Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Eksplor

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
12 Juli 2026
A A
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Jumirah bersama suaminya sedang bersitirahat sejenak setelah mengumpulkan sampah. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kondisi hidup menantang Jumirah (54) untuk tidak berhenti bekerja di usianya yang tak lagi muda. Demi membiayai anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMK, perempuan asal Gunung Kidul itu rela memungut sampah di Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA Troketon, Klaten. 

“Cuma pekerjaan ini yang bisa saya lakukan untuk menyambung hidup,” kata Jumirah kepada Mojok di TPA Troketon, Klaten pada Rabu (8/7/2026) siang.

Iklan

Asa yang terjaga di tengah tumpukan sampah

Siang itu, suhu udara di TPA Troketon, Klaten mencapai 33 derajat celsius. Jumirah yang sudah memilah sampah dari pukul 06.00 WIB pun memutuskan beristirahat di bawah gubuk sederhana yang tak jauh dari tempatnya memulung. 

Sembari menyelonjorkan kaki, Jumirah mengipasi wajahnya dengan selembar kardus tanpa melepas sarung tangan, topi kebun visor, dan sepatu botnya. Semua itu masih lengkap dia kenakan sampai pekerjaannya benar-benar tuntas.

“Saya biasanya pulang jam 18.00 WIB, bahkan bisa sampai malam. Tergantung dari timbangan sampah yang saya dapat,” ucap ibu dari dua anak itu. 

Dalam sehari, Jumirah dan suaminya menargetkan uang Rp100 ribu dari pengepul. Artinya, mereka harus mengumpulkan puluhan kilogram sampah per hari, tergantung jenisnya.

Jumirah, pemulung. MOJOK.CO
Jumirah, salah satu pemulung perempuan di TPA Troketon, Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Untuk botol plastik tanggung harganya Rp1.200 per kilogram, yang lebih besar lagi harganya Rp3.500 per kilogram,” ucapnya.

“Saya dan suami pernah dapat Rp600 ribu dalam 2 hari kalau lagi untung. Bahkan ada pemulung lain yang pernah dapat emas. Paling banyak ya HP bekas,” tutur Jumirah membeberkan temuan sampah paling berharga di TPA Troketon, Klaten.

Berdamai dengan bau dan belatung di TPA Troketon, Klaten

Namun, keberuntungan memang tak selalu terjadi. Pada hari-hari biasa, Jumirah tetap harus berjibaku dengan sisa buangan manusia yang digerayangi belatung. Sampai-sampai, Jumirah yang dulunya merasa jijik dan tak tahan dengan bau sampah, kini mengaku sudah terbiasa.

“Ya kalau Mbaknya pertama kali ke sini pasti bau apalagi pas hujan, tapi lama-lama ya nggak. Tapi namanya juga sampah, pasti bau,” kata Jumirah terkekeh.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Jumirah yang sudah 4 tahun jadi pemulung di TPA Troketon, Klaten pun mewajari jika orang lain menganggap pekerjaannya rendah dan kotor. Oleh karena itu, dia dan suaminya tak berani membawa sampah yang mereka kumpulkan ke rumah.

Lahan penyimpanan sampah milik pemulung. MOJOK.CO
Sebagian lahan di TPA Troketon, Klaten menjadi tempat penyimpanan sampah sementara milik pemulung yang sudah dipilah. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Dulu suami saya pernah bawa pulang botol-botol plastik dan kardus ke rumah, tapi tetangga ribut, katanya bau. Jadi kami nggak berani lagi. Pokoknya setelah sampah terkumpul hari itu juga, kami langsung kirim ke pengepul. Kalau nggak, kami sewa lahan di sekitar sini buat dititipin,” jelas Jumirah.

Sebelum menjadi pemulung, Jumirah berujar sehari-hari menjual makanan di rumahnya. Namun, usaha kecilnya itu tak berjalan mulus karena sepi pembeli, sehingga dia sering rugi.

Di sisi lain, banyak tetangganya yang ikut menjual makanan dan laris. Karena tak mampu bersaing, Jumirah memilih ikut suaminya yang sudah lebih dulu menjadi pemulung di TPA Troketon, Klaten sejak tahun 2019.

Iklan

“Awalnya saya coba sebulan, dua bulan. Kok ternyata hasilnya lumayan, padahal cuma modal tenaga,” kata Jumirah.

Ketika 150 ton sampah residu di TPA Troketon, Klaten jadi obat batin

Alih-alih malu karena omongan tetangga, Jumirah memilih tutup telinga. Keputusannya jadi pemulung di TPA Troketon, Klaten tak bisa diganggu gugat, bahkan saat dia sendiri tahu tengah mengidap diabetes yang merupakan penyakit keturunan.

Dokternya pun tak pernah melarang tiap kali Jumirah berobat. Bahkan dia menyemangati Jumirah agar terus bergerak dan terhindar dari stres. Bagi sebagian orang, bekerja di tengah tumpukan sampah mungkin terasa menyiksa, tapi nyatanya kegiatan memulung justru menjadi ‘obat’ ketenangan batin bagi Jumirah.

“Pikiran saya jadi tenang. Sehat juga karena banyak bergerak. Beda dengan pas saya jualan dulu. Pikiran sudah ruwet, kebutuhan pasar naik, paginya masak, eh malah rugi. Kalau memulung lebih santai. Capek atau pusing tinggal istirahat,” tutur Jumirah.

Namun, di balik ketenangan itu, sejatinya ada risiko besar yang mengintai. Sebagai penderita diabetes yang mengalami neuropati atau mati rasa pada tangan dan kaki, Jumirah harus ekstra hati-hati saat bekerja di sekitar tumpukan sampah TPA Troketon, Klaten.

Sebab, neuropati dapat memperlambat penyembuhan luka dan melemahkan imun. Dengan kata lain, luka sekecil apa pun bisa membuat kulit Jumirah cepat membusuk dan berujung pada amputasi. 

Sejatinya, Jumirah pun tak bisa memforsir tenaganya secara berlebihan agar penyakitnya tidak kambuh. Tapi mau bagaimana lagi, Jumirah hanya bisa nrimo ing pandum alias ikhlas dan berserah diri terhadap kenyataan hidup yang sedang terjadi. 

“Kalau nggak begini, saya dan keluarga nggak makan. Selagi fisik masih kuat, akan terus saya kerjakan,” ucap Jumirah.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kisah Lestari, Ibu yang Bertahan Menyekolahkan 2 Orang Anak dari Hasil Memulung Botol Plastik di Sekitar Stasiun Klaten atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2026 oleh

Tags: diabetesibu inspiratifkisah inspiratifklatennrimo ing pandumpemulungTPA Troketon
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO
Eksplor

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO
Eksplor

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pelajaran mahal setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI MOJOK.CO

Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain

9 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.