Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Maret 2026
A A
mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO

ilustrasi - dihujat karena punya iPhone padahal mahasiswa KIP Kuliah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Penerima KIP Kuliah dianggap sebagai mahasiswa yang beruntung. Hidupnya enak, mendapat uang beasiswa dari negara. Anggapan ini pula yang pada akhirnya bikin stigma bahwa mereka tidak boleh foya-foya. Harus terlihat miskin dan menderita.

***

Hampir setiap semester, selalu ada pemandangan yang berulang di media sosial. Di akun-akun menfess kampus, sering muncul postingan yang menampilkan seorang mahasiswa sedang memegang mengerjakan tugas di coffee shop atau memakai sepatu yang lumayan bagus. 

Keterangan fotonya biasanya bernada sinis: “Katanya anak KIP Kuliah, kok nongkrong di kafe? Kok sepatunya bagus? Bantuan pemerintah salah sasaran nih!”

Kira-kira begitu isinya.

Banyak orang mendadak menjadi “polisi moral”. Mereka menuntut penerima bantuan KIP Kuliah untuk tampil miskin, merana, dan menderita. Seolah-olah, menjadi miskin berarti kehilangan hak untuk terlihat rapi atau sekadar duduk di kedai kopi.

Memang benar, penyaluran KIP Kuliah wajib dikawal agar tepat sasaran sesuai amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Dana dari negara mutlak harus jatuh ke tangan mahasiswa yang benar-benar memiliki keterbatasan ekonomi. 

Namun, di balik ekspektasi publik yang seolah mengharuskan penerimanya tampil lusuh dan merana setiap saat, nyatanya ada “strategi bertahan hidup” yang sering kali kejam dan jarang dipahami oleh orang luar.

Mahasiswa KIP Kuliah dianggap “harap” ngopi di coffee shop

Sari (21), seorang mahasiswi di salah satu kampus negeri di Jogja, mengaku pernah menjadi korban sindiran teman sekelasnya. Temannya, yang masuk lewat jalur reguler, menyindir Sari karena sering terlihat mengerjakan tugas di sebuah kafe dan memesan kopi seharga Rp30 ribu

Sindirannya tajam. Sari dianggap menghamburkan uang negara untuk gaya hidup.

“Kayak seolah-olah yang boleh ngopi itu cuma mahasiswa kayak. Seolah-olah lambung orang miskin itu nggak boleh kena kopi kafe,” ujarnya kesal, saat ditemui Mojok, Jumat (6/3/2026) malam.

Padahal, kenyataannya jauh dari kata pamer. Kos-kosan Sari ukurannya sangat kecil dan tidak punya fasilitas Wi-Fi. Sementara itu, ia membutuhkan ruang yang nyaman serta jaringan internet buat mengunduh bahan-bahan skripsinya. 

Alhasil, kopi seharga Rp30 ribu caranya self-reward sekaligus numpang Wi-Fi cepat dan AC selama berjam-jam untuk mengerjakan tugas akhir.

Uang beasiswa kecil, harus kerja part time buat bisa self-reward

Jika kita melihat data resmi, tuduhan bahwa Sari memakai uang negara untuk nongkrong itu secara matematis sebenarnya kurang masuk akal. Sesuai aturan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), bantuan biaya hidup KIP Kuliah dibagi menjadi lima klaster. 

Iklan

Di kota besar seperti tempat Sari kuliah (Klaster 2), bantuan yang cair adalah Rp800 hingga Rp950 ribu per bulan. Uang ini sudah harus terpotong Rp350 ribu untuk membayar kos.

Artinya, sisa uang jajan bulanan Sari, tak lebih dari Rp600 ribu. Jika dibagi 30 hari saja, jatah makan Sari hanya Rp20 ribu per hari. 

“Boro-boro buat nongkrong, untuk makan sehat tiga kali sehari saja susah, megap-megap,” ungkapnya.

Lalu, dari mana uang kopi Sari? Nyatanya, sehari-hari Sari bekerja part-time sebagai penjaga kedai selama lima hari seminggu dari sore hingga tengah malam. Kopi yang ia minum di kafe itu, kata dia, murni dari hasil keringatnya sendiri. 

Ia bekerja agar tidak dikucilkan dari pergaulan kampus sekaligus self-reward maupun healing setelah melewati hari yang berat.

“Bayangin, mau foya-foya aja kudu kerja dulu. Lantas, di mana letak kayanya?”

Sering asam lambung karena uang beasiswa telat cair 

Selain dituduh hedon, mahasiswa KIP Kuliah juga sering dianggap punya “hidup enak”. Banyak mahasiswa reguler yang pusing membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) tiap semester merasa iri, mengira anak KIP hidupnya tenang karena biaya kuliah sudah ditanggung negara.

Di satu sisi, realitas ini harus diakui terjadi. Namun, tak bisa dipukul rata begitu saja.

Bagi Dika (21), yang kerap mendengar stigma itu, hanya bisa tertawa getir. Alih-alih hidup enak, mahasiswa penerima KIP Kuliah di salah satu PTN Jogja ini mengaku asam lambungnya sering kumat. 

Penyebabnya? Ia harus makan mi instan dicampur nasi berhari-hari pada awal semester.

“Faktanya, dan ini jarang diketahui publik, dana KIP Kuliah sering telat cair. Uang saku itu nggak dibagikan per bulan, tapi dirapel per semester,” ujarnya. 

“Tapi kan karena proses birokrasi dari pusat ke kampus yang panjang, dana ini sering baru turun satu hingga dua bulan setelah perkuliahan dimulai.”

Baca halaman selanjutnya…

“Kami juga punya hak terlihat bahagia,”

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2026 oleh

Tags: kartu indonesia pintarkipkmahasiswa kip kuliahmahasiswa penerima beasiswamahasiswa ptnnominal KIP Kuliahpilihan redaksiPTNsyarat KIP KuliahUang saku KIP Kuliah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Catatan

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia
Edumojok

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

iPhone 6 dan 7 lebih diminati gen Z

iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru

20 April 2026
Penyesalan pasang WiFi di rumah MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali “Merusak” Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP

17 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.