Meninggalkan kampung halaman sudah menjadi fenomena biasa ketika ingin melanjutkan kuliah. Namun, meninggalkan negara asal seperti yang dilakukan WNA Malaysia ini memerlukan motivasi lebih, meskipun ternyata alasannya adalah rasa penasaran berkuliah S2 di Prodi PAUD di PTN seperti UNJ karena bertemu salah satu dosen yang “unik”.
Pilih melanjutkan S2 PAUD di UNJ daripada Malaysia
Siti Syarah binti Saifudin (Syara) melalui perjalanan dari Kuala Lumpur, Malaysia, ke Jakarta, Indonesia, untuk melanjutkan pendidikan magister (S2). Ia tak hanya memilih meninggalkan kampung halaman, tetapi negaranya demi berkuliah di UNJ.
Padahal, sistem pendidikan di Malaysia telah mencapai standar internasional dan menjadikannya salah satu pilihan terbaik di Asia Tenggara. Misal, Universiti Malaya (UM) menempati peringkat 60 dunia, sedangkan Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Malaysia masuk dalam 150 besar dunia.
Namun, Syara memilih untuk meninggalkan kesempatan di negara asalnya demi berkuliah di UNJ. Meski tercatat, UNJ termasuk dalam peringkat 351-400 dunia dalam bidang pendidikan pada QS World University Rankings by Subject 2026.
Menurut Syara, pengalaman berkuliah yang dicarinya bukan sekadar untuk melanjutkan pendidikan. Melainkan, ia mencoba mencari pengalaman baru yang tidak didapatkan sebelumnya. Alasan ini mendorongnya untuk melanjutkan S2 di Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (FIP UNJ).
Syara telah menyelesaikan pendidikan diploma hingga sarjana (S1) pada bidang yang sama di Malaysia. Keputusannya melanjutkan untuk menekuni pendidikan anak usia dini didasarkan pada kecintaannya terhadap dunia tersebut. Sementara itu, melanjutkan S2 ke Indonesia diinspirasi oleh salah seorang dosen di Malaysia yang pernah ditemuinya.
Dosen tersebut merupakan alumnus UNJ.
Dirinya bercerita, dosen ini memiliki cara mengajar dan wawasan yang unik. Hal ini membuatnya berpikir bahwa kualitas lulusan UNJ, yang menjadi almamater dosen tersebut.serupa.
Maka, ia memutuskan untuk membuktikan langsung melalui pengalamannya sendiri.
“Dari cara beliau mengajar dan wawasannya, saya melihat kualitas UNJ yang sangat unik. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak saya datang langsung untuk merasakannya sendiri?” kata dia, dikutip dari laman UNJ, Selasa (21/4/2026).

WNA Malaysia kuliah S2 dalam bahasa Indonesia tidak jadi masalah
Setelah berkuliah di UNJ, Syara mengatakan, ekspektasinya terpenuhi. Ia dapat melihat nilai “unik” dari kedalaman perspektif dan pengalaman para dosen yang mumpuni.
“Pengalaman belajar di sini luar biasa. Kita benar-benar bisa melihat jam terbang dan kepakaran dosen-dosen. Itu yang membuat saya yakin bahwa keputusan ini sangat tepat,” kata dia.
Terpenuhinya harapan awal ini mempermudah WNA Malaysia ini dalam beradaptasi. Ia mengaku memang kesulitan karena perkuliahan dilangsungkan dalam bahasa Indonesia, sedang dirinya berasal dari Malaysia.
Namun, kendala tersebut masih teratasi. Ia mengaku, bisa berbahasa Indonesia, meski dengan logat Malaysia yang kental. Begitu pula selama perkuliahan, dirinya tidak mengalami kendala berarti sebab diberikan kelonggaran mengerjakan tugas dalam bahasa Inggris.
“Tantangan terbesar tentu bahasa. Walaupun saya bisa berbahasa Indonesia, logat Malaysia saya masih kental,” kata dia.

Di sisi lain, perbedaan ini menciptakan kedekatan antara Syara dan anak-anak dari berbagai Taman Kanak-Kanak yang dikunjunginya sebagai mahasiswa PAUD. Dalam kunjungan ini, logat khas Melayu membuatnya lebih akrab dengan anak-anak, bahkan dirinya dipanggil dengan sebutan khusus “Kak Ros” yang merupakan karakter serial animasi populer, Upin dan Ipin, asal Malaysia.
“Setiap mereka memanggil ‘Kak Ros’, saya merasa sangat diterima. I win dekat situ,” kata dia.
Temukan rumah kedua melalui kesempatan kuliah di Indonesia
Kesempatan untuk berkuliah di UNJ memberikan Syara tak hanya pengalaman berbeda, tetapi juga sebuah kehidupan baru. Ia mengatakan tidak pernah merasa sendirian selama berada jauh dari keluarga.
Memang, tidak jarang dirinya merasakan rindu pada negara asalnya, Malaysia.

Namun di luar itu, Syara tidak penah merasa kesepian atau kesulitan selama berkuliah di salah satu PTN yang terletak di Jakarta ini. Ia mengaku, kedekatan dengan orang-orang yang berada dalam lingkup perkuliahannya membuatnya merasa seperti berada di rumah sendiri.
Syara menyebutnya, rumah kedua.
Menurut dia, UNJ telah menjadi ruang tempatnya tumbuh, belajar, dan menemukan keluarga baru sebagai mahasiswa internasional. “Saya tidak pernah merasa asing. Semua sangat suportif,” kata dia.
“Teman-teman, dosen, dan seluruh civitas akademika membuat saya merasa berada di tengah keluarga sendiri,” tambah dia.
Berkat kemudahan ini, perempuan asal Malaysia ini berhasil menuntaskan S2 PAUD UNJ. Ia kini menyandang gelar sebagai Magister Pendidikan setelah melalui wisuda pada 13 April 2026 lalu.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














