Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Maret 2026
A A
mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO

ilustrasi - dihujat karena punya iPhone padahal mahasiswa KIP Kuliah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tuntutan IPK

Ketika uang telat, anak reguler bisa langsung menelepon orang tua untuk minta tambahan. Sementara anak KIP Kuliah seperti Dika, tidak punya jaring pengaman itu. 

Orang tuanya di kampung adalah buruh tani yang penghasilannya tidak menentu. 

Alhasil, Dika pun harus berutang ke teman, kadang menggadaikan barang, atau memangkas drastis jatah makannya demi bisa bertahan hidup sambil menunggu proses birokrasi selesai.

“Nasibku masih lebih baik karena nggak terjebak pinjol seperti mahasiswa KIP Kuliah lain,” ujarnya.

Di tengah perut yang lapar itu, mahasiswa seperti Dika juga diikat oleh kontrak akademik. Mahasiswa KIP Kuliah wajib mempertahankan IPK minimal 3.00. 

Evaluasi dilakukan ketat setiap semester. Jika nilai anjlok, beasiswa akan dicabut. Jika dicabut, mereka terancam drop out karena dipastikan tidak akan mampu membayar UKT reguler.

“Kalau anak reguler stres mencari uang untuk bayar UKT, kami anak KIP Kuliah stres mertahanin nyawa biar nggak diusir dari kampus.”

Penerima KIP Kuliah juga berhak terlihat bahagia

Stigma terakhir yang paling sering dilemparkan “polisi moral” adalah soal kepemilikan barang. Dika sering ditatap sinis karena membawa laptop seharga Rp7 juta ke kampus.

Sementara Sari mengaku pernah dihujat netizen di menfess kampus hanya karena wajahnya “bersih” dan ketahuan skincare dasar. Mereka dinilai “terlalu mampu” untuk menerima KIP Kuliah.

Dika sendiri berkali-kali bilang ke teman, kalau laptop miliknya adalah hadiah yang diberikan pemerintah kabupatennya karena prestasinya saat masih SMA. Usia laptopnya pun juga sudah hampir menginjak 5 tahun, dengan performa yang mulai menurun.

Begitu pula dengan skincare Sari. Ia mengaku bahwa skincare miliknya, seperti sabun cuci muka dan sunscreen bukanlah barang mewah atau tanda hedonisme. Itu adalah kebutuhan medis dasar. 

“Aku cuma mau bilang, anak KIP Kuliah itu juga berhak glowing. Kami nggak mau jerawatan,” kata dia. “Apalagi perkara membeli skincare, menjaga kebersihan tubuh adalah hak asasi manusia, bukan keistimewaan orang kaya saja.”

Sari mengaku, benar ada penyalahgunaan dana beasiswa. Ia mengaku sering melihat KIP Kuliah yang salah sasaran. Namin, yang ingin ia tegaskan, menjadi penerima bantuan pemerintah tidak lantas membuat seseorang harus menjadi objek yang harus terlihat kumal, miskin atau merana setiap saat.

“Kami juga punya hak terlihat bahagia,” pungkasnya.

Iklan

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2026 oleh

Tags: kartu indonesia pintarkipkmahasiswa kip kuliahmahasiswa penerima beasiswamahasiswa ptnnominal KIP Kuliahpilihan redaksiPTNsyarat KIP KuliahUang saku KIP Kuliah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO
Urban

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO
Sehari-hari

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO
Esai

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
Atmosfer kompetitif di Campus League 2026 – Basketball Regional Samarinda Season 1 MOJOK.CO

Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung

11 Mei 2026
modus kekerasan seksual.MOJOK.CO

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.