Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Warna “Hijau Miskin” Dianggap Norak, Tidak Disukai Gen Z padahal Dipakai Banyak Orang dan Harganya Murah

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
2 Maret 2026
A A
Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z

Ilustrasi - Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Warna kamar menjadi salah satu faktor penentu kenyamanan. Oleh karena itu, ada satu yang dihindari, setidaknya oleh gen Z, yaitu hijau miskin. Alasannya, warna yang sering dipakai kebanyakan orang ini dinilai norak dan nggak sesuai dengan branding kepribadian mereka. Singkatnya, nggak keren.

***

Iklan

Saya mencoba bertanya kepada tiga orang yang tergolong dalam usia gen Z. Ketiganya sama-sama berusia 23 tahun, tetapi mempunyai kepribadian yang berbeda-beda.

Namun, ketika ditanya, “Mau nggak kalau kamarmu warnanya hijau miskin?”

Ketiganya kompak menjawab, “Nggak mau.”

Asal-usul hijau miskin, memang digunakan dalam program daerah tertinggal

Menarik mundur untuk mengenali hijau miskin, warna ini sebenarnya disebut sebagai Green Gecko dalam pantone atau standar nomor untuk warna.

Warna hijau yang cenderung muda ini memberikan kesan segar dan hidup karena menyerupai warna tanaman dan tumbuhan. Maka dari itu, sering kali alasan pemilihan warna ini sebagai cat rumah adalah kesan dari warnanya yang sejuk dan menenangkan.

Karena itu juga, kiranya warna ini dipilih sebagai cat rumah dalam program TNI Manunggal Membangun Desa. Program ini dilaksanakan untuk membangun daerah di Indonesia, khususnya daerah tertinggal. Fokusnya lebih kepada pembangunan fisik, seperti memperbaiki fasilitas umum, mengaspal jalan, dan mengecat ulang rumah warga—yang menggunakan warna Green Gecko ini.

Penggunaan Green Gecko dalam program TNI inilah yang membuatnya disebut sebagai hijau miskin. Sebab, digunakan di daerah tertinggal.

Namun pada spekulasi ini, alasan pemilihan warna cat ini juga disebabkan oleh harganya yang paling murah di toko bangunan. Cat ini bahkan bisa dibeli dengan harga Rp10 ribu jika dibeli secara eceran.

@braynathanaelAlesan kenapa warna ijo yang ini masih banyak yang pake. Ib: narasi tv♬ Gymnopedie no.1 / Satie [Piano solo](256275) – takai

Warna hijau miskin terlalu sering digunakan, tidak spesial dan terlalu religius

Dari sejarahnya ini, salah satu gen Z bernama Tata (23) menyuarakan penolakannya terhadap hijau miskin. Menurutnya, warna ini tidak terlihat menarik, semakin tidak menarik bagi dirinya yang sudah tidak menyukai hijau.

“Jelek, dan aku emang nggak suka warna hijau,” katanya, Senin (2/3/2026).

Penolakan keras terhadap hijau miskin ini, kata Tata, didasari penggunaannya oleh banyak orang. Bahkan, warna latar belakang menggunakan hijau ini sebagai green screen sehingga menambah nilai umumnya.

Iklan

Selain itu, ia menduga alasan hijau jenis ini sering ditemui disebabkan hubungannya dengan mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam, kemudian hijau disebut sebagai warna kesukaan Nabi Muhammad Saw.

Dengan alasan itu, Tata membenarkan orang-orang yang serentak menggunakan hijau sehingga mengurangi—bahkan menghilangkan–nilai istimewanya menjadi biasa saja.

Sudah biasa, nilainya malah beralih menjadi religius dari kacamata Tata.

“Menurutku, ijo mungkin adalah warna yang terlalu dekat sama Islam,” kata Tata.

“Ijo green screen itu, jadi sering dipakai sama orang dan orang serentak makai ijo yang itu, bukan variasi ijo yang lain,” tambahnya.

Makin banyak digunakan oleh orang-orang, makin biasa dan mudah warna tersebut ditemui. Karena itu, istilah “miskin” seakan-akan menggantikan kelumrahannya, yang membuatnya semakin layak dihindari dari perspektif gen Z.

“Jadi dipakai banyak orang, terlalu sering dipakai masyarakat mana pun. Hijaunya terlalu spesifik juga,” tutupnya.

Hijau miskin tidak sesuai estetika gen Z

Bukan cuma Tata yang menolak. Masih ada Ifroh (23) dan Aulia (23) yang juga menentang penggunaan warna ini di sekitar mereka, utamanya ruang pribadi yang dipunyanya.

“Kalau case-nya adalah kamar pribadi aku di rumah, nggak mau,” kata Ifroh saat ditanyai, Senin (2/3/2026).

Sebagai seseorang yang mengedepankan visual, Ifroh merasa hijau miskin terlalu tricky untuk dipadupadankan—atau mix and match, dalam kamus modern—dengan standar estetikanya.

Selain itu, alasan utamanya adalah Ifroh sudah tidak menyukai warna ini lebih dulu.

“Pertama, aku nggak suka hijau,” katanya.

“Kedua, aku merasa diriku sangat visual dan beberapa tone ijo itu secara visual lebih tricky,” tambah dia.

Dalam menjelaskan ini, Ifroh menyebut bahwa hijau punya kadar yang tidak bisa ditawar-menawar. Ibaratnya, kalau hitam bisa menetralisir, krem bisa mencerahkan, lain hal dengan hijau miskin.

Hijau yang juga disebutnya mirip dengan warna stabilo ini tidak bisa dinegosiasi dengan terlalu terang atau terlalu gelap. Belum lagi, tidak bisa disatukan dengan semua warna.

“Kalau terlalu terang atau kurang balance kayak ijo stabilo ini bakal susah untuk di-pairing sama perbendaan yang ada di kamarku,” ujarnya.

Menurutnya, penting untuk memprioritaskan estetika terlebih dulu.

Dalam industri fashion, pemilihan warna semacam ini lebih dari sekadar soal estetika, tetapi juga berkaitan dengan psikologi. Artinya, memilih warna yang tepat dan sesuai adalah cara tidak langsung dalam menjelaskan hubungan emosional individu dengan tren, sampai sentimen tertentu.

Makanya, yang dilakukan oleh Ifroh bukanlah sesuatu yang mengherankan.

“Lebih soal estetika dan kombinasi, karena selama ini aku menghindari warna gonjreng dan terang untuk segala sesuatu yang aku beli,” jelasnya.

Sama seperti Ifroh, Aulia justru lebih lugas dalam menolak hijau miskin. Dalam satu kalimat singkat yang bersumber dari alasan-alasan yang sama jika dijabarkan, Aulia berterus terang dengan mengakui ketidaksesuaiannya dengan hijau miskin untuk alasan estetik dan kesehatan yang bisa jadi terpengaruh.

“Skip dulu, mataku sakit nanti,” tukasnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Derita Punya Kepribadian Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental dan artikel liputan Mojok lainnya dalam rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Maret 2026 oleh

Tags: estetikGen Zgen z indonesiakepribadian berdasarkan warnapsikologi warnastigma gen zwarna catwarna hijauwarna hijau miskinwarna pilihan gen z
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO
Eksplor

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Gen Z Habiskan Gaji untuk Konser K-Pop. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Habiskan Gaji demi Konser K-Pop: “Balas Dendam” Terbaik untuk Penuhi Inner Child

25 Juni 2026
Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO
Urban

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Pelajaran mahal setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI MOJOK.CO

Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain

9 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.