” ujarnya sambil tertawa.

plaza ambarrukmo.MOJOK.CO
Ratusan orang melakukan rayahan atau berebut legomoro yang sudah didoakan setelah kirab bregada mengelilingi Plaza Ambarrukmo, Kamis (5/3/2026). (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Bagi masyarakat Jawa, tradisi berebut gunungan memang bukan sekadar mencari makanan, melainkan ada unsur ngalap berkah atau mencari keberkahan. Apalagi sebelum diperebutkan, legomoro ini telah diberkati dengan doa ulama yang hadir.

Mendapatkan makanan dari prosesi adat seperti ini, apalagi di dalam sebuah mal modern, tentu menjadi pengalaman unik dan tak terduga bagi Disa. Apalagi, awalnya ia hanya berniat jalan-jalan sore. 

“Dapat banyak, ini sih bisa dimakan sampai sahur,” imbuhnya, masih dengan tawa.

Pementasan wayang 20 jam nonstop di atap mal

Kemeriahan di lantai bawah ternyata baru satu bagian dari rangkaian acara. Pada hari sebelumnya, Rabu (4/3/2026), pemandangan agak lain juga terlihat di Roof Space Plaza Ambarrukmo yang berada di lantai paling atas.

Kalau datang ke area rooftop, kita bakal langsung disambut panggung wayang kulit yang megah. Ya, ada pementasan wayang kulit di lantai paling atas mal. Pementasan ini resmi dimulai pada Rabu (4/3/2026) pukul 14.00 WIB dan terus berlangsung tanpa henti sampai esok paginya, Kamis (5/3/2026) pukul 10.00 WIB. Artinya, 20 jam nonstop.

Iklan

Lakon yang dibawakan berjudul “Jumenengan Ramawijaya”. Karena merayakan usia ke-20, mal ini menghadirkan 20 dalang dan 20 sinden yang tampil secara bergantian. Pementasan ini diklaim sebagai pertunjukan wayang kulit nonstop pertama di dalam mal modern di Indonesia, dan kembali mencetak Rekor MURI.

plaza ambbarrukmo.MOJOK.CO
Pementasan wayang 20 jam nonstop di rooftop Plaza Ambarrukmo berhasil memecahkan MURI. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Selama ini, ada anggapan bahwa wayang kulit hanyalah tontonan kuno di lapangan desa. Namun, selama dua hari ini, Amplaz mematahkan stigma itu. Banyak anak muda yang tampak asyik duduk lesehan menonton wayang sambil menikmati camilan dari deretan penjual kuliner UMKM lokal yang sengaja dihadirkan di area tersebut.

Perpaduan modernitas dan tradisi di puncak dua dekade Plaza Ambarrukmo

Di sela-sela acara, saya berkesempatan berbincang dengan Rina Febriana, Assistant General Manager Plaza Ambarrukmo. Rina menjelaskan bahwa seluruh kemeriahan hari ini, mulai dari gunungan legomoro hingga pementasan wayang 20 jam nonstop, adalah puncak perayaan ulang tahun ke-20 mal tersebut.

Tahun ini, Amplaz mengusung tema “Swarnacitta”, yang bermakna perjalanan menuju masa keemasan. Namun, yang membuat saya benar-benar kagum adalah alasan di balik pemilihan konsep ini. 

Menurut Rina, pihak manajemen sedang merajut sebuah misi besar: menciptakan titik temu yang harmonis antara gaya hidup urban mal yang serba modern dengan kelestarian budaya lokal Jawa.

Langkah ini terasa sangat pas dan esensial, mengingat bangunan megah bertingkat ini pada dasarnya berdiri tegak di atas lahan cagar budaya, serta terus memegang teguh identitasnya sebagai “Gateway of Java“.

“Kami sadar kami berdiri di lahan cagar budaya Jogja, tempat yang sakral. Jadi, meskipun mengedepankan modernitas, kami tidak bisa meninggalkan nilai-nilai tradisi di dalamnya,” kata Rina saat ditemui, Rabu (4/3/2026).

plaza ambarrukmo.MOJOK.CO
Pihak manajemen Plaza Ambarruko menegaskan, pihaknya ingin menciptakan titik temu yang harmonis antara gaya hidup urban mal yang serba modern dengan kelestarian budaya lokal Jawa dalam perayaan dua dekade ini. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Melalui payung tema besar ini, tradisi yang usianya ratusan tahun dilebur secara mulus ke dalam lanskap mal masa kini. Tujuannya untuk mematahkan stigma bahwa kesenian seperti wayang kulit atau jajanan tradisional hanyalah tontonan milik generasi tua.

“Wayang kulit, misalnya, yang dulu lekat dengan stigma orang tua dan pagelarannya diadakan di lapangan-lapangan desa, kami bawa ke pusat modernitas di dalam mal,” tuturnya.

Dengan menyulap pusat perbelanjaan menjadi ruang perjumpaan budaya yang asyik dan relevan, mereka berharap anak-anak muda yang awalnya cuma berniat nongkrong atau berbelanja bisa kembali melirik, mengenal, dan pada akhirnya jatuh cinta dengan warisan luhur budayanya sendiri.

Memaknai usia dua dekade Plaza Ambarrukmo

Menjaga eksistensi mal selama dua dekade jelas bukan hal yang mudah. Rina menuturkan, sejak mulai dipasarkan pada 2004 hingga resmi dibuka pada 5 Maret 2006, ujian demi ujian datang tak terhindarkan. Misalnya, di awal masa operasionalnya, mereka diuji oleh gempa bumi besar Jogja tahun 2006. Ujian berat lainnya datang saat pandemi Covid-19, di mana pusat-pusat keramaian dipaksa lumpuh total.

“Nah, saat bencana datang atau mobilitas dibatasi itu manajemen harus memutar otak mencari jalan tengah. Tetap memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan, tapi tetap menjaga keamanan para pelaku bisnis, termasuk pegawai di dalamnya,” kata perempuan yang sudah 20 tahun bekerja di Plaza Ambarrukmo ini.

Perjalanan dua dekade Plaza Ambarrukmo mewariskan pesan penting tentang resiliensi dan kemampuan beradaptasi. Menghadapi krisis berat seperti gempa bumi dan pandemi, mal ini membuktikan bahwa strategi adaptif, seperti beralih ke sistem transaksi daring, adalah kunci utama untuk bertahan hidup.

Namun, seiring dengan adaptasi tersebut, kata Rina, perusahaan tidak boleh kehilangan esensinya, yaitu terus menjaga standar pelayanan paripurna (excellent service) karena bisnis ritel pada dasarnya berakar pada keramahtamahan (hospitality). 

Selain itu, kesuksesan jangka panjang menuntut pembaruan yang tiada henti. Untuk menavigasi persaingan yang semakin ketat, penyegaran fasilitas secara berkala dan pembaruan kurasi penyewa yang mengikuti tren terbukti sangat krusial agar sebuah pusat perbelanjaan terus relevan.

Pesan paling mendalam dari perjalanan 20 tahun ini adalah pentingnya merawat akar identitas. Berdiri tegak di atas lahan cagar budaya dan membawa nama “Gateway of Java”, Plaza Ambarrukmo sukses membuktikan bahwa laju modernitas komersial tidak harus menyingkirkan kelestarian tradisi.

“Sebuah mal harus bisa bertransformasi menjadi wadah perjumpaan yang harmonis, sekaligus menjadi sarana asyik agar generasi muda masa kini tetap mengingat dan mencintai warisan budayanya sendiri,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sojourn: Alunan Laut Tenang dari Kelana Swara Ambarrukmo, Beri Rasa Lega usai Menepi dari Rutinitas Melelahkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2026 oleh

Tags: amplazHUT 20 Plaza AmbarrukmoJogjakirab bregodolegomoroplaza ambarrukmowayang kulit
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Koperasi di Yogyakarta. MOJOK.CO

Hari Koperasi Nasional ke-79 di DIY: Sudah Saatnya Koperasi sebagai Sakaguru Perekonomian Nasional Nggak Lagi Gaptek

23 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.